Harga Bahan Impor Melonjak, Industri Kulit Magetan Kian Tertekan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 55
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Pelaku industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tengah menghadapi tekanan berat seiring kenaikan harga bahan baku impor. Situasi ini terjadi saat kondisi pasar masih cenderung lesu, sehingga memperberat beban produksi yang terus meningkat.
Lonjakan harga terutama terjadi pada bahan pembantu, seperti krom, zat pewarna, dan pelembut kulit, yang naik sekitar 20 hingga 50 persen. Kenaikan juga terjadi pada bahan plastik yang bahkan mencapai dua kali lipat atau sekitar 100 persen lebih.
Sembunyikan kutipan teksKetua Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia (APKI) Magetan, Basuki, mengungkapkan tingginya ketergantungan terhadap bahan impor membuat industri sulit menghindari dampak kenaikan tersebut. “Kenaikan paling terasa ada di bahan pembantu, karena hampir seluruhnya masih bergantung pada impor,” ujarnya saat ditemui di lokasi usaha.
Meningkatnya harga bahan baku berimbas langsung pada biaya produksi. Namun, pelaku usaha belum dapat serta-merta menaikkan harga jual. Kondisi pasar yang belum stabil membuat mereka harus menahan harga agar tidak semakin menurunkan minat beli konsumen.
“Secara hitungan memang seharusnya harga jual ikut naik. Tapi karena pasar masih lesu, kami memilih menahan. Kalau dipaksakan, dikhawatirkan pembeli justru berkurang,” jelas Basuki.
Namun demikian, pelaku usaha mengingatkan bahwa tekanan terhadap industri bisa semakin besar apabila kenaikan harga bahan baku dan kondisi pasar yang lemah terus berlangsung dalam waktu dekat.
Meski berada dalam tekanan, pelaku industri tetap berupaya mempertahankan usaha mereka. Mereka meyakini produk berbahan kulit masih memiliki daya tarik tersendiri dan belum mudah tergantikan oleh bahan lain.
“Produk kulit itu punya karakter khusus, jadi tetap ada pasarnya,” tambahnya. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





