Berita Terkini
Trending Tags

Erlangga Pribadi: Marhaen Kini Bukan Lagi Petani, tetapi Pekerja Digital yang Tereksploitasi

  • account_circle kusnanto
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • visibility 108
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Erlangga Pribadi Kusman akademisi Universitas Airlangga (Unair)

Sinergia | Magetan – Konsep Marhaen yang diperkenalkan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dinilai tetap relevan di tengah perubahan zaman. Bedanya, jika pada masa kolonial Marhaen digambarkan sebagai petani kecil yang memiliki alat produksi tetapi tetap hidup dalam kemiskinan, kini sosok tersebut hadir dalam wajah baru: pekerja ekonomi digital yang tetap terjebak dalam ketidakpastian hidup.

Pandangan tersebut disampaikan akademisi Universitas Airlangga (Unair), Erlangga Pribadi Kusman, saat menjadi pembicara dalam Soekarno Talk In yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno.

Dalam forum yang juga menjadi ajang bedah buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z”, Erlangga menjelaskan bahwa pemikiran Bung Karno tidak boleh dipahami sebagai teori yang berhenti pada konteks sejarah kemerdekaan. Sebaliknya, Marhaenisme harus terus diperbarui agar mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.

Menurutnya, kekuatan utama Bung Karno terletak pada kemampuannya membaca realitas sosial secara langsung. Marhaenisme lahir bukan dari ruang akademik semata, melainkan dari pengamatan terhadap kehidupan masyarakat kecil yang mengalami penindasan.

“Bung Karno berpikir secara otentik. Gagasannya lahir dari persoalan konkret yang dialami rakyat Indonesia. Karena itu, Marhaenisme menjadi relevan sebagai metode perjuangan pada zamannya,” ujar Erlangga.

Erlangga menjelaskan bahwa sosok Marhaen pada era modern tidak lagi dapat dipahami secara harfiah sebagai petani kecil. Perubahan struktur ekonomi dan perkembangan teknologi telah melahirkan bentuk-bentuk eksploitasi baru yang dialami pekerja digital maupun pekerja sektor informal.

Ia mencontohkan pengemudi ojek daring, kurir, pekerja lepas (freelancer), hingga pekerja berbasis aplikasi yang menggantungkan penghasilan dari telepon genggam sebagai alat produksi. Menurutnya, mereka memang memiliki sarana kerja sendiri, seperti sepeda motor, telepon seluler, kuota internet, bahkan kendaraan pribadi. Namun kepemilikan alat produksi tersebut tidak otomatis membuat kehidupan mereka lebih sejahtera.

“Marhaen sekarang memiliki alat produksi berupa handphone, sepeda motor, atau akses internet. Tetapi mereka tetap bingung bagaimana memenuhi kebutuhan hidup besok,” katanya.

Bahkan, lanjut Erlangga, perangkat digital yang digunakan untuk mencari nafkah juga menjadi alat pengawasan terhadap pekerja. Melalui sistem aplikasi, algoritma, hingga penilaian pelanggan, aktivitas pekerja dipantau secara terus-menerus sehingga menciptakan bentuk eksploitasi baru yang berbeda dibanding era kolonial.

“Handphone bukan hanya membantu mereka bekerja, tetapi juga mengawasi setiap aktivitas kerjanya. Di situlah bentuk eksploitasi modern berlangsung,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Erlangga menilai tantangan yang dihadapi Generasi Z jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Jika dulu perjuangan rakyat Indonesia berpusat pada kemerdekaan politik dari penjajahan, kini generasi muda harus menghadapi persoalan yang bersifat multidimensi. Mulai dari mahalnya biaya pendidikan, sempitnya lapangan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, hingga krisis lingkungan hidup.

Menurut Erlangga, selama ini anak muda dijanjikan bahwa pendidikan tinggi akan menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun realitas yang terjadi justru menunjukkan banyak lulusan perguruan tinggi tetap kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak. Di sisi lain, biaya pendidikan terus meningkat sehingga tidak semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas.

“Kita dijanjikan bahwa kalau sekolah tinggi hidup akan lebih baik. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Pendidikan semakin mahal, sementara kesempatan kerja juga semakin kompetitif,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut Erlangga, memperlihatkan bahwa persoalan sosial tidak lagi hanya berkaitan dengan kemiskinan, tetapi juga menyangkut ketimpangan kesempatan.

Selain persoalan ekonomi, Erlangga juga menyoroti meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan yang kini menjadi tantangan global. Ia mengatakan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan telah memicu berbagai bencana ekologis di banyak wilayah Indonesia.

Menurutnya, hubungan manusia dengan tanah, hutan, dan lingkungan hidup semakin terancam akibat aktivitas ekonomi yang mengabaikan keberlanjutan. Karena itu, persoalan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pembahasan buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z.

“Krisis iklim bukan hanya persoalan Indonesia. Ini adalah persoalan dunia yang juga harus dibaca melalui perspektif Marhaenisme,” ujarnya.

Ia menilai masyarakat kecil merupakan kelompok yang paling rentan menerima dampak kerusakan lingkungan, mulai dari gagal panen, banjir, kekeringan, hingga menurunnya kualitas hidup.

Melalui buku yang ditulis bersama Rocky Gerung, Erlangga berusaha menawarkan pendekatan baru dalam memahami Marhaenisme. Menurutnya, istilah “dalil baru” bukan berarti mengganti pemikiran Bung Karno, melainkan memperbarui cara menjelaskan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Jika dahulu Bung Karno berbicara mengenai kolonialisme dan kapitalisme dalam bentuk penjajahan fisik, kini bentuk eksploitasi hadir melalui sistem ekonomi global, perkembangan teknologi, hingga ketimpangan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Karena itu, Marhaenisme harus mampu menghadirkan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan Generasi Z.

“Kita harus mencari narasi yang membuat anak muda langsung merasa terhubung ketika mendengar istilah Marhaen. Dari situlah lahir dalil-dalil baru yang kami tawarkan dalam buku ini,” katanya.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami pemikiran Bung Karno secara lebih kontekstual.

Erlangga menegaskan bahwa Marhaenisme tidak boleh dipahami sebagai doktrin politik yang kaku. Sebaliknya, gagasan tersebut merupakan metode berpikir yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Ia mengajak generasi muda untuk membaca realitas sosial secara kritis, kemudian merumuskan solusi berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, cara itulah yang dilakukan Bung Karno ketika menyusun Marhaenisme hampir seabad lalu.

“Yang diwariskan Bung Karno bukan sekadar kumpulan teori. Yang diwariskan adalah cara berpikir, cara membaca persoalan, lalu menghadirkan solusi yang berpihak kepada rakyat,” tegas Erlangga.

Ia berharap diskusi mengenai Marhaenisme tidak berhenti pada forum bedah buku, tetapi berkembang menjadi tradisi intelektual yang mampu melahirkan gagasan-gagasan baru bagi pembangunan Indonesia. Dengan demikian, Marhaenisme tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga tetap hidup sebagai kerangka berpikir dalam menghadapi berbagai tantangan abad ke-21. (kus).

Bagikan
  • Penulis: kusnanto
  • Editor: Krs/Byg

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hari Pers Nasional : TNI dan Media Perkuat Persatuan Bangsa

    Hari Pers Nasional : TNI dan Media Perkuat Persatuan Bangsa

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Di era kemajuan digital informasi saat ini, TNI dan media seakan tak terpisahkan. Keduanya memiliki tugas besar dalam menjaga persatuan dan kesatuan. “TNI dan media memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” kata Kapenrem 081/DSJ Mayor Cpl Eko Sudarto dalam keterangannya, Minggu (9/2/2025). Kolaborasi keduanya dapat […]

    Bagikan
  • DPRD dan Pemkot Madiun Sepakati APBD 2026, Menjaga Kesinambungan Pembangunan

    DPRD dan Pemkot Madiun Sepakati APBD 2026, Menjaga Kesinambungan Pembangunan

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Madiun melaksanakan rapat paripurna pada Kamis (13/11/2025) malam di Gedung Paripurna. Rapat paripurna ini dengan agenda Pengambilan Keputusan yang didahului Pendapat Akhir tentang Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2026. 8 fraksi DPRd Kota Madiun memberikan saran masukan […]

    Bagikan
  • Pelempar Bom Molotov di DPRD Kota Madiun Vical Ardiyansyah Turner Didakwa Pasal 187 KUHP

    Pelempar Bom Molotov di DPRD Kota Madiun Vical Ardiyansyah Turner Didakwa Pasal 187 KUHP

    • calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Kasus pelemparan bom molotov di depan Gedung DPRD Kota Madiun memasuki sidang perdana. Terdakwa Vical putra Ardiyansyah Turner alias Londo menjalani sidang dengan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Kota Madiun, Rabu (12/11/2025). Sidang yang dipimpin Hakim Ketua Rahmi Dwi Astuti tersebut berlangsung sekitar 30 […]

    Bagikan
  • Dishub Kota Madiun Kembali Lelang Pengelolaan Parkir, Berhasilkah ?

    Dishub Kota Madiun Kembali Lelang Pengelolaan Parkir, Berhasilkah ?

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Dinas Perhubungan Kota Madiun tengah berfikir keras terkait persoalan pengelolaan parkir tepi jalan. Beberapa tahun terakhir, proses lelang parkir tepi jalan umum selalu gagal. Sesuai rencana, Dishub bakal kembali melakukan lelang tahun 2026 ini. “Saat ini sedang proses persiapan untukk lelang. Dokumen-dokumen sedang kami siapkan dan koordinasi dengan instansi terkait,” […]

    Bagikan
  • Dukung Ketahanan Pangan, Pemkab Madiun Gencarkan Program “Satu Rumah Satu Pohon”

    Dukung Ketahanan Pangan, Pemkab Madiun Gencarkan Program “Satu Rumah Satu Pohon”

    • calendar_month Kamis, 12 Jun 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Pemerintah Kabupaten Madiun terus mendorong pelaksanaan program nasional “Satu Rumah Satu Pohon” sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. Program ini merupakan inisiatif dari Presiden Republik Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan pangan melalui pemanfaatan lahan pekarangan masyarakat. Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menjelaskan bahwa penanaman pohon produktif seperti […]

    Bagikan
  • SPPG ke-7 Resmi Beroperasi, Wali Kota Maidi Tekankan Evaluasi dan Inovasi Pengolahan Pangan

    SPPG ke-7 Resmi Beroperasi, Wali Kota Maidi Tekankan Evaluasi dan Inovasi Pengolahan Pangan

    • calendar_month Senin, 13 Okt 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Sebanyak tujuh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Madiun kini resmi beroperasi. Terbaru yang berlokasi di Jalan Minak Kuncar, Kelurahan Winongo, Kecamata Manguharjo diresmikan oleh Wali Kota Madiun, Maidi, bersama jajaran Forkopimda, Senin (13/10/2025). Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Maidi menyampaikan bahwa SPPG ke-7 ini memiliki sejumlah peningkatan dibanding […]

    Bagikan
expand_less