Sekolah Rakyat Ponorogo Titipkan 90 Siswa ke Madiun, Lisdyarita Minta Orang Tua Ikhlas
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 45
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Sebanyak 90 calon siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 5 Ponorogo akan menjalani pendidikan tahun ajaran 2026/2027 di Sekolah Rakyat permanen Madiun. Kebijakan tersebut ditempuh karena pembangunan gedung Sekolah Rakyat di Ponorogo masih berlangsung.
Para siswa dijadwalkan diberangkatkan secara serentak pada 14 Juli mendatang. Selain mengikuti pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), mereka juga akan diperkenalkan dengan lingkungan asrama melalui kegiatan open house. Seluruh biaya transportasi dan akomodasi keberangkatan ditanggung Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama pihak Sekolah Rakyat.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan minat masyarakat terhadap program Sekolah Rakyat cukup tinggi. Namun, pada tahun ajaran pertama ini kuota penerimaan masih terbatas karena sekolah masih berstatus rintisan.
“Program ini luar biasa sehingga tidak semua pendaftar bisa diterima. Semua melalui proses seleksi,” ujarnya.
Ia mengingatkan para siswa agar tidak merasa rendah diri karena bersekolah di Sekolah Rakyat. Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh nama sekolah, melainkan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
“Saya sudah menyampaikan kepada anak-anak, masa depan bukan ditentukan dari di mana kalian belajar, tetapi bagaimana kalian belajar dengan sungguh-sungguh. Saya yakin mereka bisa menjadi anak-anak yang sukses,” katanya.
Lisdyarita juga meminta orang tua memberikan dukungan penuh kepada anak-anaknya selama menjalani pendidikan berasrama. Menurutnya, keikhlasan keluarga menjadi modal penting agar siswa dapat fokus belajar.
“Yang terpenting orang tua ikhlas menitipkan anaknya di Sekolah Rakyat. Kalau sudah ikhlas, anak-anak akan belajar dengan baik dan mempersiapkan masa depannya. Jangan sampai setelah masuk kemudian dibawa pulang lagi,” ujarnya.
Ia mengaku memahami perasaan orang tua yang harus berpisah dengan anak. Namun, menurutnya sistem pendidikan dan pola pengasuhan di Sekolah Rakyat telah dipersiapkan dengan baik sehingga para siswa dapat belajar dengan nyaman.
“Saya juga terharu melihat dedikasi para guru. Mereka bekerja dengan luar biasa untuk mendampingi anak-anak. Bahkan beberapa siswa sudah dipersiapkan mengikuti program hingga ke luar negeri,” tambahnya.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo, Devit Tri Candrawati, menjelaskan pembelajaran di Madiun tidak akan berbeda dengan Sekolah Rakyat lainnya karena menggunakan kurikulum nasional yang sama.
“Di mana pun anak-anak belajar tidak menjadi persoalan. Kurikulum dan metode pembelajaran Sekolah Rakyat berlaku sama di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Menurut Devit, fasilitas di Sekolah Rakyat Madiun telah siap sekitar 90 persen. Ruang kelas, asrama, masjid, hingga aula telah disiapkan untuk menyambut peserta didik baru.
Sebanyak 90 siswa asal Ponorogo akan bergabung dengan sekitar 270 siswa asal Madiun, sehingga total terdapat 360 siswa yang mengikuti pembelajaran di lokasi tersebut. Orang tua tetap diberi kesempatan menjenguk anak sesuai jadwal yang telah ditetapkan pihak sekolah.
Untuk mendampingi siswa selama berada di asrama, Ponorogo juga menugaskan enam wali asuh dan wali asrama yang berdomisili di Madiun. Mereka akan berkoordinasi dengan tenaga pendidik dan guru tamu yang direkrut Pemerintah Kabupaten Madiun.
Salah seorang calon siswa, Sabrina Septianasari, mengaku mantap bergabung dengan Sekolah Rakyat karena ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarganya. Siswi yang sebelumnya bersekolah di MA Miftahul Ulum itu mengetahui informasi program tersebut dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
“Saya ingin tidak membebani ibu dan belajar mandiri. Karena sekolahnya gratis, saya tertarik masuk Sekolah Rakyat. Insyaallah saya siap berangkat ke Madiun,” tuturnya. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





