Putra-Putri Magetan Gerakkan Perubahan Sosial, Migunani Foundation Jangkau Ratusan Penerima Manfaat
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 59
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Inisiatif anak muda di Kabupaten Magetan terus menunjukkan kiprah nyata dalam mendorong perubahan sosial. Yayasan Migunani Marang Sesami atau Migunani Foundation, yang digagas putra-putri daerah, kini berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat dengan jangkauan nasional.
Berbasis di Kecamatan Maospati, Migunani Foundation telah memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 400 orang. Gerakan ini juga diperkuat oleh lebih dari 600 relawan yang tersebar di berbagai kota, mulai dari kawasan Madiun Raya, Surabaya, Yogyakarta, hingga Jabodetabek, Malang, dan Solo.
Strategic Director sekaligus Pembina Yayasan Migunani Marang Sesami, Nurisha Kitana, mengatakan gerakan ini berangkat dari keresahan anak muda terhadap berbagai persoalan sosial di lingkungan sekitar.
“Perubahan tidak harus menunggu dari pusat. Kami memulainya dari hal kecil di Magetan, dari apa yang bisa kami lakukan langsung di lapangan,” ujar Nurisha.
Ia menambahkan, kepercayaan dari ratusan relawan di berbagai daerah menjadi indikator bahwa gerakan berbasis komunitas memiliki daya jangkau yang kuat jika dijalankan secara konsisten.
“Ketika gerakan ini dipercaya oleh teman-teman di banyak kota, itu menunjukkan bahwa isu yang kami angkat memang dekat dengan masyarakat. Kami hanya berusaha menjaga komitmen agar dampaknya terus nyata,” imbuhnya.
Dalam operasionalnya, Migunani Foundation menaungi tiga komunitas utama dengan fokus isu yang berbeda namun saling terintegrasi. Komunitas Gandeng ODGJ bergerak dalam pengurangan stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) serta pendampingan penyintas pascarawat.
Koordinator Gandeng ODGJ, dalam kesempatan terpisah, menegaskan pentingnya pendekatan yang humanis dalam pemulihan kesehatan mental.
“Kami tidak hanya bicara soal penyembuhan, tapi juga bagaimana mereka bisa kembali diterima dan berperan di masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Teman Cita berfokus pada perlindungan perempuan dan anak, termasuk pendampingan bagi kelompok rentan. Salah satu relawan Teman Cita menyebut, pendekatan langsung di lapangan menjadi kunci keberhasilan program.
“Banyak kasus yang tidak tersentuh sistem formal. Di situ kami hadir, memberikan pendampingan sekaligus pemberdayaan agar mereka punya keberanian untuk bangkit,” katanya.
Adapun Gizi Jiwa mengusung pendekatan berbasis ilmiah dengan mengintegrasikan edukasi nutrisi dan kesehatan mental. Program ini digerakkan oleh mahasiswa dan tenaga medis muda yang berupaya menghadirkan informasi kesehatan yang mudah diakses masyarakat.
Salah satu relawan Gizi Jiwa menjelaskan, keterkaitan antara pola makan dan kondisi mental masih jarang dipahami masyarakat.
“Padahal, kesehatan fisik dan mental saling berkaitan. Edukasi ini penting agar masyarakat lebih sadar menjaga keduanya secara seimbang,” tuturnya.
Migunani Foundation juga mengedepankan pendekatan biopsikososial dalam setiap programnya. Pendekatan ini memandang kesehatan manusia sebagai kesatuan antara aspek biologis, psikologis, dan sosial, sehingga intervensi yang dilakukan tidak hanya menyasar gejala, tetapi juga akar permasalahan.
Ke depan, yayasan ini membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari individu, komunitas, hingga institusi dan pemerintah daerah.
“Kolaborasi menjadi kunci. Kami percaya perubahan besar tidak bisa dikerjakan sendiri, tapi harus dikerjakan bersama,” pungkas Nurisha. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





