Waduk Bendo Surut, Warga Ngadirojo Manfaatkan Lahan Jadi Area Pertanian musiman
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 41
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo — Surutnya air Waduk Bendo di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dimanfaatkan warga untuk mengolah lahan menjadi area pertanian musiman. Lahan yang sebelumnya terendam air kini ditanami sejumlah komoditas, terutama jagung dan kacang tanah.
Pantauan pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, kawasan hulu Waduk Bendo tampak mengalami penyusutan debit air. Kondisi tersebut membuat hamparan lahan yang sebelumnya berada di bawah genangan mulai terlihat dan dapat dimanfaatkan warga.
Surutnya air waduk disebut telah berlangsung sekitar empat bulan. Selama periode tersebut, sejumlah warga mulai mengolah lahan yang muncul dan menanam tanaman yang dinilai sesuai dengan kondisi tanah.
Salah seorang petani, Mbah Tulus, mengatakan warga memanfaatkan kondisi tersebut karena lahan yang sebelumnya terendam kini dapat digunakan untuk bercocok tanam.

“Karena air surut ya kita manfaatkan. Sebagian besar jagung dan kacang tanah,” ujarnya.
Kacang tanah menjadi salah satu tanaman yang dipilih warga karena relatif cepat dipanen dan memiliki nilai jual. Saat ini, harga kacang tanah di tingkat petani berkisar Rp15 ribu per kilogram dalam kondisi basah. Sementara jagung berada di kisaran Rp6 ribu per kilogram.
Meski memberikan peluang tambahan penghasilan, warga menyadari lahan tersebut bukan merupakan lahan pertanian permanen. Jika debit air Waduk Bendo kembali meningkat, lahan yang saat ini digunakan untuk bercocok tanam berpotensi kembali tergenang.
Surutnya Waduk Bendo juga berdampak terhadap mata pencaharian warga di sekitar waduk. Sebelum air surut, sebagian warga Desa Ngadirojo mengandalkan aktivitas wisata, seperti penyewaan perahu dan jasa untuk wisata memancing.
Namun, kondisi waduk yang telah surut selama sekitar empat bulan membuat aktivitas tersebut tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Warga kemudian beralih memanfaatkan lahan yang muncul untuk kegiatan pertanian.
Agung Margo, salah seorang warga, mengatakan perubahan kondisi waduk membuat sebagian warga yang sebelumnya menjalankan jasa penyewaan perahu kini beralih menjadi petani.
“Dulu warga kalau air masih tinggi ya menyewakan perahu. Sekarang ya banyak menjadi petani,” katanya.
Menurut Agung, perubahan pemanfaatan lahan juga menimbulkan kendala tersendiri, terutama dalam memenuhi kebutuhan air untuk tanaman. Warga harus menggunakan pompa untuk mengambil air dari sungai guna mengairi lahan pertanian.
Meski demikian, bagi warga, pemanfaatan lahan surut menjadi salah satu cara untuk tetap memperoleh penghasilan di tengah berkurangnya aktivitas wisata di kawasan Waduk Bendo. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





