Minggu, 8 Nov 2026
Trending Tags

Puluhan Tahun Menjaga Larung Sesaji, Amanah Keluarga Pelarung Telaga Ngebel Terus Berlanjut

  • account_circle Ega Patria
  • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
  • visibility 239
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
prosesi pelarungan buceng atau sesaji ke tengah Telaga Ngebel.

Sinergia | Ponorogo – Kemeriahan Larung Sesaji Telaga Ngebel yang setiap tahun menjadi magnet wisata dalam rangka Grebeg Suro menyimpan kisah pengabdian panjang dari sebuah keluarga yang selama puluhan tahun setia menjaga tradisi tersebut.

Di balik prosesi pelarungan buceng atau sesaji ke tengah Telaga Ngebel, terdapat sosok Sakun (69), warga Kecamatan Ngebel, yang sejak tahun 1992 dipercaya menjadi pelarung sekaligus pendorong sesaji. Hingga kini, amanah tersebut masih dijalankannya dan mulai diwariskan kepada generasi berikutnya.

Saat ditemui sebelum prosesi Larung Sesaji, Selasa (16/6/2026), Sakun mengaku tidak semua orang bisa menjalankan tugas tersebut. Selain harus memiliki kemampuan berenang yang baik, seorang pelarung juga dituntut memahami nilai-nilai budaya dan tradisi yang telah diwariskan para leluhur.

“Saya memang cinta budaya sejak kecil. Sejak 1992 sudah dipercaya mendorong sesaji ini. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dijalani, termasuk pamitan dan menjalankan tradisi yang diwariskan leluhur,” ujar Sakun.

Ayah dua anak itu mengisahkan, dirinya pertama kali menjalankan tugas sebagai pelarung saat berusia sekitar 35 tahun. Saat itu, tokoh masyarakat bersama pemerintah desa dan pemerintah kecamatan menunjuk dirinya untuk mengemban tugas tersebut ketika tradisi larung sesaji mulai dipusatkan menjadi satu kegiatan bersama masyarakat sekitar Telaga Ngebel.

Sejak saat itu, Sakun nyaris tak pernah absen menjalankan tugasnya. Selama lebih dari tiga dekade, ia menjadi sosok yang mengantarkan sesaji menuju titik pelarungan di tengah telaga.

Namun seiring bertambahnya usia, amanah tersebut kini mulai diteruskan kepada anak keduanya, Agus Harianto. Pria yang sejak kecil akrab dengan berbagai kegiatan budaya itu mengaku telah dipersiapkan sang ayah untuk melanjutkan tradisi keluarga.

“Pendorong buceng atau sesaji bukan orang sembarangan. Dari dulu yang dipercaya adalah keluarga kami. Ini sudah menjadi amanah yang diwariskan dari leluhur,” kata Agus.

Image Not Found
Agus Harianto, Penerus pelarung telaga ngebel (foto : ega )

Menurut Agus, tugas sebagai pelarung tidaklah ringan. Selain memahami tata cara tradisi, kondisi fisik juga harus dipersiapkan secara matang karena buceng yang dibawa ke tengah telaga memiliki bobot puluhan kilogram dan harus didorong menggunakan rakit bambu sederhana.

“Kalau mendekati pelaksanaan biasanya saya rutin latihan berenang. Sudah sekitar sebulan ini latihan, biasanya sore sampai menjelang magrib,” ujarnya.

Bagi Agus, tugas tersebut bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, ia memandang peran pelarung sesaji sebagai bentuk pengabdian untuk menjaga identitas budaya masyarakat Ngebel agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Ini bukan hanya soal mendorong sesaji ke tengah telaga. Kami ingin tradisi ini tetap lestari dan bisa diteruskan ke generasi berikutnya,” tuturnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Ngebel, Hartono, menjelaskan tradisi Larung Sesaji yang dikenal masyarakat saat ini bermula pada tahun 1992. Kala itu, para tokoh masyarakat bersama pemerintah kecamatan berinisiatif menyatukan berbagai ritual menyambut bulan Suro yang sebelumnya dilaksanakan secara terpisah di delapan desa sekitar Telaga Ngebel.

“Dulu upacara adat itu dilaksanakan sendiri-sendiri. Di Ngebel ada delapan desa. Kemudian dikumpulkan oleh camat saat itu dan disepakati untuk dijadikan satu kegiatan bersama. Sejak itulah tradisi ini dirumuskan dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat hingga menjadi seperti sekarang,” jelas Hartono.

Pada masa awal penyelenggaraan, seluruh kebutuhan acara ditanggung secara swadaya oleh masyarakat. Warga dari masing-masing desa membawa tumpeng dan hasil bumi, kemudian mengikuti kirab dengan berjalan kaki mengelilingi kawasan telaga sebelum sesaji dilarung ke tengah perairan.

Lebih dari tiga dekade berlalu, Larung Sesaji Telaga Ngebel kini berkembang menjadi agenda budaya dan wisata berskala nasional yang mampu menarik ribuan pengunjung setiap tahun. Namun di balik kemegahan acara tersebut, terdapat dedikasi keluarga pelarung yang terus menjaga tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.

Di tangan Sakun dan Agus, amanah menjaga warisan budaya itu terus berlanjut, memastikan Larung Sesaji Telaga Ngebel tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Ponorogo untuk generasi mendatang.(ega)

Bagikan
  • Penulis: Ega Patria
  • Editor: Buyung

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cerita Penjual Kopi Di Ponorogo Berhasil Naik Haji Dari Hasil Menabung

    Cerita Penjual Kopi Di Ponorogo Berhasil Naik Haji Dari Hasil Menabung

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 380
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Kisah inspiratif datang dari seorang penjual kopi di Ponorogo, Jawa Timur. Berbekal tekad dan konsistensi menabung selama bertahun-tahun, Wahyudi Gecol (61) akhirnya berhasil mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji bersama sang istri tahun ini. Wahyudi, warga Jalan Menur, Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman, telah menekuni usaha berjualan kopi sejak 2004. Dari usaha sederhana […]

    Bagikan
  • Ratusan Warga Ponorogo Bersihkan Makam Jelang Ramadhan photo_camera 3

    Ratusan Warga Ponorogo Bersihkan Makam Jelang Ramadhan

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 363
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, ratusan warga di wilayah Ponorogo, Jawa Timur, menggelar tradisi bersih-bersih makam. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus menciptakan kenyamanan bagi para peziarah. Seperti yang terlihat di Kelurahan Tonatan, Kecamatan Ponorogo, pada Jumat (13/2/2026) pagi. Puluhan warga bersama perangkat kelurahan bergotong […]

    Bagikan
  • Terekam CCTV, Tragedi di Perlintasan Bancong, Pria di Madiun Tewas Disambar KA Jayakarta

    Terekam CCTV, Tragedi di Perlintasan Bancong, Pria di Madiun Tewas Disambar KA Jayakarta

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 480
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Seorang pria tewas setelah tertabrak Kereta Api (KA) Jayakarta di perlintasan Desa Bancong, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Kamis (12/2/2026) sekitar pukul 15.55 WIB. Insiden tragis tersebut terekam kamera pengawas (CCTV) dan berlangsung dalam hitungan detik. Korban diketahui bernama Sugeng Hariadi (35), warga Dusun Pehrambak, Desa Bancong. Saat kejadian, KA Jayakarta melaju […]

    Bagikan
  • DLH Madiun Uji Kualitas Air untuk Penuhi Syarat Akreditasi Laboratorium Lingkungan

    DLH Madiun Uji Kualitas Air untuk Penuhi Syarat Akreditasi Laboratorium Lingkungan

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Madiun melakukan pengambilan sampel air di sejumlah aliran sungai sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaliabu pada Senin (02/09/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pemenuhan syarat akreditasi bagi laboratorium lingkungan yang dikelola UPTD DLH setempat. Kepala DLH Kabupaten Madiun, Muhammad Zahrowi, menjelaskan uji kualitas air […]

    Bagikan
  • Dua Truk Bertabrakan di Ngawi, Muatan Sapi Berserakan dan Empat Orang Luka-Luka

    Dua Truk Bertabrakan di Ngawi, Muatan Sapi Berserakan dan Empat Orang Luka-Luka

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 549
    • 0Komentar

    Sinergia | Ngawi – Kecelakaan lalu lintas melibatkan dua truk terjadi di Jalan Raya Ngawi–Karangjati, tepatnya di Desa Padas, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi, Jumat (13/2/2026) sekitar pukul 05.15 WIB. Benturan keras antara truk pengangkut sapi dan truk bermuatan kain perca itu menyebabkan empat orang terluka serta menimbulkan kemacetan panjang di jalur utama tersebut. Kecelakaan yang […]

    Bagikan
  • PAD Kota Madiun Tembus Rp 103 Miliar, Optimistis Capai Target Akhir Tahun

    PAD Kota Madiun Tembus Rp 103 Miliar, Optimistis Capai Target Akhir Tahun

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Kota Madiun menunjukkan kinerja ekonomi yang solid melalui capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hingga mendekati akhir Agustus 2025, PAD yang berhasil terkumpul mencapai Rp 103 miliar atau 74,71 persen dari target Rp 138 miliar. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Madiun, Jariyanto, menyampaikan bahwa realisasi tersebut menjadi kabar positif. “Tren […]

    Bagikan
expand_less