Kebut Progres Finishing, Bisakah 18 Sekolah Rakyat Terintegrasi Jatim Beroperasi 31 Juli ?
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 77
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menargetkan sebanyak 18 Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di wilayahnya dapat resmi beroperasi pada 31 Juli 2026. Proyek strategis ini terus dikebut demi mengejar target pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para siswa baru.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Restu Novi Widiani, mengungkapkan bahwa progres pembangunan fisik di 18 titik SRT menunjukkan tren yang sangat positif. Saat ini, rata-rata capaian pembangunan fisik paling rendah sudah menyentuh angka 91 persen.
“Mudah-mudahan nanti di akhir bulan semuanya bisa rampung sesuai ketentuan. Sekarang posisinya sudah on-process dan sedang dikebut pengerjaannya oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU),” ujar Novi saat memberikan keterangan di Madiun, Rabu (15/7/2026).
Tidak hanya mempercepat konstruksi gedung, pemerintah juga mulai mencicil pemenuhan sarana dan prasarana pendukung belajar mengajar. Fasilitas esensial seperti bangku sekolah, tempat tidur asrama, hingga peralatan makan kini mulai didistribusikan ke lokasi sekolah.
Salah satu tantangan yang dihadapi dalam masa persiapan ini adalah pemenuhan kuota siswa, khususnya pada jenjang Sekolah Rakyat Dasar (SRD). Di beberapa daerah, proses rekrutmen untuk tingkat dasar terpantau lebih lambat dibandingkan jenjang Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) maupun Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) yang justru mengalami kelebihan muatan (overload).
“Untuk rekrutmen calon siswa SD memang belum final karena belum melalui proses pleno. Kota dan Kabupaten Kediri sudah selesai, sementara wilayah lainnya masih terus berjalan,” jelas Novi.
Kendati demikian, Novi menegaskan lambatnya pemenuhan kuota di awal tidak akan menjadi kendala operasional. SRT dirancang dengan kurikulum yang sangat fleksibel melalui prinsip Multi Entry dan Multi Exit, yang memungkinkan siswa untuk masuk atau keluar sekolah kapan saja di tengah tahun ajaran berjalan.
“Artinya operasional sekolah bisa dimulai terlebih dahulu. Komposisi rombongan belajar (rombel) juga sangat dinamis dan bisa disesuaikan nanti. Kita maksimalkan dulu kuota yang ada saat ini,” tambahnya.
Pemprov Jatim memastikan para orang tua tidak perlu cemas terkait biaya. Seluruh kebutuhan pendidikan hingga akomodasi sehari-hari para siswa di SRT akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. SRT juga diintegrasikan sebagai instrumen pengentasan kemiskinan ekstrem. Pemerintah telah menyiapkan bantalan ekonomi bagi keluarga siswa berupa bantuan modal usaha agar mereka bisa mandiri secara finansial.
Tak hanya itu, Kementerian PU juga akan mengintervensi program ini lewat renovasi rumah tidak layak huni (Rutilahu) milik keluarga siswa.
“Pendidikan anak dijamin di Sekolah Rakyat, sementara orang tuanya kita sentuh dengan pemberdayaan ekonomi bagi yang memiliki usaha. Kita ingin memastikan perlindungan jaminan sosial keluarga ini terpenuhi secara komprehensif,” kata Novi optimistis.
Di tingkat daerah, pembangunan SRT Kabupaten Madiun menjadi salah satu yang menunjukkan deviasi positif. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Madiun, Bobby Saktia Putra Lubis, menyebutkan proyek di wilayahnya kini sudah mencapai 92 persen.
“Tinggal menyisakan sekitar 8 persen lagi. Minggu ini kami fokus menyelesaikan tahap akhir (finishing) untuk gedung sekolah dan ruang belajar,” kata Bobby.
Bobby menambahkan, pada pekan terakhir menjelang target operasional, fokus pekerja akan dialihkan untuk menuntaskan fasilitas penunjang seperti kantin, musala, dan gedung asrama. Ia optimistis seluruh fasilitas dapat difungsikan sepenuhnya sebelum target MPLS dimulai.
“Secara fungsional insyaallah tercapai pada 30 Juli, sehingga target operasional tanggal 31 Juli untuk MPLS siap direalisasikan,” tegasnya.
Sebagai informasi, SRT Kabupaten Madiun ini dibangun di atas lahan yang cukup luas, yakni mencapai 5,8 hektare. Mengusung konsep boarding school, kawasan sekolah ini dilengkapi dengan fasilitas komplet mulai dari asrama komunal, kantin modern, gedung serbaguna untuk aktivitas kreativitas siswa, hingga lapangan sepak bola di area belakang. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez




