Candi Sadon Magetan, Jejak Peradaban Hindu yang Tetap Disakralkan dan Menyimpan Beragam Kisah
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 47
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Di balik hamparan perkampungan di Dusun Sadon, Desa Cepoko, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, berdiri sebuah situs bersejarah yang menyimpan jejak panjang peradaban Hindu di lereng Gunung Lawu. Situs yang dikenal sebagai Candi Sadon atau Candi Reog itu hingga kini tidak hanya menjadi objek kajian sejarah dan arkeologi, tetapi juga masih dianggap sakral oleh sebagian masyarakat setempat.
Meski bangunannya tidak lagi utuh dan hanya menyisakan susunan batu andesit serta sejumlah artefak kuno, Candi Sadon diyakini memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban Hindu di wilayah Mataraman. Sejumlah kajian menyebut situs tersebut berasal dari masa peralihan kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur. Namun, terdapat pula pendapat yang mengaitkannya dengan masa Kerajaan Majapahit hingga era Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.
Juru Pelihara Candi Sadon, Sarnu, mengatakan keberadaan situs tersebut telah ada sejak masa kerajaan Hindu dan diperkirakan masih digunakan hingga periode akhir Majapahit. “Era Majapahit terakhir, tapi sebelum itu sudah ada candi ini,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Keberadaan Candi Sadon telah lama menarik perhatian para peneliti. Situs ini pertama kali diketahui masyarakat setelah ditemukan kembali dalam kondisi tertimbun tanah. Puluhan batu andesit yang diduga merupakan bagian bangunan candi kemudian digali dan ditata ulang sehingga membentuk kompleks situs seperti yang terlihat saat ini.
Menurut Sarnu, sebagian besar struktur bangunan diduga masih berada di bawah permukaan tanah. “Candi ini diperkirakan baru sepertiga saja yang terlihat, lainnya masih terkubur,” katanya.
Dugaan tersebut pernah diperkuat melalui kegiatan ekskavasi yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan. Namun penggalian tidak dilanjutkan karena kondisi batu-batu yang ditemukan telah mengalami kerusakan.
“Ada temuan saat penggalian, tetapi kemudian ditimbun lagi. Ekskavasinya dibatalkan,” jelasnya.
Salah satu daya tarik utama Candi Sadon adalah keberadaan dua arca Kalamakara yang menjadi ikon situs tersebut. Bentuknya menyerupai wajah raksasa dengan karakter mirip kepala harimau pada Dhadhak Merak dalam kesenian Reog Ponorogo.
Karena itulah masyarakat lebih akrab menyebut situs ini sebagai Candi Reog. “Kalau Kalamakara ini bentuknya seperti barongan reog,” ujar Sarnu.
Selain Kalamakara, di kompleks candi juga ditemukan berbagai artefak bernilai sejarah seperti arca naga, batu bertulis, umpak atau fondasi bangunan, antefik sebagai ornamen sudut candi, yoni sebagai alas lingga, serta relief Tantri yang berisi kisah-kisah binatang yang sarat pesan moral.
Temuan yoni, lingga, dan arca Nandi berbentuk sapi semakin menguatkan dugaan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat pemujaan bercorak Hindu Siwaistik pada masa lampau.
Tidak jauh dari kompleks utama terdapat lokasi terpisah yang menyimpan arca Nandi, sapi suci yang dalam ajaran Hindu merupakan wahana Dewa Siwa. Di sekitar lokasi itu juga terdapat sejumlah batu yang oleh masyarakat dikenal sebagai Reca Kandang, Reca Pakan, Reca Omben, Reca Capil, dan Reca Cagak yang berkaitan dengan aktivitas penggembalaan sapi.
Sarnu menuturkan, pada sekitar tahun 1985 arca Nandi pernah dipindahkan ke kompleks utama Candi Sadon. Namun tidak lama kemudian warga mengaku mengalami kejadian yang tidak biasa.
“Dulu arca itu sempat dipindah ke sini. Setelah itu ternak sapi milik warga berubah liar. Akhirnya arca tersebut dikembalikan lagi ke tempat semula,” ungkapnya.
Meski cerita tersebut belum pernah dibuktikan secara ilmiah, kisah itu masih menjadi bagian dari tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat sekitar.
Selain memiliki nilai sejarah dan arkeologis, Candi Sadon juga masih memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat. Hingga sekarang, sebagian masyarakat masih mendatangi kawasan situs untuk berdoa atau menyampaikan harapan sebelum menggelar hajatan maupun kegiatan penting lainnya.
“Kalau masyarakat sini tempat ini masih disakralkan. Kalau punya niat atau hajat tertentu biasanya datang ke sini terlebih dahulu,” kata Sarnu.
Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun. Pada bulan Suro, masyarakat juga kerap menggelar selamatan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang ada di kawasan tersebut.
Di luar tradisi yang masih dijalankan warga, berkembang pula berbagai cerita mengenai sosok-sosok yang dipercaya menjadi penjaga kawasan candi. Beberapa nama yang sering disebut masyarakat antara lain Mbah Sikem yang diyakini sebagai tokoh pendiri desa, Haji Sulaiman, serta Dadung Awuk yang dikisahkan sebagai penggembala sapi.
Meski demikian, keberadaan kisah-kisah tersebut lebih dipandang sebagai bagian dari folklor atau tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat dan turut memperkaya nilai budaya situs bersejarah tersebut.
Kini, Candi Sadon menjadi salah satu bukti penting berkembangnya pengaruh Hindu di kawasan lereng Gunung Lawu. Berbagai artefak yang tersisa menunjukkan tingginya nilai seni dan teknologi bangunan pada masanya, sekaligus menyimpan informasi sejarah yang hingga kini masih terus diteliti.
Bagi para arkeolog, situs ini merupakan jejak penting perkembangan kebudayaan Hindu di Jawa Timur. Sementara bagi masyarakat sekitar, Candi Sadon bukan sekadar reruntuhan bangunan kuno, melainkan warisan leluhur yang harus dijaga keberadaannya.
Karena itu, Sarnu mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian situs dan tidak mengambil maupun merusak batu-batu yang ada di kawasan candi.
“Ini warisan sejarah. Harapannya bisa terus dijaga bersama agar tetap lestari dan bisa dipelajari oleh generasi berikutnya,” pungkasnya. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





