Terjepit Harga Minyak Goreng, Pengrajin Lempeng Magetan Kurangi Isi dan Naikkan Harga Demi Bertahan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 54
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Kenaikan harga minyak goreng curah kembali menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, para pengrajin kerupuk nasi atau lempeng mulai merasakan dampak signifikan akibat lonjakan biaya produksi yang terus meningkat.
Harga minyak goreng curah yang sebelumnya berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per liter, kini merangkak naik menjadi Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per liter. Kenaikan sekitar Rp3 ribu per liter tersebut langsung memukul pelaku usaha kecil, terutama yang bergantung pada penggunaan minyak dalam jumlah besar.
Di Kelurahan Sukowinangun, salah satu pengrajin lempeng, Rutinah (50), mengaku usahanya mulai terdampak. Selain minyak goreng, kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik kemasan turut memperberat biaya produksi. Kondisi ini berimbas pada penurunan aktivitas pemasaran.
“Pemasaran jadi agak berkurang, agak sepi,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Untuk menjaga kelangsungan usaha, Rutinah terpaksa mengambil langkah penyesuaian. Ia menaikkan harga jual produknya dari Rp25 ribu menjadi Rp27 ribu per 150 biji. Bahkan, dalam kondisi tertentu, jumlah isi produk dikurangi agar harga tetap terjangkau bagi konsumen.
“Kalau dinaikkan harganya, ya jumlahnya dikurangi,” katanya.

Dalam satu kali produksi, Rutinah membutuhkan sekitar 40 liter minyak goreng untuk mengolah hingga 100 kilogram bahan baku. Meski pasokan minyak masih tersedia di pasaran, lonjakan harga menjadi kendala utama yang sulit diantisipasi.
Dampak kenaikan harga juga mulai terlihat pada sisi penjualan. Produk lempeng yang selama ini dipasarkan tidak hanya di Magetan, tetapi juga ke luar daerah seperti Solo dan Madiun, kini mengalami penurunan permintaan.
“Dulu stabil, sekarang mulai turun,” ungkapnya.
Penurunan daya beli konsumen membuat pelaku usaha berada dalam posisi dilematis: menaikkan harga dengan risiko kehilangan pelanggan, atau bertahan dengan margin keuntungan yang semakin menipis. Rutinah berharap harga minyak goreng dapat segera kembali stabil agar usahanya tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.
“Harapannya ya bisa kembali normal,” ucapnya.
Kondisi ini menunjukkan tingginya kerentanan UMKM terhadap fluktuasi harga bahan pokok. Tanpa langkah intervensi yang tepat, usaha kecil seperti pengrajin lempeng berpotensi semakin tertekan di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





