Mobil Damkar Tertua Magetan Simpan Cerita Unik, Setiap Dicuci Disebut Kerap Disusul Laporan Kebakaran
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 49
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Di balik deretan armada milik Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tersimpan sebuah kendaraan lawas yang memiliki kisah tersendiri. Mobil pemadam kebakaran berusia lebih dari empat dekade itu tak hanya menjadi saksi berbagai peristiwa besar, tetapi juga dikenal di kalangan petugas karena cerita unik yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Mobil pemadam jenis Isuzu Forward keluaran era 1970-an dengan pelat nomor AE 8277 PP tersebut akrab disapa “Mbah Kung” oleh para personel Damkar Magetan.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Magetan, Ali Sukamto, mengungkapkan bahwa di lingkungan petugas telah lama berkembang cerita bahwa setiap kali Mbah Kung selesai dicuci, tak lama kemudian hampir selalu muncul laporan kebakaran.
Meski terdengar seperti mitos, Ali menegaskan para personel tidak memaknainya sebagai sesuatu yang bersifat mistis. Cerita tersebut lebih dianggap sebagai pengalaman unik yang berulang kali terjadi selama bertahun-tahun bertugas di lapangan.
“Teman-teman sudah sering memperhatikan polanya. Kalau Mbah Kung dicuci, biasanya tidak lama kemudian pasti ada kejadian kebakaran. Sudah beberapa kali seperti itu, sehingga menjadi cerita turun-temurun di lingkungan Damkar,” ujar Ali.
Menurutnya, kebetulan serupa sudah terlalu sering dialami oleh anggota sehingga akhirnya menjadi bagian dari cerita keseharian di markas Damkar. Bahkan, para petugas kerap berseloroh seolah-olah Mbah Kung memberikan “isyarat” sebelum mereka kembali disibukkan dengan panggilan darurat.

“Anehnya, begitu selesai dicuci, sering sekali muncul laporan kebakaran. Itu yang kemudian menjadi cerita di antara teman-teman,” katanya sambil tersenyum.
Di balik cerita unik tersebut, Mbah Kung memiliki rekam jejak panjang dalam operasi penyelamatan. Armada ini mulai berdinas di Magetan sekitar awal 1980-an dan hingga kini masih berstatus aktif meski lebih sering disiagakan sebagai kendaraan cadangan.
Selama masa pengabdiannya, mobil tua itu pernah diterjunkan dalam sejumlah penanganan kebakaran besar, di antaranya kebakaran kereta api tangki di Kabupaten Ngawi pada 2004, kebakaran Pasar Sayur Magetan pada 2016, serta kebakaran Pasar Legi Songgolangit Ponorogo pada 2017.
Ali juga mengungkapkan salah satu keistimewaan Mbah Kung adalah kondisi mesinnya yang masih sangat terawat. Hingga kini mesin kendaraan tersebut belum pernah mengalami turun mesin dan sebagian besar komponennya masih menggunakan suku cadang asli pabrikan.
Namun demikian, usia kendaraan mulai memengaruhi beberapa bagian, terutama sistem pengereman. Karena alasan keselamatan, armada ini kini hanya digunakan pada kondisi tertentu dan medan yang relatif aman.
“Mesinnya masih orisinal semua. Belum pernah turun mesin. Yang mulai menjadi kendala hanya kampas rem. Kalau dipakai di jalan menanjak atau turunan memang sudah kurang aman, tetapi untuk jalan datar masih sanggup bertugas,” jelasnya.
Bagi keluarga besar Damkar Magetan, Mbah Kung bukan sekadar kendaraan operasional. Mobil tua tersebut telah menjadi simbol dedikasi para petugas dalam menjalankan ribuan misi penyelamatan sekaligus menyimpan kisah unik yang terus hidup di tengah para personel. Terlepas dari benar atau tidaknya keterkaitan dengan munculnya laporan kebakaran, cerita tentang Mbah Kung yang “mengundang” sirene setiap kali selesai dicuci tetap menjadi bagian dari warna kehidupan para petugas pemadam kebakaran di Magetan. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez




