Festival Pamelo 2026, Dorong Semangat Petani dan Promosi Wisata Daerah
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 58
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan — Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Magetan menggelar Festival Pamelo 2026 yang dikemas dalam bentuk kontes buah pamelo. Kegiatan ini menjadi upaya strategis pemerintah daerah untuk memperkuat posisi jeruk pamelo sebagai komoditas unggulan sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat regional maupun nasional.
Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti, mengatakan bahwa jeruk pamelo merupakan salah satu produk andalan daerah yang telah dikenal luas. Ia menyebut, pengembangan komoditas ini terus diperluas ke berbagai wilayah.
“Magetan memiliki produk unggulan jeruk pamelo yang sudah dikenal secara nasional. Saat ini pengembangannya tidak hanya di empat kecamatan, tetapi telah meluas menjadi enam kecamatan, yakni Bendo, Takeran, Sukomoro, Kawedanan, Magetan, dan Nguntoronadi,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Selain di enam kecamatan tersebut, pengembangan jeruk pamelo juga mulai merambah di beberapa wilayah di Kecamatan Parang. Ia berharap melalui festival ini, pamelo Magetan semakin dikenal luas dan mampu meningkatkan nilai ekonomi petani.
“Kami mohon dukungan agar pamelo Magetan semakin dikenal, baik di tingkat regional maupun nasional,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala DTPHPKP Magetan, Uswatul Chasanah, menjelaskan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana edukasi dan promosi.
“Festival ini diharapkan mampu memacu semangat petani serta menjadi media untuk memperkenalkan pamelo sebagai bagian dari penggerak pariwisata Magetan,” jelasnya.
Ia menyebut, kontes pamelo tahun ini diikuti oleh 131 peserta dari berbagai kecamatan sentra produksi. Terdapat beberapa kategori yang dilombakan, antara lain kategori bebas, nambangan, sri nyonya dan pamelo khas Magetan.
Adapun penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah kriteria, seperti warna buah, rasa, jumlah biji, serta kualitas keseluruhan. Proses penjurian melibatkan praktisi jeruk, akademisi, serta perwakilan dari Balai Riset Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BRMP Jestro).
Lebih lanjut, Uswatul mengungkapkan bahwa saat ini budidaya pamelo di Magetan tersebar di enam kecamatan dengan total populasi mencapai sekitar 264.330 pohon. Produksi tahunan diperkirakan mencapai 170 kuintal, dengan produktivitas rata-rata 1,13 kuintal per pohon.

Meski demikian, sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya serangan penyakit tanaman yang dapat menurunkan produktivitas hingga signifikan.
“Beberapa waktu lalu sempat terjadi kekeringan dan serangan penyakit yang berdampak pada penurunan hasil. Untuk itu, kami melakukan pembinaan melalui sekolah lapang agar petani mampu mengendalikan hama dan penyakit secara tepat,” terangnya.
Ia menambahkan, salah satu penyakit yang kerap menyerang adalah infeksi virus yang menyebabkan tanaman mengering. Penanganan dilakukan secara bertahap, termasuk melalui pendekatan alami dan pendampingan teknis dari pihak terkait.
Festival Pamelo 2026 ini juga sengaja digelar pasca Hari Raya Idulfitri, meski masa panen telah memasuki akhir. Hal ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan buah sekaligus memberikan ruang promosi yang lebih luas.
Dengan adanya kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Magetan berharap pamelo tidak hanya menjadi komoditas pertanian unggulan, tetapi juga ikon daerah yang mampu menarik wisatawan dan meningkatkan kesejahteraan petani. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





