Berita Terkini
Trending Tags

Rocky Gerung: Marhaenisme Harus Menjadi Metode Berpikir, Bukan Sekadar Retorika Bung Karno

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 31
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Filsuf Rocky Gerung Dalam sesi diskusi bersama dalam kegiatan Soekarno Talk In yang digelar DPC PDI Perjuangan

Sinergia | Magetan – Filsuf Rocky Gerung mengajak generasi muda untuk memahami Marhaenisme sebagai sebuah metode berpikir, bukan sekadar menghafal pidato atau slogan perjuangan Bung Karno. Menurutnya, kekuatan utama Presiden pertama Republik Indonesia itu bukan hanya terletak pada kemampuan berorasi, melainkan pada logika dan cara berpikir yang melandasi setiap gagasan yang disampaikannya.

Menurut Rocky, salah satu kekeliruan yang kerap terjadi adalah memahami Bung Karno hanya sebagai tokoh dengan pidato-pidato berapi-api, tanpa mendalami jalan pikiran yang melahirkan pidato tersebut.

“Belajar Bung Karno bukan sekadar belajar retorika. Yang jauh lebih penting adalah belajar logikanya. Di balik setiap pidato Bung Karno selalu ada jalan pikiran yang sangat kuat,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, Rocky juga menanggapi pertanyaan mengenai anggapan bahwa pemikiran Bung Karno mulai ditinggalkan generasi muda atau mengalami desukarnoisasi. Menurutnya, fenomena yang terjadi justru sebaliknya. Ia melihat munculnya minat baru di kalangan mahasiswa untuk kembali membaca karya-karya Bung Karno maupun pemikir dunia lainnya sebagai upaya memahami berbagai persoalan bangsa.

Karena itu, ia menilai buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z lahir bukan untuk melawan desukarnoisasi, melainkan merespons meningkatnya ketertarikan generasi muda terhadap gagasan-gagasan Soekarno.

“Buku ini bukan dibuat untuk menjawab desukarnoisasi. Justru karena ada gairah baru untuk mempelajari Bung Karno, maka kami mencoba menghadirkan cara membaca yang lebih relevan dengan persoalan hari ini,” kata Rocky.

Menurutnya, tantangan saat ini bukan terletak pada hilangnya minat membaca pemikiran Bung Karno, melainkan belum tersedianya ruang yang cukup untuk menghubungkan gagasan tersebut dengan realitas sosial kontemporer.

Rocky menjelaskan, Bung Karno membangun Marhaenisme bukan berdasarkan romantisme perjuangan, melainkan hasil pembacaan terhadap kondisi nyata masyarakat Indonesia. Ia menilai Soekarno mampu menghubungkan teori-teori besar dunia dengan pengalaman hidup rakyat sehingga melahirkan gagasan yang membumi dan mudah diterima masyarakat.

Karena itu, Marhaenisme harus dipahami sebagai cara membaca realitas, bukan sekadar ideologi yang dihafalkan.

“Kalau hari ini kita bicara Marhaenisme, maka kita juga harus membaca persoalan yang dihadapi rakyat hari ini. Persoalannya sudah berubah, maka cara menjelaskannya juga harus berkembang,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Rocky berkali-kali menegaskan bahwa logika merupakan inti dari pemikiran Bung Karno. Menurutnya, setiap pidato Bung Karno dibangun melalui argumentasi yang runtut sehingga mampu menjelaskan sebab-musabab suatu persoalan sebelum menawarkan solusi. Ia menilai pendekatan tersebut mulai jarang ditemui dalam ruang publik saat ini, ketika banyak perdebatan lebih mengutamakan slogan dibanding argumentasi.

“Banyak orang hanya mengingat teriakan ‘Merdeka’, tetapi lupa bagaimana Bung Karno membangun logika hingga sampai pada seruan itu,” katanya.

Karena itu, Rocky mengajak generasi muda membiasakan diri membaca, berdiskusi, dan menguji gagasan secara kritis sebelum mengambil sikap terhadap suatu persoalan.

Rocky juga menyoroti peran mahasiswa dalam kehidupan demokrasi. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi kelompok yang reaktif terhadap berbagai kebijakan pemerintah, tetapi juga harus mampu menawarkan argumentasi yang berbasis ilmu pengetahuan. Menurutnya, tradisi intelektual menjadi fondasi utama agar gerakan mahasiswa tidak kehilangan arah.

“Kalau ingin mengkritik, bangun dulu argumennya. Demonstrasi itu penting, tetapi akan lebih kuat kalau ditopang oleh analisis yang matang,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut bahwa kritik tanpa dasar pemikiran yang kuat berpotensi dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan politik yang tidak sejalan dengan tujuan awal gerakan.

Rocky menilai Marhaenisme tidak boleh diperlakukan sebagai ajaran yang berhenti pada konteks sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebaliknya, konsep tersebut harus terus dikembangkan sesuai perubahan sosial yang terjadi.

Persoalan seperti ketimpangan ekonomi, eksploitasi pekerja digital, kerusakan lingkungan, hingga tantangan pendidikan menjadi contoh isu-isu baru yang memerlukan pembacaan melalui perspektif Marhaenisme. Menurutnya, semangat dasar yang diwariskan Bung Karno tetap sama, yaitu keberpihakan kepada kelompok masyarakat yang mengalami ketidakadilan. Namun bentuk ketidakadilan terus berubah mengikuti perkembangan zaman sehingga cara membacanya pun harus ikut berkembang.

Dalam kesempatan itu, Rocky juga mendorong kader partai politik untuk memperkuat kapasitas intelektual. Ia mengatakan organisasi politik seharusnya tidak hanya menjadi ruang konsolidasi kekuatan, tetapi juga tempat lahirnya gagasan-gagasan baru yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia mengapresiasi forum diskusi seperti Soekarno Talk In yang membuka ruang dialog antara akademisi, aktivis, mahasiswa, dan kader partai. Menurut Rocky, budaya berpikir harus menjadi bagian dari proses kaderisasi politik agar setiap kader mampu membaca persoalan berdasarkan data, analisis, dan argumentasi.

“Bung Karno mengajarkan kita berpikir sebelum bertindak. Itu yang harus diwarisi, bukan hanya gaya pidatonya,” tegasnya.

Menutup paparannya, Rocky menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau politik, tetapi juga kualitas cara berpikir generasi mudanya. Ia berharap buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak muda untuk kembali mengenal pemikiran Bung Karno secara lebih mendalam.

Lebih dari itu, ia berharap lahir ruang-ruang diskusi intelektual yang mampu membangun tradisi berpikir kritis di berbagai daerah.

“Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menghubungkan ide dengan kenyataan. Jangan berhenti pada slogan, tetapi pelajari cara berpikir yang melahirkan gagasan itu,” pungkas Rocky.(Kus).

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Krs/Byg

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dinkes Madiun Enggan Beberkan Hasil Uji Lab Makanan Dari SPPG Cinta Anak Klecorejo 

    Dinkes Madiun Enggan Beberkan Hasil Uji Lab Makanan Dari SPPG Cinta Anak Klecorejo 

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Dua pekan berlalu sejak puluhan murid dari tiga sekolah dasar di Kabupaten Madiun mengalami gejala keracunan massal. Namun sayangnya penyebab pasti dugaan keracunan masih belum terungkap. Hasil uji laboratorium yang diharapkan dapat menjelaskan sumber masalah justru belum diumumkan ke publik oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun. Insiden keracunan terjadi pada […]

    Bagikan
  • Sekolah Rakyat Ponorogo kini di Lengkapi 5 Unit Smart Board, Unit Laptop Menyusul

    Sekolah Rakyat Ponorogo kini di Lengkapi 5 Unit Smart Board, Unit Laptop Menyusul

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Fasilitas pembelajaran di Sekolah Rakyat (SR) bakal semakin lengkap. Pemerintah pusat melalui program di era Presiden Prabowo Subianto mulai menyalurkan bantuan berupa smart board sebagai sarana penunjang kegiatan belajar mengajar siswa SR, termasuk di Ponorogo. Lima unit smartboard atau papan tulis interaktifini Kementerian Sosial (Kemensos) RI. Perangkat interaktif ini dapat membantu […]

    Bagikan
  • Meriahnya Festival Barongsai di Kota Madiun, Sambut Tahun Baru Imlek 2025 dengan Penuh Warna.

    Meriahnya Festival Barongsai di Kota Madiun, Sambut Tahun Baru Imlek 2025 dengan Penuh Warna.

    • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Dalam memperingati imlek Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Kota Madiun menyelenggarakan festival Barongsai pada Senin (28/01/2025). Ratusan warga Kota Madiun tumpah ruah memadati jalan area festival untuk menyaksikan kemeriahan Festival Barongsai. Acara ini yang semula diadakan pada hari Senin sore (27/01/2025) harus di tunda karena terkendala cuaca.  Ketua FOBI Kota […]

    Bagikan
  • Ops Sikat 2025, Polres Madiun Kota Ungkap Dua Kasus Curanmor

    Ops Sikat 2025, Polres Madiun Kota Ungkap Dua Kasus Curanmor

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Kepolisian Resor (Polres) Madiun Kota berhasil mengungkap dua kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di wilayah hukumnya. Dua kasus tersebut terjadi di lokasi berbeda, yakni di Hotel Liyasa, Kelurahan Josenan, dan Hotel Raya Kusuma, Kelurahan Patihan, Kota Madiun. Kasatreskrim Polres Madiun Kota, IPTU Agus Riadi, menjelaskan bahwa pengungkapan ini merupakan hasil […]

    Bagikan
  • Dua Calon Jemaah Haji Magetan Meninggal Dunia, Pelimpahan Hak Tunggu Keputusan Provinsi

    Dua Calon Jemaah Haji Magetan Meninggal Dunia, Pelimpahan Hak Tunggu Keputusan Provinsi

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan — Dua calon jemaah haji asal Kabupaten Magetan yang tergabung dalam kloter 21 dilaporkan meninggal dunia menjelang keberangkatan musim haji tahun ini. Hal itu menjadi atensi di tengah persiapan yang secara umum telah mencapai sekitar 90 persen. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Magetan, Ida Dwi Martini, mengungkapkan bahwa satu jemaah yang […]

    Bagikan
  • Petasan Rakitan Meledak! Remaja 13 Tahun Di Ponorogo Terbakar, Begini Kronologinya

    Petasan Rakitan Meledak! Remaja 13 Tahun Di Ponorogo Terbakar, Begini Kronologinya

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 276
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Petasan rakitan kembali memakan korban di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Seorang remaja berinisial KA (13), warga Desa Semanding, Kecamatan Jenangan, mengalami luka bakar cukup serius setelah petasan yang dibuatnya gagal meledak dan justru menyambar tubuhnya pada Kamis malam (19/3/2026). Peristiwa nahas itu terjadi saat korban bersama temannya, NA (13), tengah merakit […]

    Bagikan
expand_less