BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Madiun Raya Lebih Panjang, Warga Diminta Hemat Air
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 76
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di wilayah Madiun Raya akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penguatan monsun Australia yang membawa massa udara kering serta potensi kemunculan fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun BMKG Nganjuk, Setiyaris, mengatakan hingga akhir Juni cuaca di Madiun Raya akan didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan.
“Hingga akhir bulan ini cuaca akan didominasi cerah hingga cerah berawan,” ujar Setiyaris, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, peluang terbentuknya El Niño tahun ini berada pada kisaran 50 hingga 80 persen dengan intensitas lemah hingga moderat. Fenomena tersebut berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Setiyaris menjelaskan, saat puncak musim kemarau, suatu wilayah berpotensi mengalami periode tanpa hujan selama 20 hingga 60 hari berturut-turut.
“Normalnya kemarau itu enam bulan, tetapi tahun ini bisa lebih panjang karena El Niño menghambat masuknya musim hujan atau monsun Asia,” katanya.
Akibatnya, awal musim hujan yang biasanya terjadi pada November berpotensi mundur hingga Desember bahkan Januari tahun berikutnya.
Kondisi tersebut juga diperkirakan memicu peningkatan suhu udara pada siang hari serta berkurangnya debit air untuk kebutuhan irigasi pertanian.
Meski demikian, Setiyaris menegaskan musim kemarau tidak berarti hujan akan hilang sepenuhnya. Hujan lokal dengan durasi singkat masih berpotensi terjadi, terutama di kawasan dataran tinggi.
“Hujan lokal berdurasi singkat masih berpotensi terjadi akibat pemanasan permukaan di kawasan dataran tinggi seperti lereng Gunung Wilis,” jelasnya.
Menghadapi potensi kemarau panjang, BMKG mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air bersih dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak kekeringan.
Petani juga disarankan menyesuaikan pola tanam dengan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Selain itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan karena risiko kebakaran akan meningkat seiring mengeringnya vegetasi.
“Kami juga meminta warga tidak membakar sampah atau lahan sembarangan, karena vegetasi yang kering membuat api sangat mudah meluas dan memicu kebakaran,” tandasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





