Harga Anjlok Pada Kemarau Panjang, Petani Sayuran Sarangan Magetan Terancam Gagal Panen
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 57
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Kemarau panjang mulai memukul produksi sayuran petani di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Minimnya pasokan air membuat hektaran lahan pertanian kekurangan air hingga menyebabkan tanaman kubis, cabai, bawang prei, dan sawi mengalami kerusakan bahkan mati.
Kondisi tersebut membuat hasil panen petani merosot lebih dari 80 persen. Ironisnya, di tengah produksi yang turun drastis, harga sejumlah komoditas sayuran di tingkat petani justru ikut anjlok.
Petani bawang prei di Sarangan, Kasno, mengatakan sebagian tanaman yang masih bertahan terpaksa diselamatkan dengan cara dipindahkan atau ditanam kembali di lahan yang lebih dekat dengan sumber mata air.
“Yang masih bisa diselamatkan ditanam lagi di dekat sumber air. Bawang prei banyak yang mati, cabai juga rusak,” ujar Kasno.
Menurut petani, kekurangan air mulai dirasakan dalam dua pekan terakhir. Lahan pertanian yang berada di lereng pegunungan membuat petani semakin kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mempertahankan tanaman.
Petani lainnya, Parto Kirun, mengatakan kemarau tidak hanya berdampak terhadap tanaman, tetapi juga memperburuk kondisi ekonomi petani karena harga jual komoditas ikut turun.
“Lahan di lereng pegunungan ini kekurangan air akibat kemarau. Tanaman banyak yang mati dan harga juga turun,” katanya.
Sejumlah tanaman yang sebelumnya diharapkan menjadi sumber pendapatan petani kini tidak dapat dipanen secara optimal. Bawang prei menjadi salah satu komoditas yang mengalami kerusakan cukup parah. Tanaman kubis dan cabai juga banyak yang rusak, sementara sebagian tanaman bahkan mati sebelum memasuki masa panen.

Penurunan produksi tersebut tidak serta-merta membuat harga sayuran di tingkat petani meningkat. Sebaliknya, harga justru mengalami penurunan.
Harga kubis yang sebelumnya sekitar Rp4.000 per kilogram kini hanya sekitar Rp2.000 per kilogram. Bawang prei turun tajam dari Rp20.000 menjadi Rp6.000 per kilogram. Sementara cabai merah keriting turun dari Rp25.000 menjadi Rp18.000 per kilogram.
Harga daun sawi juga ikut melemah, dari sebelumnya sekitar Rp2.000 menjadi Rp1.000 per kilogram.
Kondisi serupa terlihat di Pasar Agrobis Plaosan. Harga bawang prei turun dari Rp11.000 menjadi Rp9.000 per kilogram. Cabai merah keriting turun dari Rp35.000 menjadi Rp26.000 per kilogram, sedangkan kubis anjlok dari Rp7.000 menjadi sekitar Rp3.500 per kilogram.
Petani dan pedagang menyebut penurunan harga tersebut semakin menekan pendapatan di tengah tingginya risiko produksi akibat kekeringan. Petani harus mengeluarkan tenaga dan biaya lebih untuk mendapatkan air, sementara sebagian tanaman tidak lagi dapat dipanen.
Para petani berharap kondisi kemarau segera berakhir sehingga pasokan air kembali normal. Mereka juga berharap harga sayuran kembali stabil agar kerugian akibat penurunan produksi dapat ditekan. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





