Debit Waduk Dawuhan Menyusut, Ratusan Hektare Sawah di Madiun Kekurangan Air
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 44
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Ratusan hektare lahan sawah di Kabupaten Madiun mulai kekurangan pasokan air setelah volume Waduk Dawuhan di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri, terus menyusut. Kondisi ini terjadi di tengah cuaca panas dan tidak adanya pasokan air dari sungai menuju waduk.
Saat ini, volume air Waduk Dawuhan hanya tersisa sekitar 15 persen atau 520 ribu meter kubik dari total kapasitas mencapai 3,9 juta meter kubik.
Petugas Operasi Waduk Dawuhan, Agung Wirasat, mengatakan penyusutan volume air berlangsung cukup cepat. Selain tidak adanya aliran air masuk, tingginya suhu udara turut mempercepat proses penguapan.
“Untuk penyusutan memang drastis karena untuk inflow air dari atas (sungai ke waduk) sudah kosong. Kemudian juga untuk penguapan cepat sekali, karena memang cuaca sangat panas,” kata Agung, Selasa (8/9/2026).
Minimnya volume air membuat pengelola waduk harus mengurangi debit yang dialirkan untuk kebutuhan irigasi. Saat ini, air yang dikeluarkan dari Waduk Dawuhan hanya sekitar 0,1 meter kubik per detik.
Dengan debit tersebut, pasokan air hanya mampu menjangkau lima desa dengan luas lahan pertanian sekitar 600 hektare untuk memenuhi kebutuhan pengairan pada Masa Tanam (MT) 3.
Padahal, dalam kondisi normal, Waduk Dawuhan mampu mendukung pengairan pertanian di sekitar 10 desa dengan luasan mencapai 12 ribu hektare sawah.Kondisi tersebut membuat distribusi air harus dilakukan secara terbatas agar kebutuhan tanaman padi pada awal masa tanam masih dapat dipenuhi.
Pengelola Waduk Dawuhan memperkirakan pintu air akan ditutup dalam sekitar 10 hari ke depan. Penutupan dilakukan setelah volume air terus turun dan hanya disisakan sekitar 300 ribu meter kubik.
Air tidak akan dikuras hingga benar-benar habis. Sebagian volume sengaja dipertahankan untuk menjaga kondisi fisik tubuh bendungan.
Agung menjelaskan, kondisi bendungan yang terlalu kering berpotensi menimbulkan keretakan hingga kerusakan pada struktur bendungan.

“Prediksi kami di 10 harian ke depan masih akan mengaliri sawah untuk di awal masa tanam saja, untuk tanaman padi. Untuk pemeliharaan tubuh bendungan, karena memang kalau untuk kondisi kering tanpa air, tubuh bendungan itu rawan retak, rawan rusak,” ujarnya.
“Jadi agar suhu di tubuh bendungan tetap aman, kita sisakan volumenya 300 ribu meter kubik itu untuk pemeliharaan tubuh bendungan,” imbuhnya.
Di tengah menyusutnya permukaan air Waduk Dawuhan, kondisi tersebut justru dimanfaatkan sebagian warga sekitar untuk mencari tambahan penghasilan.
Sejumlah warga mengais ikan di area waduk yang mulai menyempit. Sebagian lahan di sekitar waduk yang mengering juga mulai dimanfaatkan untuk menanam padi.
Meski demikian, pengelola memastikan air Waduk Dawuhan tidak akan dikeluarkan hingga benar-benar habis. Volume air tetap disisakan sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi fisik bendungan. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





