Intervensi Pasar Telur Mulai Dijalankan, Peternak Nilai Belum Menyentuh Akar Masalah
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 57
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan — Pemerintah Kabupaten Magetan bergerak cepat merespons anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak dengan menyiapkan skema penyerapan produksi. Kebijakan ini mendapat apresiasi dari para peternak yang sebelumnya mengeluhkan ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan pasar.
Perwakilan peternak telur Magetan, Surohman, menyampaikan terima kasih atas respons cepat pemerintah daerah yang dinilai terbuka terhadap aspirasi peternak. Menurutnya, berbagai keluhan yang disampaikan telah ditindaklanjuti melalui sejumlah solusi konkret.
“Pemerintah daerah sudah menerima kami dengan baik dan memberikan solusi, terutama terkait penyerapan telur serta kerja sama dengan sejumlah pihak,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan masih ada persoalan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, seperti distribusi bahan baku pakan ternak yang turut memengaruhi biaya produksi.
Selain itu, Surohman menyoroti pentingnya pembenahan data peternak secara menyeluruh. Menurutnya, ketiadaan data yang akurat menjadi salah satu penyebab terjadinya kelebihan pasokan (over supply) di pasaran.
“Ke depan, harus ada data riil terkait jumlah peternak, populasi ayam, hingga produksi telur. Dengan data yang valid, keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar bisa dihitung secara tepat,” katanya.
Sementara itu, Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti menjelaskan, anjloknya harga telur dipicu oleh melimpahnya produksi yang tidak diimbangi serapan pasar. Kondisi tersebut sempat mendorong aksi pembagian telur gratis oleh peternak pada 6 Mei lalu.

Ia menyebutkan, harga telur yang seharusnya mengacu pada Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram, kini turun drastis menjadi sekitar Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogram di tingkat peternak.
“Setelah dilakukan musyawarah bersama, kami sepakat mengambil langkah untuk meningkatkan serapan telur agar tidak terjadi penumpukan produksi,” jelasnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Magetan mengimbau Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membeli telur langsung dari peternak. Selain itu, kerja sama juga dilakukan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memasukkan telur sebagai menu rutin.
“SPPG di Magetan sudah sepakat menggunakan telur minimal tiga kali dalam seminggu. Ini diharapkan bisa membantu menyerap produksi peternak,” tambahnya.
Di sisi lain, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Magetan, Dyah Putri Kustia Dewi, mengatakan pihaknya tengah melakukan evaluasi distribusi pasokan telur, khususnya terkait keterlibatan seluruh pemasok lokal.
Ia mengungkapkan, saat ini sebagian besar SPPG masih menyerap pasokan dari wilayah Madiun dan sekitarnya. Namun, pihaknya akan melakukan verifikasi ulang agar distribusi lebih merata.
“Kami akan kroscek kembali data pemasok agar penyerapan bisa lebih optimal. Arahan saat ini, penggunaan telur ditingkatkan hingga tiga kali dalam seminggu sampai harga kembali stabil,” ujarnya.
Dyah menambahkan, implementasi kebijakan tersebut sudah mulai dijalankan secara bertahap sejak pekan ini, dengan penyesuaian frekuensi konsumsi telur sesuai hari operasional layanan.
Langkah terpadu antara pemerintah daerah, peternak, dan lembaga terkait ini diharapkan mampu menekan kelebihan pasokan sekaligus mengembalikan harga telur yang lebih menguntungkan bagi peternak. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





