Berita Terkini
Trending Tags

Rocky Gerung: Marhaenisme Harus Menjadi Metode Berpikir, Bukan Sekadar Retorika Bung Karno

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • visibility 225
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Filsuf Rocky Gerung Dalam sesi diskusi bersama dalam kegiatan Soekarno Talk In yang digelar DPC PDI Perjuangan

Sinergia | Magetan – Filsuf Rocky Gerung mengajak generasi muda untuk memahami Marhaenisme sebagai sebuah metode berpikir, bukan sekadar menghafal pidato atau slogan perjuangan Bung Karno. Menurutnya, kekuatan utama Presiden pertama Republik Indonesia itu bukan hanya terletak pada kemampuan berorasi, melainkan pada logika dan cara berpikir yang melandasi setiap gagasan yang disampaikannya.

Menurut Rocky, salah satu kekeliruan yang kerap terjadi adalah memahami Bung Karno hanya sebagai tokoh dengan pidato-pidato berapi-api, tanpa mendalami jalan pikiran yang melahirkan pidato tersebut.

“Belajar Bung Karno bukan sekadar belajar retorika. Yang jauh lebih penting adalah belajar logikanya. Di balik setiap pidato Bung Karno selalu ada jalan pikiran yang sangat kuat,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, Rocky juga menanggapi pertanyaan mengenai anggapan bahwa pemikiran Bung Karno mulai ditinggalkan generasi muda atau mengalami desukarnoisasi. Menurutnya, fenomena yang terjadi justru sebaliknya. Ia melihat munculnya minat baru di kalangan mahasiswa untuk kembali membaca karya-karya Bung Karno maupun pemikir dunia lainnya sebagai upaya memahami berbagai persoalan bangsa.

Karena itu, ia menilai buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z lahir bukan untuk melawan desukarnoisasi, melainkan merespons meningkatnya ketertarikan generasi muda terhadap gagasan-gagasan Soekarno.

“Buku ini bukan dibuat untuk menjawab desukarnoisasi. Justru karena ada gairah baru untuk mempelajari Bung Karno, maka kami mencoba menghadirkan cara membaca yang lebih relevan dengan persoalan hari ini,” kata Rocky.

Menurutnya, tantangan saat ini bukan terletak pada hilangnya minat membaca pemikiran Bung Karno, melainkan belum tersedianya ruang yang cukup untuk menghubungkan gagasan tersebut dengan realitas sosial kontemporer.

Rocky menjelaskan, Bung Karno membangun Marhaenisme bukan berdasarkan romantisme perjuangan, melainkan hasil pembacaan terhadap kondisi nyata masyarakat Indonesia. Ia menilai Soekarno mampu menghubungkan teori-teori besar dunia dengan pengalaman hidup rakyat sehingga melahirkan gagasan yang membumi dan mudah diterima masyarakat.

Karena itu, Marhaenisme harus dipahami sebagai cara membaca realitas, bukan sekadar ideologi yang dihafalkan.

“Kalau hari ini kita bicara Marhaenisme, maka kita juga harus membaca persoalan yang dihadapi rakyat hari ini. Persoalannya sudah berubah, maka cara menjelaskannya juga harus berkembang,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Rocky berkali-kali menegaskan bahwa logika merupakan inti dari pemikiran Bung Karno. Menurutnya, setiap pidato Bung Karno dibangun melalui argumentasi yang runtut sehingga mampu menjelaskan sebab-musabab suatu persoalan sebelum menawarkan solusi. Ia menilai pendekatan tersebut mulai jarang ditemui dalam ruang publik saat ini, ketika banyak perdebatan lebih mengutamakan slogan dibanding argumentasi.

“Banyak orang hanya mengingat teriakan ‘Merdeka’, tetapi lupa bagaimana Bung Karno membangun logika hingga sampai pada seruan itu,” katanya.

Karena itu, Rocky mengajak generasi muda membiasakan diri membaca, berdiskusi, dan menguji gagasan secara kritis sebelum mengambil sikap terhadap suatu persoalan.

Rocky juga menyoroti peran mahasiswa dalam kehidupan demokrasi. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi kelompok yang reaktif terhadap berbagai kebijakan pemerintah, tetapi juga harus mampu menawarkan argumentasi yang berbasis ilmu pengetahuan. Menurutnya, tradisi intelektual menjadi fondasi utama agar gerakan mahasiswa tidak kehilangan arah.

“Kalau ingin mengkritik, bangun dulu argumennya. Demonstrasi itu penting, tetapi akan lebih kuat kalau ditopang oleh analisis yang matang,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut bahwa kritik tanpa dasar pemikiran yang kuat berpotensi dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan politik yang tidak sejalan dengan tujuan awal gerakan.

Rocky menilai Marhaenisme tidak boleh diperlakukan sebagai ajaran yang berhenti pada konteks sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebaliknya, konsep tersebut harus terus dikembangkan sesuai perubahan sosial yang terjadi.

Persoalan seperti ketimpangan ekonomi, eksploitasi pekerja digital, kerusakan lingkungan, hingga tantangan pendidikan menjadi contoh isu-isu baru yang memerlukan pembacaan melalui perspektif Marhaenisme. Menurutnya, semangat dasar yang diwariskan Bung Karno tetap sama, yaitu keberpihakan kepada kelompok masyarakat yang mengalami ketidakadilan. Namun bentuk ketidakadilan terus berubah mengikuti perkembangan zaman sehingga cara membacanya pun harus ikut berkembang.

Dalam kesempatan itu, Rocky juga mendorong kader partai politik untuk memperkuat kapasitas intelektual. Ia mengatakan organisasi politik seharusnya tidak hanya menjadi ruang konsolidasi kekuatan, tetapi juga tempat lahirnya gagasan-gagasan baru yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia mengapresiasi forum diskusi seperti Soekarno Talk In yang membuka ruang dialog antara akademisi, aktivis, mahasiswa, dan kader partai. Menurut Rocky, budaya berpikir harus menjadi bagian dari proses kaderisasi politik agar setiap kader mampu membaca persoalan berdasarkan data, analisis, dan argumentasi.

“Bung Karno mengajarkan kita berpikir sebelum bertindak. Itu yang harus diwarisi, bukan hanya gaya pidatonya,” tegasnya.

Menutup paparannya, Rocky menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau politik, tetapi juga kualitas cara berpikir generasi mudanya. Ia berharap buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak muda untuk kembali mengenal pemikiran Bung Karno secara lebih mendalam.

Lebih dari itu, ia berharap lahir ruang-ruang diskusi intelektual yang mampu membangun tradisi berpikir kritis di berbagai daerah.

“Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menghubungkan ide dengan kenyataan. Jangan berhenti pada slogan, tetapi pelajari cara berpikir yang melahirkan gagasan itu,” pungkas Rocky.(Kus).

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Krs/Byg

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wayang Kulit Hari Jadi Kota Madiun ke-108, Komitmen Lestarikan Seni Budaya Menguat

    Wayang Kulit Hari Jadi Kota Madiun ke-108, Komitmen Lestarikan Seni Budaya Menguat

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Gemerincing gamelan dan lantunan tembang Jawa mengawali malam peringatan Hari Jadi Kota Madiun ke-108 di Lapangan Aspirasi, Jalan Taman Praja, Minggu (28/6/2026). Bukan sekadar hiburan, pagelaran wayang kulit dengan lakon “Gathutkaca Prawirayudha” menjadi panggung kebersamaan sekaligus penegasan bahwa seni budaya tetap memiliki tempat istimewa di tengah perkembangan zaman. Suasana semakin […]

    Bagikan
  • Ricuh di Puncak Lawu Gegara Berebut Spot Foto, Pendaki Diminta Jaga Etika

    Ricuh di Puncak Lawu Gegara Berebut Spot Foto, Pendaki Diminta Jaga Etika

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Suasana di puncak Gunung Lawu mendadak ricuh setelah dua rombongan pendaki terlibat cekcok yang berujung aksi saling dorong. Peristiwa tersebut terekam video dan viral di media sosial pada Senin (27/4/2026). Informasi yang dihimpun, keributan terjadi di kawasan puncak Hargo Dumilah, titik tertinggi Gunung Lawu yang menjadi favorit pendaki untuk berfoto. Insiden […]

    Bagikan
  • Debit Air Bendungan Sangiran Surut, Petani Manfaatkan Untuk Tanam Padi dan Jagung

    Debit Air Bendungan Sangiran Surut, Petani Manfaatkan Untuk Tanam Padi dan Jagung

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Sinergia | Ngawi – Kemarau panjang tak hanya membuat lahan pertanian di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, kekurangan air. Surutnya Bendungan Sangiran di Desa Sumberbening, Kecamatan Bringin, justru dimanfaatkan sejumlah petani untuk menanam padi dan jagung di area yang biasanya terendam air. Seperti yang terpantau pada Kamis (10/9/2026). Sebagian besar area bendungan telah berubah menjadi hamparan […]

    Bagikan
  • Polemik Tak Berujung PBNU, Ini Sikap PCNU Kota Madiun

    Polemik Tak Berujung PBNU, Ini Sikap PCNU Kota Madiun

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Polemik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hingga kini belum ada kata selesai. Menyikapi hal itu, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Madiun membuat pernyataan sikap bersama syuriah-tanfidziyah. Selain itu, juga meninda atas musyawarah kubro Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, pada Minggu (21/12/2025) lalu. Ketua PCNU Kota Madiun, KH […]

    Bagikan
  • KAI Daop 7 Madiun Percepat Perbaikan Geometri Jalur di Perlintasan Ngawi, Target 92 Titik pada 2026

    KAI Daop 7 Madiun Percepat Perbaikan Geometri Jalur di Perlintasan Ngawi, Target 92 Titik pada 2026

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun mempercepat perbaikan geometri jalur di sejumlah perlintasan sebidang, termasuk di Kabupaten Ngawi, sebagai upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan. Manajer Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, mengatakan perbaikan geometri jalur merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan dalam menjaga keamanan, […]

    Bagikan
  • Penyelidikan Dugaan Penyimpangan Dana LKK, Kejari Periksa 20 Saksi

    Penyelidikan Dugaan Penyimpangan Dana LKK, Kejari Periksa 20 Saksi

    • calendar_month Rabu, 30 Jul 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Penanganan dugaan penyelewengan dana Lembaga Keuangan Kelurahan (LKK) di Kota Madiun sementara ini tertahan. Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Madiun menunggu hasil audit kerugian negara yang telah diajukan ke Inspektorat untuk melanjutkan proses penyelidikan. Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Kota Madiun, Arfan Halim, mengungkapkan penyelidikan saat ini fokus pada […]

    Bagikan
expand_less