Harga Cabai dan Sayuran Naik di Pasar Sayur Magetan, Pedagang Sebut Dampak Kemarau
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 36
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Musim kemarau mulai berdampak terhadap pasokan dan harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Magetan. Di Pasar Sayur Magetan, harga cabai dan beberapa jenis sayuran mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.
Kenaikan paling terasa pada komoditas cabai. Pedagang menyebut harga cabai rawit kini berada di kisaran Rp68.000 hingga Rp72.000 per kilogram. Sebelumnya, harga komoditas tersebut masih berada di kisaran Rp50.000-an per kilogram.
Cabai keriting juga mengalami kenaikan dari sebelumnya sekitar Rp32.000 hingga Rp34.000 per kilogram menjadi sekitar Rp40.000 per kilogram. Sementara cabai besar kini dijual sekitar Rp30.000 per kilogram, naik dari kisaran Rp25.000 hingga Rp28.000.
Pedagang Pasar Sayur Magetan, Asminah, mengatakan kenaikan harga cabai telah terjadi sekitar lima hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan berkurangnya pasokan akibat tanaman cabai terdampak musim kemarau.
“Karena musim kemarau itu cabainya banyak yang kering, jadi tidak jadi (panen),” kata Asminah, Rabu (9/9/2026).
Menurut dia, pasokan cabai ke pasar sebenarnya masih berjalan, tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kondisi normal. Stok di tingkat pedagang masih tersedia dan relatif mencukupi, namun jumlah kiriman yang masuk berkurang. Kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas jual beli. Asminah mengatakan jumlah pembeli cenderung menurun setelah harga cabai mengalami kenaikan.
Selain cabai segar, cabai kering juga tetap diminati konsumen. Harganya saat ini sekitar Rp75.000 per kilogram. Namun, menurut Asminah, konsumen umumnya tidak serta-merta beralih dari cabai segar ke cabai kering karena masing-masing memiliki pelanggan tersendiri. “Yang biasa kering, kering. Yang biasa basah, basah,” ujarnya.
Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas sayuran lainnya. Pedagang Pasar Sayur Magetan, Warmi, menyebut harga labu siam kini mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp5.000 hingga Rp6.000.
Harga tomat juga meningkat dari sekitar Rp5.000 menjadi Rp7.000 per kilogram. Sementara kubis yang sebelumnya sekitar Rp5.000 kini berada di kisaran Rp7.000 per kilogram.

Warmi mengatakan kenaikan harga sayuran tersebut mulai terasa sekitar empat hari terakhir. Selain faktor pasokan, musim kemarau membuat proses produksi dan panen sayuran menjadi lebih sulit.
“Karena musim kemarau ini agak susah untuk panen,” jelas Warmi.
Meski harga naik, permintaan dari konsumen rumah tangga untuk kebutuhan sehari-hari masih relatif normal. Namun, konsumen yang membeli sayuran untuk dijual kembali mulai mengeluhkan kenaikan harga karena dapat memengaruhi margin keuntungan mereka.
Di sisi lain, kenaikan harga cabai juga dirasakan langsung oleh konsumen. Salah seorang pembeli, Jeni Imanta Putri, mengatakan harga cabai yang dibelinya mengalami peningkatan cukup terasa.
Ia mencontohkan, cabai yang sebelumnya dibeli dengan harga sekitar Rp14.000 untuk seperempat kilogram, kini harus ditebus sekitar Rp18.000.
“Lumayan ada kenaikan. Walaupun naik, tetap beli segitu,” kata Jeni.
Cabai tersebut digunakan untuk kebutuhan memasak sehari-hari, termasuk membuat sambal. Meski harga meningkat, Jeni memilih tetap membeli dalam jumlah yang sama karena cabai merupakan kebutuhan rumah tangga yang rutin digunakan. Menurutnya, kenaikan harga tersebut cukup membebani konsumen, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan cabai sebagai bagian dari kebutuhan pangan sehari-hari.
Ia berharap harga cabai dan sayuran kembali normal sehingga tidak terlalu membebani masyarakat. “Harapannya semaksimal mungkin agak turun sedikit, normal seperti biasanya,” ujarnya.
Pedagang pun berharap kondisi pasokan segera membaik. Dengan kembali normalnya produksi dan distribusi komoditas pertanian, harga di tingkat pasar diharapkan dapat lebih stabil sehingga pedagang maupun konsumen sama-sama tidak terbebani. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





