Ribuan Warga Padati Kirab Pusaka Grebeg Suro, Buceng Purak Jadi Rebutan
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 53
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Kirab pusaka dan pawai lintas sejarah dalam rangkaian Grebeg Suro 2026 di Ponorogo berlangsung meriah, Senin sore (15/6/2026). Ribuan masyarakat memadati sepanjang rute kirab dari kawasan Batoro Katong di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan menuju pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo. Antusiasme warga yang membludak membuat suasana sepanjang jalur kirab bak lautan manusia.
Dalam prosesi tersebut, tiga pusaka utama dikirab, yakni Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, dan Sabuk Angkin Cinde Puspita. Arak-arakan juga diikuti jajaran Pemerintah Kabupaten Ponorogo serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengaku bersyukur atas tingginya antusiasme masyarakat yang hadir dalam agenda tahunan tersebut.
“Saya mewakili Pemerintah Kabupaten Ponorogo mengucapkan terima kasih. Hari ini sepertinya lebih ramai dibanding tahun sebelumnya, benar-benar lautan manusia. Mohon maaf jika masih ada kekurangan, kami sudah berusaha memberikan yang terbaik. Intinya, ini adalah upaya nguri-uri budaya yang luar biasa dan harus terus kita lestarikan setiap tahun,” ujarnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Bunda Rita itu, penyelenggaraan Grebeg Suro tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Kehadiran ribuan pengunjung dinilai mampu menggerakkan sektor usaha, terutama pelaku UMKM.
“Alhamdulillah dengan adanya kegiatan ini, roda ekonomi di Ponorogo ikut bergerak. Banyak pelaku usaha yang mendapatkan manfaat,” tambahnya.
Selain kirab pusaka, masyarakat juga antusias mengikuti tradisi perebutan Buceng Purak, yakni gunungan yang berisi aneka hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan. Sesaat setelah didoakan, warga langsung berebut isi buceng yang diyakini membawa berkah.
Suhartatik, warga Kecamatan Slahung, mengaku senang berhasil mendapatkan sejumlah sayuran dari buceng tersebut. Ia menyebut hasil bumi yang diperolehnya akan dimasak untuk keluarganya.
“Tadi dapat buah sama sayuran. Nanti buat masak di rumah, sayurnya dioseng. Semoga membawa berkah dan rezeki yang lebih lancar,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Andin Putri. Ia berhasil mendapatkan pare, gambas, dan terong setelah ikut berebut isi buceng bersama ratusan warga lainnya.
“Dapat pare, gambas, dan terong. Alhamdulillah buat dimasak. Tadi ikut rebutan karena ingin ngalap berkah, semoga rezeki semakin lancar,” katanya.
Usai prosesi kirab, rangkaian acara dilanjutkan dengan jamasan pusaka atau pencucian pusaka sebagai bentuk penghormatan terhadap peninggalan sejarah Kabupaten Ponorogo. Setelah dijamasi, pusaka-pusaka tersebut kembali disimpan di Pringgitan, sebutan untuk rumah dinas Bupati Ponorogo.
Kirab pusaka dan pawai lintas sejarah menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan dalam perayaan Grebeg Suro setiap tahunnya. Selain sarat nilai budaya dan sejarah, kegiatan ini juga menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung ke Bumi Reog. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





