Madiun Batik Heritage Festival 2026 Jadi Ruang Belajar dan Pelestarian Batik, Libatkan 33 Perajin serta Generasi Muda
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 42
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Ada suasana berbeda di halaman tengah Balai Kota Madiun, Kamis (16/7/2026). Sayup alunan gamelan menyambut setiap pengunjung yang melangkah masuk. Tiang-tiang dan sudut balai kota dihiasi lembaran kain batik hasil karya para perajin serta pelajar Kota Madiun, menghadirkan nuansa budaya yang kental sejak pandangan pertama.
Pemandangan itu menjadi bagian dari Madiun Batik Heritage Festival 2026, kegiatan yang digelar Pemerintah Kota Madiun melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora). Festival ini tak sekadar menjadi ajang pamer karya, tetapi juga ruang belajar bagi masyarakat untuk mengenal proses membatik secara langsung, mulai dari mencanting hingga batik cap.
Tak hanya batik, sejumlah pelaku seni ukir kayu dan perajin wayang turut meramaikan festival sebagai upaya memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat.
Salah satu perajin batik dari Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Sutama, menyambut positif penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi kesempatan memperkenalkan batik Kota Madiun kepada masyarakat yang lebih luas.
“Alhamdulillah, kegiatan seperti ini bisa mengangkat warisan budaya kita, terutama batik, supaya lebih dikenal bahkan mendunia. Harapannya ke depan bisa terus diadakan,” ujarnya.
Dalam festival itu, seluruh perajin batik dari berbagai wilayah di Kota Madiun membawa karya terbaik mereka untuk dipamerkan. Sutama sendiri menampilkan motif andalan Melati Pangongangan, motif yang terinspirasi dari sejarah lokal.
Ia bercerita, motif tersebut lahir dari kisah Nyai Ronje, tokoh yang dipercaya pernah merangkai bunga melati di lingkungan Kadipaten Madiun untuk menyambut tamu kehormatan. Sejak itu, bunga melati menjadi identitas yang melekat pada wilayah Pangongangan dan kemudian diangkat menjadi motif batik khas.
“Batik itu bukan hanya soal menggambar di atas kain, tetapi juga membawa cerita dan budaya yang sudah ada sejak dulu,” katanya.
Perempuan 61 tahun ini mulai membatik sejak mengikuti pelatihan dari pemerintah pada 2014 lalu. Awalnya Ia tidak memiliki dasar membatik sama sekali. Namun setelah mencoba, ia justru menemukan ketertarikan baru.
Menurutnya, membatik bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga melatih kesabaran dan kreativitas.

“Dari mencanting sampai memberi warna itu ada kepuasan tersendiri. Kita bisa menuangkan ide menjadi sebuah motif yang akhirnya menjadi karya,” ungkapnya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda tertarik menekuni batik, mengingat sebagian besar pembatik saat ini sudah berusia senior.
Harapan serupa disampaikan Agus Wijanarko, perajin batik sekaligus wayang dari Sanggar Kayon Krido Kenongo. Baginya, festival ini merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap kerja keras para perajin sekaligus media edukasi bagi masyarakat.
Di lokasi festival, pengunjung dapat mencoba mencanting langsung bersama para pembatik hingga melihat proses pembuatan batik cap. Selain itu, tersedia pula bisa melihat langsung proses kerajinan ukir kayu dan wayang yang memperkenalkan seni tradisi kepada generasi muda.
“Kalau bukan kita yang melestarikan batik dan wayang, siapa lagi. Keduanya sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya, sehingga harus terus kita jaga,” ujarnya.
Agus sendiri mulai mendalami dunia batik saat pandemi COVID-19. Berawal dari mengikuti pelatihan di tingkat kelurahan, ia kini mengembangkan batik dengan ciri khas motif wayang melalui Sanggar Kayon Krido Kenongo.
Menurutnya, semakin banyak pengrajin muda akan semakin besar peluang batik dan wayang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Kami berharap pemerintah tidak berhenti pada satu festival saja, melainkan menghadirkan lebih banyak kegiatan. Utamanya pada peringatan Hari Batik Nasional pada Oktober mendatang. Tentu itu menjadi momen yang bagus untuk terus menjaga dan melestarikan batik maupun seni budaya lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Disbudparpora Kota Madiun Yoga Pratomo mengatakan Madiun Batik Heritage Festival ini melibatkan sekitar 33 perajin dari seluruh Kota Madiun, mulai dari pembatik, pengrajin wayang, hingga pengukir kayu. Selain itu, siswa SD dan SMP yang mengikuti ekstrakurikuler membatik juga dilibatkan sebagai bentuk regenerasi.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya melestarikan batik, tetapi juga menumbuhkan minat dan bakat generasi penerus agar budaya ini terus hidup,” katanya.

Sebagai rangkaian festival, pemerintah juga menggelar lomba desain batik, baik secara manual maupun digital. Karya terbaik nantinya direncanakan menjadi motif batik khas Kota Madiun yang akan digunakan oleh aparatur sipil negara (ASN).
Menurut Yoga, langkah tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah karena membuka peluang bagi para perajin untuk terus berkarya dan memproduksi batik khas Kota Madiun.
“Arahan Pak PLT Wali Kota, setelah ini hasil lomba desain batik itu akan dijadikan batik khas Madiun dan digunakan oleh ASN Kota Madiun. Sehingga perputaran uang, perputaran ekonomi itu akan jalan dari dunia ekraf ini,” pungkasnya.
Di tengah irama gamelan yang mengalun pelan dan deretan kain batik yang menghiasi Balai Kota, festival ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu. Ia hidup melalui tangan-tangan para perajin, dipelajari oleh anak-anak, dan dijaga bersama agar tetap menjadi identitas Kota Madiun di masa depan. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez




