Bupati Madiun Sidak MPLS, Tekankan Sekolah Ramah Anak dan Nol Bullying Sejak Hari Pertama
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 24
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Bupati Madiun Hari Wuryanto memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di Kabupaten Madiun berjalan sesuai ketentuan dan bebas dari praktik perundungan (bullying) maupun perploncoan. Hal itu disampaikan usai meninjau langsung kegiatan MPLS di sejumlah SMP Negeri di wilayah Kecamatan Mejayan dan Saradan, Senin (13/7/2026).
Dalam kunjungannya, Hari Wuryanto memantau secara langsung aktivitas siswa baru selama mengikuti MPLS. Ia memastikan materi yang diberikan bersifat edukatif serta berorientasi pada pembentukan karakter, bukan kegiatan yang mengarah pada kekerasan fisik maupun psikologis.
Menurut Hari, tujuan utama MPLS adalah membantu siswa baru mengenal lingkungan sekolah agar mereka merasa nyaman saat memulai proses belajar.
“Kami mengecek sejumlah sekolah yang melaksanakan MPLS, khususnya SMP Negeri. Anak-anak harus memahami lingkungan sekolah, mulai dari ruang kelas, UKS, ruang guru, ruang kepala sekolah hingga toilet. Dengan begitu mereka lebih mudah beradaptasi dan mengikuti kegiatan belajar,” ujarnya.
Selain mengenalkan fasilitas sekolah, selama sepekan pelaksanaan MPLS siswa juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan, kesehatan, serta kedisiplinan di lingkungan sekolah.

Hari Wur menilai masa awal masuk sekolah menjadi momentum penting untuk membangun karakter peserta didik. Menurutnya, pembinaan sejak dini jauh lebih efektif dibanding memperbaiki perilaku siswa ketika sudah terbentuk.
“Supaya anak-anak paham dan karakter mereka terbentuk sejak awal. Pendidikan karakter harus dimulai sejak hari pertama mereka masuk sekolah,” katanya.
Tak hanya itu, Bupati juga mengingatkan seluruh warga sekolah agar menjadikan MPLS sebagai ruang yang aman dan nyaman bagi siswa baru. Ia menegaskan tidak boleh ada praktik bullying maupun kekerasan dalam bentuk apa pun.
“Semua adalah saudara. Tidak boleh saling melakukan kekerasan karena dampaknya sangat buruk dan bisa merugikan masa depan anak,” tegasnya.
Hari juga menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.
Ia menyebut sekitar 50 persen pembentukan karakter anak berasal dari keluarga, 30 persen dari sekolah, dan sisanya dipengaruhi lingkungan sekitar. Karena itu, komunikasi yang baik antara orang tua dan guru harus terus dibangun.
Untuk mencegah terjadinya bullying, Pemkab Madiun meminta seluruh guru meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa. Jika ditemukan indikasi perundungan, laporan harus segera ditindaklanjuti agar persoalan tidak berkembang menjadi lebih serius.
“Kami terus melakukan pengawasan. Sekarang sudah zamannya teknologi, sehingga jika ada kejadian segera dilaporkan kepada guru melalui orang tua agar bisa cepat ditangani dan tidak berlarut-larut,” pungkas Hari.
Pemkab Madiun berharap pelaksanaan MPLS tahun ini benar-benar menjadi proses adaptasi yang menyenangkan bagi siswa baru sekaligus memperkuat budaya sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk perundungan. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez




