Tradisi Katam Qur’an Malam 27 Ramadan di Madiun Tetap Semarak Meski Diguyur Hujan
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 58
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Madiun tak menyurutkan semangat warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, dalam menggelar tradisi Katam Qur’an pada malam ke-27 Ramadan, Senin (16/3/2026).
Tradisi tahunan yang berlangsung di Musola Kendi Al Jabar itu tetap berjalan meriah. Anak-anak, remaja, hingga orang tua tumpah ruah mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari doa bersama hingga arak-arakan simbolis sebagai wujud syukur setelah menuntaskan bacaan Al-Qur’an selama bulan suci.
Meski cuaca kurang bersahabat sejak sore, antusiasme warga tak surut. Mereka tetap hadir membawa berbagai hiasan dan perlengkapan tradisi, menciptakan suasana hangat di tengah guyuran hujan.
“Walaupun hujan tidak reda, alhamdulillah warga tetap antusias. Ini sudah jadi tradisi setiap tahun sebagai bentuk syukur setelah anak-anak dan warga khatam Al-Qur’an,” ujar salah satu warga, Budi.
Tradisi Katam Qur’an ini bukan sekadar seremoni penutup Ramadan. Bagi warga setempat, kegiatan tersebut menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat solidaritas sosial. Seluruh elemen masyarakat terlibat, saling membantu demi memastikan acara tetap berlangsung.
Menurut Budi, gotong royong menjadi kunci utama keberlangsungan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
“Selain sebagai bentuk syukur, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan. Warga saling membantu agar tradisi ini terus berjalan setiap tahun,” katanya.
Pelaksanaan tradisi pada malam ke-27 Ramadan juga memiliki makna tersendiri. Malam tersebut diyakini sebagai salah satu waktu istimewa di bulan Ramadan, sehingga momentum khataman Al-Qur’an terasa lebih khidmat.
Warga pun berharap tradisi Katam Qur’an di Musola Kendi Al Jabar tetap lestari di tengah perubahan zaman. Selain menjaga nilai religius, kegiatan ini dinilai penting untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini kepada generasi muda.
Di tengah hujan yang turun tanpa henti, semangat warga menjadi bukti bahwa tradisi dan nilai kebersamaan tetap hidup, bahkan dalam kondisi yang tak selalu ideal. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez







