Siswa Sekolah Rakyat Ponorogo Belum Penuhi Kuota, Beberapa Mundur Alasan Keluarga
- account_circle Ega Patria
- calendar_month Jumat, 1 Agt 2025
- visibility 23
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Jumlah peserta didik Sekolah Rakyat (SR) Ponorogo belum mencapai kuota maksimal meski kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) telah dimulai. Dari total target 125 siswa, baru 119 anak yang tercatat aktif mengikuti MPLS hari pertama, Jumat (01/08/2025).
Menurut Kepala SR Ponorogo, Devit Tri Candrawati, beberapa siswa dari jenjang SD dan SMP diketahui mengundurkan diri di hari-hari awal sebelum MPLS dimulai. Alasan utamanya adalah orang tua belum sepenuhnya siap melepas anak-anak mereka untuk tinggal di asrama.
“Saat ini jumlah siswa kami baru 119. Untuk jenjang SD masih kurang empat, dan SMP kurang dua. Beberapa siswa memang mundur karena pertimbangan keluarga, terutama dari pihak orang tua yang belum rela,” ujar Devit.
Sekolah Rakyat Ponorogo menampung peserta didik dari jenjang SD hingga SMA dengan sistem asrama dan pembelajaran gratis. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu yang sebelumnya kesulitan mengakses pendidikan formal karena kendala biaya.
Devit menambahkan, pihak sekolah masih membuka peluang bagi siswa baru untuk menyusul mengisi kekosongan kuota. Bahkan saat MPLS berlangsung, masih ada siswa baru yang datang dan langsung dikenalkan dengan lingkungan sekolah dan asrama.
“Kami tetap membuka kesempatan selama kuota belum terpenuhi. Ada siswa yang baru masuk, termasuk yang putus sekolah di kelas 5 atau 6, dan ada pula yang dari awal tidak pernah sekolah karena kondisi ekonomi,” jelasnya.
Untuk mendukung proses adaptasi siswa, terutama yang berasal dari jenjang SD, pihak sekolah menerapkan sistem pengasuhan yang intensif. Satu pengasuh mendampingi sekitar 5 hingga 10 siswa di asrama, dan pendekatan dilakukan secara personal mengingat banyak anak yang masih mengalami homesick.
“Kami menyentuh mereka secara perlahan, mengambil hati mereka terlebih dahulu sebelum masuk ke disiplin dan rutinitas belajar,” pungkas Devit.
Dengan MPLS yang dirancang selama dua pekan penuh, Sekolah Rakyat Ponorogo berharap seluruh siswa dapat menyesuaikan diri dan membentuk kemandirian sebelum memulai pembelajaran formal di kelas.
Ega Patria – Sinergia
- Penulis: Ega Patria


