Enam Ruang Kelas SDN Truneng Magetan Rusak, Sekolah Khawatir Ancam Keselamatan Siswa
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 64
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Kondisi bangunan SD Negeri Truneng, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan, memprihatinkan. Enam ruang kelas yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar mengalami kerusakan di sejumlah bagian, mulai dari plafon yang ambrol, atap bocor, hingga rangka atap yang lapuk dan keropos.
Kerusakan tersebut dikhawatirkan membahayakan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik. Pihak sekolah mengaku harus ekstra waspada setiap kali proses pembelajaran berlangsung agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Wakil Kepala SD Negeri Truneng, Heru Nurkhayatin Setiati, mengatakan kondisi bangunan sekolah terus mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Bahkan, belum lama ini plafon sempat jatuh saat jam istirahat ketika siswa sedang bermain di sekitar ruang kelas.

“Plafon sudah mulai ambrol, genteng banyak yang bocor, sementara kayu-kayu kuda-kuda atap sudah lapuk dan keropos. Kami khawatir jika sewaktu-waktu material bangunan jatuh saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan membahayakan anak-anak,” ujarnya.
Bangunan sekolah yang diperkirakan telah berusia lebih dari dua dekade itu terakhir kali mendapatkan rehabilitasi pada 2015–2016. Saat itu, perbaikan hanya mencakup sebagian plafon dan satu bangunan, sehingga enam ruang kelas yang kini digunakan siswa dari kelas I hingga VI kembali mengalami kerusakan seiring bertambahnya usia bangunan.
Selain kerusakan pada atap, dinding setiap ruang kelas juga mulai rapuh. Untuk menjaga kenyamanan belajar, para wali kelas berinisiatif melakukan perbaikan sederhana menggunakan dana pribadi, seperti menutup bagian dinding yang rusak dengan banner maupun bahan lainnya agar ruang belajar tetap terlihat rapi.
Saat ini SD Negeri Truneng memiliki 72 siswa yang didampingi 14 tenaga pendidik dan kependidikan. Meski aktivitas belajar mengajar masih berlangsung normal, pihak sekolah mengaku selalu mengatur dan mengawasi proses pembelajaran dengan lebih hati-hati karena kondisi bangunan dinilai sudah tidak lagi ideal.
Menurut Heru, sekolah telah mengajukan usulan rehabilitasi sejak awal 2026 melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Namun hingga kini belum ada informasi lanjutan mengenai realisasi usulan tersebut.
“Kami berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi SDN Truneng. Rehab gedung sangat dibutuhkan agar proses belajar mengajar berlangsung lebih aman, nyaman, dan mampu mendukung lahirnya peserta didik yang berkualitas,” katanya.
Pihak sekolah berharap rehabilitasi dapat segera direalisasikan mengingat kerusakan yang terjadi tidak hanya mengganggu kenyamanan belajar, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan puluhan siswa yang setiap hari menempati enam ruang kelas tersebut. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez




