Puja Bhakti Waisak di Vihara Giri Bhanda Sukhavati Madiun, Momentum Memaknai Jalan Kebajikan
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 60
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Perayaan Hari Raya Waisak menjadi momen penuh makna bagi umat Buddha di Kota Madiun. Bertempat di Vihara Giri Bhanda Sukhavati Jalan Anggrek Nomor 11, Kota Madiun, sebanyak 50 umat Buddha mengikuti rangkaian puja bhakti pada Minggu (31/5/2026). Ini sebagai bentuk penghormatan dan refleksi spiritual dalam memperingati Waisak ke-2570 tahun Buddhis atau bertepatan dengan tahun 2026 Masehi.
Pemimpin Puja Bakti, P.Md. Samar Sudharno menjelaskan bahwa pelaksanaan puja bakti menjadi inti perayaan Waisak yang dilakukan pada pagi hari dengan menghadirkan seorang samanera atau calon bikku dari Batu, Malang, yakni Samanera Balakaro yang memandu jalannya rangkaian ibadah.
Dalam memaknai Waisak tahun ini, Samar Sudharno menyampaikan bahwa tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri” mengajak umat Buddha tidak sekadar memahami ajaran secara teori, tetapi mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan pentingnya penerapan Jalan Mulia Berunsur Delapan terutama dalam aspek pandangan benar, pikiran benar, dan ucapan benar. Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi saat ini, kemampuan berbicara secara jujur, sopan, tepat waktu, dan tidak menyakiti orang lain menjadi nilai yang perlu terus dijaga.
“Berbicara benar itu penting. Saat ini orang sering berbicara tanpa filter, bahkan kejujuran kadang dianggap tidak penting. Padahal ucapan yang baik dan jujur menjadi bagian dari kehidupan bermoral,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan harapan bagi umat Buddha dan masyarakat Kota Madiun agar terus menumbuhkan semangat berbuat baik tanpa melihat latar belakang agama maupun status sosial.
Menurutnya, perbuatan baik merupakan bagian penting dari kehidupan manusia karena nilai kebajikan itulah yang akan menjadi bekal paling bermakna dalam kehidupan.
“Berbuat baik itu hukumnya wajib. Karena semua yang kita miliki dalam bentuk materi dan yang lainnya, itu hanya bisa dinikmati dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Pada sisi ritual, puja bakti juga mencakup penghormatan kepada Buddha Gotama yang mencapai penerangan sempurna 2570 tahun lalu, dilanjutkan dengan permohonan Tisarana dan Pancasila Buddhis sebagai komitmen moral umat Buddha.
Pancasila Buddhis berisi lima latihan kemoralan, yakni menghindari membunuh, mencuri, berbuat asusila, berkata bohong, serta menghindari konsumsi yang menyebabkan hilangnya kesadaran. Nilai-nilai tersebut diharapkan terus ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.
“Lima latihan kemoralan itulah yang menjadi kewajiban seluruh umat Buddha di mana saja untuk selalu ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kadar kehidupan ini menjadi lebih meningkat. Bahasa saya, hidup kita menjadi lebih hidup,” pungkas P.Md Samar Sudharno.
Perayaan Waisak di Kota Madiun pun tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai kebajikan, kepedulian, dan kontribusi positif bagi masyarakat luas. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





