Youth Creative Week Resmi Dibuka di Pasar Sleko Madiun, Langkah Awal Bangun Ekosistem Ekonomi Kreatif
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 31
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Suasana Pasar Sleko Kota Madiun tampak berbeda pada Selasa (21/7/2026) malam. Deretan kios di lantai 2 yang sebelumnya sepi kini mulai dipenuhi aktivitas pelaku industri kreatif dalam gelaran Youth Creative Week yang resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, F Bagus Panuntun.
Kegiatan ini menjadi upaya Pemerintah Kota Madiun menghidupkan kembali Pasar Sleko melalui konsep pasar kreatif yang menghadirkan beragam produk ekonomi kreatif, mulai dari kuliner, kopi lokal, batik, barang antik, hingga ruang literasi.
Menurut Bagus, gagasan tersebut muncul setelah melihat kondisi Pasar Sleko yang sempat lengang meski memiliki bangunan kios yang masih baru dan layak digunakan.
“Saya melihat banyak teman-teman pelaku ekonomi kreatif yang membutuhkan ruang untuk berkarya. Akhirnya kami mencoba memberikan ruang agar mereka bisa masuk ke sini dan membangun ekosistem ekonomi kreatif bersama,” ujarnya.
Sebelum menempati kios, para peserta telah melalui proses seleksi. Jumlah pendaftar yang cukup banyak kemudian disesuaikan dengan kapasitas ruang yang tersedia di Pasar Sleko.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku ekonomi kreatif, Pemerintah Kota Madiun memberikan kebijakan pembebasan biaya sewa kios selama enam bulan pertama.
Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong para pelaku usaha fokus mengembangkan produknya sekaligus menarik lebih banyak pengunjung datang ke Pasar Sleko.
“Yang penting teman-teman masuk dulu, aktivitas berjalan, pasarnya ramai. Setelah itu perkembangan akan mengikuti dinamika yang ada,” kata Bagus.
Salah satu daya tarik utama Pasar Sleko adalah keberagaman konsep usaha yang dinilai tidak mudah ditemui di lokasi lain.
Pengunjung dapat menemukan wedangan yang dipadukan dengan kegiatan literasi, gerai kopi racikan pelaku lokal, produk batik yang dipadukan dengan koleksi barang antik, hingga berbagai karya kreatif bernuansa industrial dan klasik.

“Jadi nanti ruang ini sebagai uji coba dulu, bangun ekosistem ekonomi kreatif di Madiun. Selama ini ekosistemnya teman-teman ini terpecah di sana, di sini. Saya pengen bangun, memfasilitasi teman-teman supaya ekosistem ekonomi kreatif pertama kali dibangun di sini dulu,” terangnya.
Tak hanya berhenti pada penataan tenant, Pemkot Madiun juga menyiapkan rencana pengembangan kawasan. Salah satunya melalui perubahan fasad Pasar Sleko agar memiliki tampilan yang lebih modern dan menarik.
Bagus menyebut perencanaan tersebut ditargetkan mulai direalisasikan pada tahun depan, setelah melihat perkembangan ekosistem ekonomi kreatif selama masa uji coba enam bulan.
“Pasar Sleko memang pasar tradisional, tetapi image-nya ingin kita ubah menjadi pasar kreatif,” ujarnya.
Untuk menjaga geliat pengunjung, Pemkot Madiun juga berencana menghadirkan berbagai agenda rutin, termasuk pertunjukan musik secara berkala.
Nantinya akan dibentuk paguyuban pelaku ekonomi kreatif yang berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) guna menyusun kalender kegiatan. Hal itu agar Pasar Sleko tidak hanya menjadi pusat transaksi, tetapi juga ruang berkumpul masyarakat.
“Ini nanti salah satunya wisatanya adalah wisata kreatif, makanya perlu dibentuk ekosistem. Makanya saya tadi menyampaikan bahwa tahun depan fasad akan kita bangun karena ini masih direncanakan,” pungkas Bagus.
Keberadaan Youth Creative Week menjadi langkah awal membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terintegrasi di Kota Madiun. Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha kreatif, Pasar Sleko diharapkan berkembang menjadi destinasi wisata kreatif baru yang mampu menggerakkan perekonomian sekaligus menghadirkan ruang berekspresi bagi generasi muda. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez




