Kirab Panji Persatuan Awali Hari Jadi ke-108 Kota Madiun, Obor Perjuangan Menyala hingga Sebulan
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 41
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Pergantian hari menuju 20 Juni 2026 di Kota Madiun berlangsung berbeda dari biasanya. Di tengah suasana malam yang tenang, ratusan peserta berjalan beriringan membawa panji, obor, dan simbol-simbol perguruan pencak silat sebagai penanda dimulainya rangkaian Hari Jadi ke-108 Kota Madiun.
Kirab Panji Persatuan menjadi pembuka peringatan hari jadi tahun ini dengan menghadirkan nuansa budaya dan sejarah pada Sabtu (20/6/2026) dini hari. Arak-arakan yang bergerak dari kawasan Bakorwil menuju Balai Kota itu diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari pasukan adat, perwakilan perguruan pencak silat, Kakang Mbakyu Kota Madiun, hingga 108 aparatur sipil negara yang melambangkan usia Kota Madiun.
Sesampainya di Balai Kota, rangkaian prosesi dilanjutkan dengan penghormatan kepada lambang daerah, pembacaan Ikrar Pendekar, dan penyalaan Obor Api Madiun Berkilau. Api tersebut nantinya akan terus dijaga tetap menyala selama satu bulan penuh hingga 20 Juli 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun mengatakan konsep pembukaan Hari Jadi Kota Madiun tahun ini sengaja dibuat berbeda. Menurutnya, sebuah kota tidak hanya memiliki usia, tetapi juga perjalanan sejarah yang layak dikenang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia mengungkapkan, selama ini pembukaan Hari Jadi identik dengan upacara. Namun tahun ini pemerintah ingin menghadirkan sebuah prosesi yang mampu menceritakan perjalanan Kota Madiun melalui simbol-simbol budaya. Karena itu, angka 108 tidak dimaknai sekadar sebagai usia kota, melainkan sebagai representasi panjangnya perjuangan para pendahulu dalam membangun Madiun.
“Pembukaan ini harus punya nyawa, yaitu semangat perjuangan. Angka 108 bukan hanya angka, tetapi perjalanan panjang yang harus terus kita lanjutkan,” ujar Bagus.

Menurutnya, obor yang dinyalakan pada malam kirab menjadi pengingat bahwa semangat membangun daerah tidak boleh berhenti. Api akan tetap menyala siang dan malam sebagai simbol tekad masyarakat untuk terus menjaga dan meneruskan warisan perjuangan.
Bagus berharap prosesi Kirab Panji Persatuan dapat menjadi tradisi baru dalam setiap peringatan Hari Jadi Kota Madiun. Meski demikian, ia membuka peluang agar konsep pelaksanaannya terus berkembang setiap tahun sehingga tetap menghadirkan sesuatu yang baru bagi masyarakat.
Lebih jauh, ia menilai perjuangan saat ini memiliki bentuk yang berbeda dibanding masa lalu. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah bagaimana seluruh elemen masyarakat mampu bersama-sama menekan angka kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan warga.
“Masih ada kemiskinan dan pengangguran yang harus kita perjuangkan bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Semua harus bergandengan tangan agar persoalan-persoalan itu bisa diselesaikan,” katanya.
Keterlibatan seluruh perguruan pencak silat dalam kirab juga menjadi bagian penting dari pesan persatuan yang ingin dibangun. Sebagai daerah yang dikenal dengan sebutan Kota Pendekar, Bagus berharap identitas tersebut diwujudkan dalam kontribusi nyata menjaga keamanan, kerukunan, dan pembangunan kota.
“Madiun adalah Kota Pendekar. Jangan berhenti sebagai slogan, tetapi harus menjadi semangat bersama untuk mengawal kemajuan Kota Madiun,” pungkasnya. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





