DKPP Madiun Sisir Jeroan Hewan Kurban Idul Adha, Cacing Hati Jadi Ancaman Utama
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 92
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Pemeriksaan hewan kurban di Kabupaten Madiun tak hanya fokus pada daging. Saat proses penyembelihan Idul Adha 2026 berlangsung, petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Madiun mengawasi ketat organ dalam sapi seperti hati, paru-paru, hingga limpa guna mengantisipasi cacing hati dan penyakit berbahaya lainnya.
Petugas DKPP Kabupaten Madiun melakukan pemeriksaan postmortem di sejumlah lokasi penyembelihan hewan kurban, salah satunya di rumah pemotongan hewan Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Rabu (27/5/2026).
Pemeriksaan dilakukan langsung setelah hewan disembelih dengan fokus utama pada organ dalam atau jeroan sapi. Bagian hati menjadi perhatian khusus karena rentan terinfeksi cacing hati yang dapat membahayakan kesehatan.
“Yang kami periksa itu organ dalam seperti jantung, hati, dan paru-paru. Kalau ada perubahan, terutama di hati, langsung kami afkir,” ujar Petugas DKPP Kabupaten Madiun, drh Denny Irawan.
Ia menjelaskan, ciri hati sapi yang sehat biasanya berwarna cerah dengan permukaan halus dan tepian runcing. Sementara hati yang terindikasi cacing hati umumnya mengalami pembengkakan, berwarna pucat, hingga mengeluarkan cairan kuning saat disayat.
“Kalau ada cacing hati biasanya pinggir hati tumpul, ada nodul seperti keju, lalu keluar cairan kuning dan terlihat cacing kecil seperti daun,” katanya.
Meski begitu, hingga pemeriksaan di titik penyembelihan Desa Sidorejo dilakukan, DKPP memastikan belum menemukan adanya kasus cacing hati pada hewan kurban.
“Dari 16 ekor yang kami periksa pagi ini, Alhamdulillah belum ditemukan cacing hati ataupun perubahan organ lainnya,” imbuhnya.
DKPP juga menerjunkan petugas ke seluruh kecamatan di Kabupaten Madiun selama Idul Adha berlangsung. Pemeriksaan diprioritaskan di lokasi penyembelihan dengan jumlah hewan kurban tinggi.
Jika ditemukan organ yang terinfeksi, petugas menyarankan bagian jeroan langsung dibuang dan tidak dikonsumsi. Namun, daging sapi tetap dinyatakan aman selama tidak mengalami gangguan kesehatan.
“Saran kami kalau ada temuan di jeroan, lebih baik diafkir atau dibuang. Tapi dagingnya tetap aman dikonsumsi,” tutup drh Denny.
Sementara itu, jagal sapi di lokasi penyembelihan, Samirin, mengatakan pada hari pertama Idul Adha pihaknya menyembelih 16 ekor sapi. Total hewan kurban yang diproses di lokasi tersebut diperkirakan mencapai 40 ekor selama tiga hari.
“Yang menyembelih di sini kebanyakan warga sekitar Madiun. Mereka memilih di sini karena tidak punya tempat penyembelihan sendiri,” kata Samirin.
Selain melayani penyembelihan Idul Adha, lokasi tersebut juga kerap digunakan warga untuk kebutuhan hajatan dan akikah meski dalam jumlah terbatas. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





