Berita Terkini
Trending Tags

Candi Sadon Magetan, Jejak Peradaban Hindu yang Tetap Disakralkan dan Menyimpan Beragam Kisah

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 56
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Candi Sadon, situs Hindu kuno di lereng Gunung Lawu. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Di balik hamparan perkampungan di Dusun Sadon, Desa Cepoko, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, berdiri sebuah situs bersejarah yang menyimpan jejak panjang peradaban Hindu di lereng Gunung Lawu. Situs yang dikenal sebagai Candi Sadon atau Candi Reog itu hingga kini tidak hanya menjadi objek kajian sejarah dan arkeologi, tetapi juga masih dianggap sakral oleh sebagian masyarakat setempat.

Meski bangunannya tidak lagi utuh dan hanya menyisakan susunan batu andesit serta sejumlah artefak kuno, Candi Sadon diyakini memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban Hindu di wilayah Mataraman. Sejumlah kajian menyebut situs tersebut berasal dari masa peralihan kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur. Namun, terdapat pula pendapat yang mengaitkannya dengan masa Kerajaan Majapahit hingga era Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.

Juru Pelihara Candi Sadon, Sarnu, mengatakan keberadaan situs tersebut telah ada sejak masa kerajaan Hindu dan diperkirakan masih digunakan hingga periode akhir Majapahit. “Era Majapahit terakhir, tapi sebelum itu sudah ada candi ini,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Keberadaan Candi Sadon telah lama menarik perhatian para peneliti. Situs ini pertama kali diketahui masyarakat setelah ditemukan kembali dalam kondisi tertimbun tanah. Puluhan batu andesit yang diduga merupakan bagian bangunan candi kemudian digali dan ditata ulang sehingga membentuk kompleks situs seperti yang terlihat saat ini.

Menurut Sarnu, sebagian besar struktur bangunan diduga masih berada di bawah permukaan tanah. “Candi ini diperkirakan baru sepertiga saja yang terlihat, lainnya masih terkubur,” katanya.

Dugaan tersebut pernah diperkuat melalui kegiatan ekskavasi yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan. Namun penggalian tidak dilanjutkan karena kondisi batu-batu yang ditemukan telah mengalami kerusakan.

“Ada temuan saat penggalian, tetapi kemudian ditimbun lagi. Ekskavasinya dibatalkan,” jelasnya.

Salah satu daya tarik utama Candi Sadon adalah keberadaan dua arca Kalamakara yang menjadi ikon situs tersebut. Bentuknya menyerupai wajah raksasa dengan karakter mirip kepala harimau pada Dhadhak Merak dalam kesenian Reog Ponorogo.

Karena itulah masyarakat lebih akrab menyebut situs ini sebagai Candi Reog. “Kalau Kalamakara ini bentuknya seperti barongan reog,” ujar Sarnu.

Selain Kalamakara, di kompleks candi juga ditemukan berbagai artefak bernilai sejarah seperti arca naga, batu bertulis, umpak atau fondasi bangunan, antefik sebagai ornamen sudut candi, yoni sebagai alas lingga, serta relief Tantri yang berisi kisah-kisah binatang yang sarat pesan moral.

Temuan yoni, lingga, dan arca Nandi berbentuk sapi semakin menguatkan dugaan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat pemujaan bercorak Hindu Siwaistik pada masa lampau.

Tidak jauh dari kompleks utama terdapat lokasi terpisah yang menyimpan arca Nandi, sapi suci yang dalam ajaran Hindu merupakan wahana Dewa Siwa. Di sekitar lokasi itu juga terdapat sejumlah batu yang oleh masyarakat dikenal sebagai Reca Kandang, Reca Pakan, Reca Omben, Reca Capil, dan Reca Cagak yang berkaitan dengan aktivitas penggembalaan sapi.

Sarnu menuturkan, pada sekitar tahun 1985 arca Nandi pernah dipindahkan ke kompleks utama Candi Sadon. Namun tidak lama kemudian warga mengaku mengalami kejadian yang tidak biasa.

“Dulu arca itu sempat dipindah ke sini. Setelah itu ternak sapi milik warga berubah liar. Akhirnya arca tersebut dikembalikan lagi ke tempat semula,” ungkapnya.

Meski cerita tersebut belum pernah dibuktikan secara ilmiah, kisah itu masih menjadi bagian dari tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat sekitar.

Selain memiliki nilai sejarah dan arkeologis, Candi Sadon juga masih memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat. Hingga sekarang, sebagian masyarakat masih mendatangi kawasan situs untuk berdoa atau menyampaikan harapan sebelum menggelar hajatan maupun kegiatan penting lainnya.

“Kalau masyarakat sini tempat ini masih disakralkan. Kalau punya niat atau hajat tertentu biasanya datang ke sini terlebih dahulu,” kata Sarnu.

Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun. Pada bulan Suro, masyarakat juga kerap menggelar selamatan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang ada di kawasan tersebut.

Di luar tradisi yang masih dijalankan warga, berkembang pula berbagai cerita mengenai sosok-sosok yang dipercaya menjadi penjaga kawasan candi. Beberapa nama yang sering disebut masyarakat antara lain Mbah Sikem yang diyakini sebagai tokoh pendiri desa, Haji Sulaiman, serta Dadung Awuk yang dikisahkan sebagai penggembala sapi.

Meski demikian, keberadaan kisah-kisah tersebut lebih dipandang sebagai bagian dari folklor atau tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat dan turut memperkaya nilai budaya situs bersejarah tersebut.

Kini, Candi Sadon menjadi salah satu bukti penting berkembangnya pengaruh Hindu di kawasan lereng Gunung Lawu. Berbagai artefak yang tersisa menunjukkan tingginya nilai seni dan teknologi bangunan pada masanya, sekaligus menyimpan informasi sejarah yang hingga kini masih terus diteliti.

Bagi para arkeolog, situs ini merupakan jejak penting perkembangan kebudayaan Hindu di Jawa Timur. Sementara bagi masyarakat sekitar, Candi Sadon bukan sekadar reruntuhan bangunan kuno, melainkan warisan leluhur yang harus dijaga keberadaannya.

Karena itu, Sarnu mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian situs dan tidak mengambil maupun merusak batu-batu yang ada di kawasan candi.

“Ini warisan sejarah. Harapannya bisa terus dijaga bersama agar tetap lestari dan bisa dipelajari oleh generasi berikutnya,” pungkasnya. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menilik Petirtaan Dewi Sri Simbatan, Jejak Peradaban Mataram Kuno yang Masih Lestari

    Menilik Petirtaan Dewi Sri Simbatan, Jejak Peradaban Mataram Kuno yang Masih Lestari

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Di tengah hamparan persawahan Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, berdiri sebuah situs kuno yang hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Petirtaan Dewi Sri bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga pusat tradisi budaya yang terus diwariskan lintas generasi melalui ritual Bersih Desa dan Tari Ikan Kutuk. Situs yang kerap […]

    Bagikan
  • Seorang Pemotor Meninggal di Jalan Raya Sendangrejo, Motor Rusak Parah

    Seorang Pemotor Meninggal di Jalan Raya Sendangrejo, Motor Rusak Parah

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Seorang pengendara motor bernama Kurniawan Tricahyo ditemukan meninggal dunia di Jalan Raya Desa Sendangrejo, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis (04/09/2025) malam. Tidak jauh dari lokasi kejadian, tampak sebuah sepeda motor matic merk Vario warna hitam bernopol L 6681 PW yang diduga milik korban mengalami kerusakan di bagian bodi […]

    Bagikan
  • Kendalikan Populasi, Pemkot Madiun Gelar Sterilisasi Kucing

    Kendalikan Populasi, Pemkot Madiun Gelar Sterilisasi Kucing

    • calendar_month Sabtu, 11 Okt 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Dalam momentum Hari Hewan Sedunia 2025, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun menggelar program sterilisasi gratis untuk kucing jantan domestik, Jumat (10/10/2025). Kegiatan ini menjadi langkah nyata pemerintah kota dalam mengendalikan populasi kucing liar sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan hewan. Program tersebut menargetkan 100 ekor kucing jantan […]

    Bagikan
  • Jujitsu Ponorogo Kukuhkan Dominasi, Cetak Hat-trick Juara Umum Porprov Jatim 2025

    Jujitsu Ponorogo Kukuhkan Dominasi, Cetak Hat-trick Juara Umum Porprov Jatim 2025

    • calendar_month Selasa, 1 Jul 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Ponorogo – Kontingen Jujitsu Kabupaten Ponorogo kembali membuktikan dominasinya dengan meraih gelar juara umum untuk ketiga kalinya secara beruntun dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025. Bertanding di Malang Raya, para atlet Bumi Reyog sukses mengoleksi sembilan medali, masing-masing tiga emas, tiga perak, dan tiga perunggu. Manajer tim, Wahyu Setiawan, […]

    Bagikan
  • Wamendag Tinjau Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Besar Madiun, Pastikan Stabil Jelang Nataru

    Wamendag Tinjau Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Besar Madiun, Pastikan Stabil Jelang Nataru

    • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Dalam upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri melakukan pemantauan langsung di Pasar Besar Kota Madiun, Senin (17/11/2025). Kunjungan ini turut didampingi Wakil Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun. Dalam kesempatan tersebut, Wamendag berinteraksi dengan para […]

    Bagikan
  • Harga Daging Sapi di Magetan Masih Tinggi Pasca Lebaran, Komoditas Lain Ikut Naik

    Harga Daging Sapi di Magetan Masih Tinggi Pasca Lebaran, Komoditas Lain Ikut Naik

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan — Harga daging sapi di Pasar Sayur Kabupaten Magetan, Jawa Timur, masih tergolong tinggi meski mulai mengalami penurunan pasca Lebaran IdulFitri. Pada hari keempat Lebaran, harga daging sapi tercatat berada di kisaran Rp150 ribu per kilogram, turun Rp10 ribu dari sebelumnya yang sempat menembus lebih dari Rp160 ribu per kilogram. Kenaikan harga […]

    Bagikan
expand_less