Erlangga Pribadi: Marhaen Kini Bukan Lagi Petani, tetapi Pekerja Digital yang Tereksploitasi
- account_circle kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 34
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Konsep Marhaen yang diperkenalkan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dinilai tetap relevan di tengah perubahan zaman. Bedanya, jika pada masa kolonial Marhaen digambarkan sebagai petani kecil yang memiliki alat produksi tetapi tetap hidup dalam kemiskinan, kini sosok tersebut hadir dalam wajah baru: pekerja ekonomi digital yang tetap terjebak dalam ketidakpastian hidup.
Pandangan tersebut disampaikan akademisi Universitas Airlangga (Unair), Erlangga Pribadi Kusman, saat menjadi pembicara dalam Soekarno Talk In yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno.
Dalam forum yang juga menjadi ajang bedah buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z”, Erlangga menjelaskan bahwa pemikiran Bung Karno tidak boleh dipahami sebagai teori yang berhenti pada konteks sejarah kemerdekaan. Sebaliknya, Marhaenisme harus terus diperbarui agar mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Menurutnya, kekuatan utama Bung Karno terletak pada kemampuannya membaca realitas sosial secara langsung. Marhaenisme lahir bukan dari ruang akademik semata, melainkan dari pengamatan terhadap kehidupan masyarakat kecil yang mengalami penindasan.
“Bung Karno berpikir secara otentik. Gagasannya lahir dari persoalan konkret yang dialami rakyat Indonesia. Karena itu, Marhaenisme menjadi relevan sebagai metode perjuangan pada zamannya,” ujar Erlangga.
Erlangga menjelaskan bahwa sosok Marhaen pada era modern tidak lagi dapat dipahami secara harfiah sebagai petani kecil. Perubahan struktur ekonomi dan perkembangan teknologi telah melahirkan bentuk-bentuk eksploitasi baru yang dialami pekerja digital maupun pekerja sektor informal.
Ia mencontohkan pengemudi ojek daring, kurir, pekerja lepas (freelancer), hingga pekerja berbasis aplikasi yang menggantungkan penghasilan dari telepon genggam sebagai alat produksi. Menurutnya, mereka memang memiliki sarana kerja sendiri, seperti sepeda motor, telepon seluler, kuota internet, bahkan kendaraan pribadi. Namun kepemilikan alat produksi tersebut tidak otomatis membuat kehidupan mereka lebih sejahtera.
“Marhaen sekarang memiliki alat produksi berupa handphone, sepeda motor, atau akses internet. Tetapi mereka tetap bingung bagaimana memenuhi kebutuhan hidup besok,” katanya.
Bahkan, lanjut Erlangga, perangkat digital yang digunakan untuk mencari nafkah juga menjadi alat pengawasan terhadap pekerja. Melalui sistem aplikasi, algoritma, hingga penilaian pelanggan, aktivitas pekerja dipantau secara terus-menerus sehingga menciptakan bentuk eksploitasi baru yang berbeda dibanding era kolonial.
“Handphone bukan hanya membantu mereka bekerja, tetapi juga mengawasi setiap aktivitas kerjanya. Di situlah bentuk eksploitasi modern berlangsung,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Erlangga menilai tantangan yang dihadapi Generasi Z jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Jika dulu perjuangan rakyat Indonesia berpusat pada kemerdekaan politik dari penjajahan, kini generasi muda harus menghadapi persoalan yang bersifat multidimensi. Mulai dari mahalnya biaya pendidikan, sempitnya lapangan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, hingga krisis lingkungan hidup.
Menurut Erlangga, selama ini anak muda dijanjikan bahwa pendidikan tinggi akan menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun realitas yang terjadi justru menunjukkan banyak lulusan perguruan tinggi tetap kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak. Di sisi lain, biaya pendidikan terus meningkat sehingga tidak semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas.
“Kita dijanjikan bahwa kalau sekolah tinggi hidup akan lebih baik. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Pendidikan semakin mahal, sementara kesempatan kerja juga semakin kompetitif,” katanya.
Kondisi tersebut, menurut Erlangga, memperlihatkan bahwa persoalan sosial tidak lagi hanya berkaitan dengan kemiskinan, tetapi juga menyangkut ketimpangan kesempatan.
Selain persoalan ekonomi, Erlangga juga menyoroti meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan yang kini menjadi tantangan global. Ia mengatakan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan telah memicu berbagai bencana ekologis di banyak wilayah Indonesia.
Menurutnya, hubungan manusia dengan tanah, hutan, dan lingkungan hidup semakin terancam akibat aktivitas ekonomi yang mengabaikan keberlanjutan. Karena itu, persoalan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pembahasan buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z.
“Krisis iklim bukan hanya persoalan Indonesia. Ini adalah persoalan dunia yang juga harus dibaca melalui perspektif Marhaenisme,” ujarnya.
Ia menilai masyarakat kecil merupakan kelompok yang paling rentan menerima dampak kerusakan lingkungan, mulai dari gagal panen, banjir, kekeringan, hingga menurunnya kualitas hidup.
Melalui buku yang ditulis bersama Rocky Gerung, Erlangga berusaha menawarkan pendekatan baru dalam memahami Marhaenisme. Menurutnya, istilah “dalil baru” bukan berarti mengganti pemikiran Bung Karno, melainkan memperbarui cara menjelaskan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Jika dahulu Bung Karno berbicara mengenai kolonialisme dan kapitalisme dalam bentuk penjajahan fisik, kini bentuk eksploitasi hadir melalui sistem ekonomi global, perkembangan teknologi, hingga ketimpangan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Karena itu, Marhaenisme harus mampu menghadirkan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan Generasi Z.
“Kita harus mencari narasi yang membuat anak muda langsung merasa terhubung ketika mendengar istilah Marhaen. Dari situlah lahir dalil-dalil baru yang kami tawarkan dalam buku ini,” katanya.
Ia berharap buku tersebut dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami pemikiran Bung Karno secara lebih kontekstual.
Erlangga menegaskan bahwa Marhaenisme tidak boleh dipahami sebagai doktrin politik yang kaku. Sebaliknya, gagasan tersebut merupakan metode berpikir yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Ia mengajak generasi muda untuk membaca realitas sosial secara kritis, kemudian merumuskan solusi berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, cara itulah yang dilakukan Bung Karno ketika menyusun Marhaenisme hampir seabad lalu.
“Yang diwariskan Bung Karno bukan sekadar kumpulan teori. Yang diwariskan adalah cara berpikir, cara membaca persoalan, lalu menghadirkan solusi yang berpihak kepada rakyat,” tegas Erlangga.
Ia berharap diskusi mengenai Marhaenisme tidak berhenti pada forum bedah buku, tetapi berkembang menjadi tradisi intelektual yang mampu melahirkan gagasan-gagasan baru bagi pembangunan Indonesia. Dengan demikian, Marhaenisme tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga tetap hidup sebagai kerangka berpikir dalam menghadapi berbagai tantangan abad ke-21. (kus).
- Penulis: kusnanto
- Editor: Krs/Byg





