Permintaan Pisang Raja Meningkat Jelang Maulid, Harga di Pasar Magetan Ikut Terdongkrak
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 48 menit yang lalu
- visibility 37
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Tradisi masyarakat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW turut membawa dampak terhadap aktivitas perdagangan pisang di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Memasuki bulan Maulid, permintaan pisang, khususnya pisang raja, meningkat karena banyak digunakan untuk keperluan genduren, selamatan, hingga berbagai acara adat masyarakat.
Meningkatnya permintaan tersebut ikut mendorong harga pisang raja di tingkat pedagang. Besaran harga bervariasi, bergantung pada ukuran dan kualitas pisang yang dijual.
Salah satu pedagang pisang di Pasar Sayur Magetan, Karmi, mengatakan pisang raja menjadi jenis yang paling banyak dicari masyarakat ketika memasuki bulan Maulid. Menurutnya, pisang raja lazim digunakan sebagai salah satu pelengkap dalam berbagai kegiatan selamatan dan tradisi masyarakat.
Di lapaknya, pisang raja ukuran kecil dijual sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000 per sisir. Untuk ukuran sedang, harganya berkisar Rp70.000 hingga Rp80.000 per sisir. Sementara pisang raja berukuran besar dapat mencapai Rp125.000 per sisir dalam kondisi harga normal.
“Kalau bulan Maulid itu yang paling dicari itu pisang raja. Yang besar biasanya saya jual Rp125.000, tapi biasanya naik jadi Rp150.000 per sisir. Kalau yang kecil menyesuaikan ukuran saja harganya,” ujar Karmi.
Menurut Karmi, kenaikan harga tidak semata-mata dipengaruhi tingginya permintaan konsumen. Ketersediaan pasokan dari petani juga menjadi faktor penting. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga pisang di tingkat pedagang cenderung ikut terkerek.
Selain pisang raja, sejumlah jenis pisang lainnya juga tersedia di pasar. Pisang susu dijual sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per sisir. Pisang kepok berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp25.000 per sisir, sedangkan pisang masam sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 per sisir.

Karmi menyebut peningkatan permintaan pisang sebenarnya tidak hanya terjadi saat Maulid Nabi. Momentum keagamaan dan tradisi tertentu, seperti Muharam atau Suro serta Ramadan, juga kerap membuat kebutuhan pisang meningkat.
Pada periode tertentu, harga pisang raja bahkan pernah menembus Rp300.000 per sisir. Kondisi tersebut terjadi ketika harga pisang di tingkat petani mengalami kenaikan akibat terbatasnya pasokan.
“Ya sempat sampai Rp300.000 per sisir, harga dari petaninya naik soalnya,” katanya.
Pedagang lainnya, Nyamiati, membenarkan adanya peningkatan permintaan pisang raja pada bulan-bulan tertentu. Menurutnya, pisang raja tidak hanya dibutuhkan untuk tradisi keagamaan dan selamatan, tetapi juga banyak dicari masyarakat untuk acara pernikahan maupun kegiatan adat.
Ia mengatakan pedagang harus mengikuti perkembangan harga dari petani karena pasokan menjadi salah satu penentu harga jual di pasar. Menjelang Maulid, menurutnya, memperoleh pisang raja dalam jumlah banyak juga menjadi tantangan ketika permintaan meningkat.
“Ya jualan pisang masam, Ambon, sama pisang raja. Harganya macam-macam. Kalau Maulid begini yang naik itu pisang raja, dari petaninya sulit,” kata Nyamiati.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tradisi masyarakat tidak hanya berdampak pada aktivitas sosial dan keagamaan, tetapi juga turut menggerakkan perdagangan komoditas tertentu di pasar tradisional. Pisang raja menjadi salah satu komoditas yang permintaannya mengikuti momentum kegiatan masyarakat. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez



