Gelar Reses di Tanah Kelahiran, Ketua Komisi A DPRD Madiun Terima Keluhan Perihal Krisis Air
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 45
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Dampak musim kemarau dan fenomena El Nino mulai dirasakan warga di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Penyusutan debit sumber mata air membuat masyarakat setempat kesulitan mendapatkan air bersih.
Persoalan tersebut menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan warga dalam kegiatan reses dan serap aspirasi Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Madiun, Purwadi, di Balai Desa Mendak, Minggu (25/10/2026).
Dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 60 warga itu, masyarakat menyampaikan sejumlah kebutuhan mendesak, mulai dari perbaikan infrastruktur jalan desa hingga upaya menjaga ketersediaan air melalui penghijauan dan revitalisasi embung.
Purwadi mengatakan, kondisi jalan di wilayah pegunungan Mendak masih menjadi keluhan warga. Sejumlah ruas jalan dilaporkan rusak dan berlubang, padahal jalur tersebut menjadi akses utama masyarakat menuju fasilitas pendidikan, pasar, hingga layanan kesehatan di wilayah dataran rendah.
“Masyarakat mengharapkan jalan-jalan yang masih berlubang segera diperbaiki. Ini merupakan akses satu-satunya menuju pendidikan, pasar, dan layanan kesehatan,” kata Purwadi.
Selain infrastruktur jalan, persoalan menyusutnya sumber air menjadi perhatian utama warga. Masyarakat mengusulkan penanaman kembali atau penghijauan di lahan-lahan kritis yang berada di sekitar sumber mata air, termasuk kawasan hutan yang dikelola Perhutani maupun kawasan dengan status KHDPK.

Menurut Purwadi, warga memiliki semangat untuk terlibat langsung dalam upaya penghijauan. Karena itu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Madiun maupun Perhutani dapat membantu menyediakan bibit tanaman untuk mendukung kegiatan reboisasi tersebut.
“Inti permasalahannya adalah semakin mengecilnya sumber air di wilayah sekitar Mendak. Masyarakat berkehendak melakukan penanaman kembali atau penghijauan di sekitar sumber. Masyarakat juga siap melaksanakannya,” ujarnya.
Tak hanya penghijauan, warga juga mengusulkan perbaikan jaringan perpipaan air dan revitalisasi embung desa. Selama ini, embung tersebut dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air, termasuk pengairan lahan perkebunan.
Namun, debit air yang masuk ke embung kini semakin kecil. Kondisi itu dipengaruhi kerusakan sejumlah pipa penyalur air dari sumber mata air serta dugaan kebocoran pada embung.
Purwadi menilai, perawatan dan revitalisasi sarana penampungan air tersebut diperlukan sebagai salah satu langkah mengantisipasi kekeringan yang semakin dirasakan warga.
Di luar persoalan infrastruktur dan air bersih, masyarakat juga mengusulkan perbaikan pos keamanan lingkungan (pos kamling). Kalangan pemuda Desa Mendak turut mendorong pelestarian satwa di kawasan setempat melalui rencana penyusunan peraturan desa untuk mencegah perburuan liar.
Usulan tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah dan pihak terkait, sehingga kebutuhan dasar masyarakat di wilayah lereng Wilis dapat terpenuhi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sebagai penopang ketersediaan air.
Sementara itu, warga juga menyampaikan bahwa manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum dirasakan oleh masyarakat Desa Mendak. Aspirasi tersebut menjadi catatan lain dalam kegiatan reses untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan kebutuhan masyarakat. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krz/Diez





