Tradisi Tari Ikan Kutuk Hidupkan Warisan Mataram Kuno di Petirtaan Dewi Sri Simbatan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 64
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Suara gamelan mengalun di antara rindangnya pepohonan saat puluhan warga berkumpul di kawasan Petirtaan Dewi Sri, Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Jumat Pahing bulan Suro. Di tengah prosesi bersih desa yang telah berlangsung turun-temurun, perhatian masyarakat tertuju pada ritual unik penarikan ikan kutuk atau ikan gabus yang hanya dapat dijumpai di situs bersejarah tersebut.
Tradisi yang diwariskan leluhur itu kembali digelar sebagai bagian dari rangkaian Bersih Desa Simbatan. Selain menjadi wujud syukur masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi upaya menjaga eksistensi Petirtaan Dewi Sri yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-10 Masehi.
Juru pelihara Petirtaan Dewi Sri, Sumiran, mengatakan ritual bersih desa selalu dilaksanakan setiap tahun dan tidak pernah terputus meski sempat berada di masa pandemi.
“Setiap bulan Suro tepat Jumat Pahing masyarakat Simbatan wajib melaksanakan bersih desa di Petirtaan Dewi Sri. Bahkan saat pandemi pun tradisi ini tetap dilakukan meskipun dengan keterbatasan,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Menurut Sumiran, salah satu prosesi yang paling ditunggu masyarakat adalah penarikan ikan kutuk dari dalam petirtaan. Ikan tersebut kemudian ditarikan dengan iringan gamelan dan waranggana dalam ritual yang telah diwariskan sejak zaman nenek moyang.
Keberadaan ikan kutuk di petirtaan juga memiliki nilai tersendiri bagi warga. Selama bertahun-tahun, masyarakat meyakini ikan tersebut sebagai bagian dari situs yang harus dihormati sehingga tidak diambil secara sembarangan.
Selain tradisi budaya, Petirtaan Dewi Sri juga menyimpan nilai sejarah penting. Situs yang dikenal masyarakat sebagai Candi Simbatan itu berada di atas sumber mata air alami yang hingga kini terus mengalir sepanjang tahun.
Sumiran menjelaskan, debit air di petirtaan bahkan sering dijadikan acuan warga untuk memantau kondisi musim kemarau maupun penghujan. Meski saat kemarau panjang, mata air di lokasi tersebut tidak pernah benar-benar kering.
Keunikan tradisi dan sejarah Petirtaan Dewi Sri menarik perhatian banyak pengunjung. Salah satunya Tasya Hasnabilla Khonitatun Hafiza yang sengaja datang untuk menyaksikan langsung prosesi bersih desa.

“Yang menarik di sini adalah Tari Ikan Kutuk. Ikan yang hidup di dalam petirtaan diangkat lalu ditarikan sebagai bagian dari ritual adat. Tradisi seperti ini jarang ditemukan di tempat lain,” katanya.
Selain atraksi budaya, Tasya menilai kawasan petirtaan memiliki suasana yang nyaman dan mudah dijangkau pengunjung. Menurutnya, keberadaan situs bersejarah tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin mengenal warisan budaya Magetan.
Pemerintah Kabupaten Magetan pun terus mendorong pelestarian tradisi dan situs Petirtaan Dewi Sri. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Magetan, Suwito, menegaskan bahwa tradisi bersih desa harus terus dijaga agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan zaman.
“Yang terpenting tradisi ini jangan sampai putus. Nilai-nilai yang diwariskan leluhur harus tetap diteruskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen pelestarian, Disbudpar Magetan saat ini mengusulkan tradisi Bersih Desa Petirtaan Dewi Sri menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia. Proses verifikasi telah dilakukan oleh tim dari kementerian dan lembaga pelestarian budaya.
Menurut Suwito, pengakuan sebagai WBTB akan memperkuat perlindungan terhadap tradisi sekaligus meningkatkan perhatian pemerintah terhadap keberadaan Petirtaan Dewi Sri sebagai salah satu aset budaya penting di Magetan.
Tak hanya melestarikan tradisi, pemerintah juga berupaya menjaga keaslian situs yang di dalamnya terdapat berbagai peninggalan bersejarah, mulai dari arca, struktur bata kuno hingga artefak yang menjadi bukti keberadaan peradaban masa Mataram Kuno di wilayah Magetan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Petirtaan Dewi Sri Simbatan membuktikan bahwa warisan sejarah dan tradisi leluhur masih memiliki ruang hidup di tengah masyarakat. Melalui ritual Bersih Desa dan Tari Ikan Kutuk, warga Simbatan tidak hanya menjaga sebuah situs kuno, tetapi juga merawat identitas budaya yang telah bertahan selama berabad-abad. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





