Berita Terkini
Trending Tags

Puluhan Tahun Menjaga Larung Sesaji, Amanah Keluarga Pelarung Telaga Ngebel Terus Berlanjut

  • account_circle Ega Patria
  • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
  • visibility 177
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
prosesi pelarungan buceng atau sesaji ke tengah Telaga Ngebel.

Sinergia | Ponorogo – Kemeriahan Larung Sesaji Telaga Ngebel yang setiap tahun menjadi magnet wisata dalam rangka Grebeg Suro menyimpan kisah pengabdian panjang dari sebuah keluarga yang selama puluhan tahun setia menjaga tradisi tersebut.

Di balik prosesi pelarungan buceng atau sesaji ke tengah Telaga Ngebel, terdapat sosok Sakun (69), warga Kecamatan Ngebel, yang sejak tahun 1992 dipercaya menjadi pelarung sekaligus pendorong sesaji. Hingga kini, amanah tersebut masih dijalankannya dan mulai diwariskan kepada generasi berikutnya.

Saat ditemui sebelum prosesi Larung Sesaji, Selasa (16/6/2026), Sakun mengaku tidak semua orang bisa menjalankan tugas tersebut. Selain harus memiliki kemampuan berenang yang baik, seorang pelarung juga dituntut memahami nilai-nilai budaya dan tradisi yang telah diwariskan para leluhur.

“Saya memang cinta budaya sejak kecil. Sejak 1992 sudah dipercaya mendorong sesaji ini. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dijalani, termasuk pamitan dan menjalankan tradisi yang diwariskan leluhur,” ujar Sakun.

Ayah dua anak itu mengisahkan, dirinya pertama kali menjalankan tugas sebagai pelarung saat berusia sekitar 35 tahun. Saat itu, tokoh masyarakat bersama pemerintah desa dan pemerintah kecamatan menunjuk dirinya untuk mengemban tugas tersebut ketika tradisi larung sesaji mulai dipusatkan menjadi satu kegiatan bersama masyarakat sekitar Telaga Ngebel.

Sejak saat itu, Sakun nyaris tak pernah absen menjalankan tugasnya. Selama lebih dari tiga dekade, ia menjadi sosok yang mengantarkan sesaji menuju titik pelarungan di tengah telaga.

Namun seiring bertambahnya usia, amanah tersebut kini mulai diteruskan kepada anak keduanya, Agus Harianto. Pria yang sejak kecil akrab dengan berbagai kegiatan budaya itu mengaku telah dipersiapkan sang ayah untuk melanjutkan tradisi keluarga.

“Pendorong buceng atau sesaji bukan orang sembarangan. Dari dulu yang dipercaya adalah keluarga kami. Ini sudah menjadi amanah yang diwariskan dari leluhur,” kata Agus.

Image Not Found
Agus Harianto, Penerus pelarung telaga ngebel (foto : ega )

Menurut Agus, tugas sebagai pelarung tidaklah ringan. Selain memahami tata cara tradisi, kondisi fisik juga harus dipersiapkan secara matang karena buceng yang dibawa ke tengah telaga memiliki bobot puluhan kilogram dan harus didorong menggunakan rakit bambu sederhana.

“Kalau mendekati pelaksanaan biasanya saya rutin latihan berenang. Sudah sekitar sebulan ini latihan, biasanya sore sampai menjelang magrib,” ujarnya.

Bagi Agus, tugas tersebut bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, ia memandang peran pelarung sesaji sebagai bentuk pengabdian untuk menjaga identitas budaya masyarakat Ngebel agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Ini bukan hanya soal mendorong sesaji ke tengah telaga. Kami ingin tradisi ini tetap lestari dan bisa diteruskan ke generasi berikutnya,” tuturnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Ngebel, Hartono, menjelaskan tradisi Larung Sesaji yang dikenal masyarakat saat ini bermula pada tahun 1992. Kala itu, para tokoh masyarakat bersama pemerintah kecamatan berinisiatif menyatukan berbagai ritual menyambut bulan Suro yang sebelumnya dilaksanakan secara terpisah di delapan desa sekitar Telaga Ngebel.

“Dulu upacara adat itu dilaksanakan sendiri-sendiri. Di Ngebel ada delapan desa. Kemudian dikumpulkan oleh camat saat itu dan disepakati untuk dijadikan satu kegiatan bersama. Sejak itulah tradisi ini dirumuskan dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat hingga menjadi seperti sekarang,” jelas Hartono.

Pada masa awal penyelenggaraan, seluruh kebutuhan acara ditanggung secara swadaya oleh masyarakat. Warga dari masing-masing desa membawa tumpeng dan hasil bumi, kemudian mengikuti kirab dengan berjalan kaki mengelilingi kawasan telaga sebelum sesaji dilarung ke tengah perairan.

Lebih dari tiga dekade berlalu, Larung Sesaji Telaga Ngebel kini berkembang menjadi agenda budaya dan wisata berskala nasional yang mampu menarik ribuan pengunjung setiap tahun. Namun di balik kemegahan acara tersebut, terdapat dedikasi keluarga pelarung yang terus menjaga tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.

Di tangan Sakun dan Agus, amanah menjaga warisan budaya itu terus berlanjut, memastikan Larung Sesaji Telaga Ngebel tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Ponorogo untuk generasi mendatang.(ega)

Bagikan
  • Penulis: Ega Patria
  • Editor: Buyung

Rekomendasi Untuk Anda

  • APBD Magetan 2025 Surplus, Sisakan SILPA Rp135 Miliar

    APBD Magetan 2025 Surplus, Sisakan SILPA Rp135 Miliar

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Pemerintah Kabupaten Magetan menutup tahun anggaran 2025 dengan capaian surplus anggaran dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) yang cukup besar. Dalam laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 2025, Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti menyampaikan bahwa realisasi pendapatan daerah mencapai Rp2,07 triliun, sementara realisasi belanja dan transfer tercatat sebesar Rp2,04 triliun. Dari capaian tersebut, […]

    Bagikan
  • Pasutri Tewas di Dalam Kamar, Diduga Dibunuh Anaknya Sendiri

    Pasutri Tewas di Dalam Kamar, Diduga Dibunuh Anaknya Sendiri

    • calendar_month Senin, 22 Sep 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Warga Dukuh Sedandang, Desa Pomahan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo digegerkan dengan tewasnya pasangan suami istri, Kaseno dan Sarilah, di dalam rumah mereka pada Senin (22/09/2025) siang. Ketua RT setempat, Jarno, mengatakan jenazah pasutri tersebut pertama kali ditemukan oleh anaknya sendiri yang curiga ketika hendak berkunjung. Namun malah dihadang oleh adiknya di […]

    Bagikan
  • BKD Magetan Tunggu Pemeriksaan Dikpora Terkait Laporan PMI Terhadap Guru PPPK

    BKD Magetan Tunggu Pemeriksaan Dikpora Terkait Laporan PMI Terhadap Guru PPPK

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan — Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten (BKPSDM) Magetan belum mengambil tindakan terhadap NS, guru PPPK di salah satu SMP Negeri di Magetan yang dilaporkan seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Ngawi berinisial RW. Kepala BKPSDM Magetan Masruri mengatakan, laporan RW masih berada pada tahap awal. Penanganan selanjutnya akan dikoordinasikan […]

    Bagikan
  • Desil Warga Bisa Naik meski Kondisi Ekonomi Tak Berubah, BPS Madiun Jelaskan Penyebabnya

    Desil Warga Bisa Naik meski Kondisi Ekonomi Tak Berubah, BPS Madiun Jelaskan Penyebabnya

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Posisi desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak selalu mencerminkan perubahan kondisi ekonomi seseorang secara langsung. Pergeseran peringkat bisa terjadi karena perubahan kondisi ekonomi masyarakat lain yang masuk dalam pemeringkatan yang sama. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat penerima bantuan sosial (bansos) khawatir. Mereka waswas jika desilnya naik, status sebagai […]

    Bagikan
  • Janin Ditemukan Di Bawah Kasur Warga Ngebel, Polisi Selidiki Penyebab Kematian

    Janin Ditemukan Di Bawah Kasur Warga Ngebel, Polisi Selidiki Penyebab Kematian

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Warga Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, digegerkan dengan penemuan jenazah janin yang terbungkus plastik dan disimpan di bawah kasur sebuah rumah di Desa Pupus, Kecamatan Ngebel, Kamis (16/4/2026) dini hari. Janin tersebut ditemukan di rumah seorang perempuan berinisial T (40). Penemuan ini bermula saat yang bersangkutan menjalani perawatan di RSUD dr Harjono […]

    Bagikan
  • Desil Warga Kota Madiun Tiba-Tiba Berubah, Ini Penyebab dan Cara Mengajukan Perubahan Data

    Desil Warga Kota Madiun Tiba-Tiba Berubah, Ini Penyebab dan Cara Mengajukan Perubahan Data

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Sinergia  | Kota Madiun — Perubahan desil masyarakat di Kota Madiun memicu kebingungan dan keluhan warga, terutama mereka yang merasa posisi desil tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebenarnya. Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun kini menindaklanjuti persoalan tersebut melalui pemutakhiran dan verifikasi data. Hal itu ditegaskan Plt Wali Kota Madiun […]

    Bagikan
expand_less