Harga Minyak Goreng dan Plastik Melonjak, Produsen Kerupuk di Madiun Putar Otak demi Bertahan
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 49
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Kenaikan harga minyak goreng dan plastik kemasan di pasaran mulai memukul pelaku usaha kecil, termasuk produsen kerupuk di Kabupaten Madiun. Lonjakan biaya produksi ini memaksa pengusaha mencari cara agar tetap bertahan di tengah persaingan yang ketat.
Salah satu produsen kerupuk di Jalan Flamboyan, Desa Mojopurno, Kecamatan Wungu, Linawati, mengaku kenaikan paling signifikan terjadi pada minyak goreng dan plastik kemasan sejak setelah Ramadan hingga usai Lebaran 2026.
“Harga minyak goreng sebelum puasa masih sekitar Rp17 ribu per kilogram, sekarang sudah lebih dari Rp21 ribu,” ujar Linawati, Jumat (24/4/2026).
Dalam sekali produksi, usaha miliknya membutuhkan sekitar 1,8 ton minyak goreng setiap 10 hari atau setara 10 tong. Kenaikan ini otomatis mendongkrak biaya operasional secara signifikan. Tak hanya minyak goreng curah, harga plastik kemasan juga melonjak tajam.
Jika sebelum Idul Fitri harga minyak goreng curah masih di angka Rp30 ribu per kilogram, kini menembus Rp52 ribu. Bahkan di tingkat agen atau toko besar, harga bisa mencapai Rp55 ribu hingga Rp58 ribu per kilogram.
Selain itu, bahan baku lain seperti tepung kanji juga mengalami kenaikan, dari Rp79 ribu menjadi Rp89 ribu per sak.
Meski biaya produksi terus meningkat, Linawati mengaku belum berani menaikkan harga jual. Ia khawatir langkah tersebut justru membuat produknya kalah bersaing di pasaran.

“Kalau kita naikkan harga, pasar belum ikut naik. Takutnya malah merusak harga dan ditinggal pembeli, karena pesaing juga banyak,” katanya.
Sebagai strategi bertahan, ia menyiasati ukuran produk kerupuk. Ketebalan yang sebelumnya 2 milimeter kini dikurangi menjadi 1,5 milimeter, tanpa mengurangi jumlah isi secara signifikan.
“Kita kecilkan ukuran supaya produksi tetap jalan. Kalau mengurangi isi, kasihan pembeli,” jelasnya.
Saat ini, usaha Linawati memproduksi kerupuk Bandung sekitar dua kuintal per hari, serta kerupuk rambak berbahan tepung kurang dari satu kuintal per hari. Produk tersebut dipasarkan di wilayah Kabupaten hingga Kota Madiun.
Ia berharap harga bahan baku, terutama minyak goreng dan plastik, bisa kembali stabil agar usaha kecil seperti miliknya tetap bertahan.(Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





