Penataan Proliman hingga Stadion Wilis Segera Dieksekusi, Pemkot Madiun Perketat Pengawasan Sampah
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 77
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Pemerintah Kota Madiun menyiapkan penataan kawasan strategis mulai dari Kawasan Simpang 5 patung pendekar atau dikenal Proliman, Jalan Rimba Darma hingga area belakang GOR dan Stadion Wilis. Kawasan tersebut akan disulap menjadi wajah baru kota yang menonjolkan identitas khas Madiun sebagai Kota Pendekar dan Kota Pecel. Hal itu ditegaskan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun saat meninjau langsung lokasi bersama Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga serta Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Mikro pada Selasa (2/6/2026).
Bagus mengatakan penataan kawasan tersebut telah masuk tahap perencanaan dan ditargetkan dapat segera dieksekusi pada awal tahun mendatang. Konsep yang akan diaplikasikan hingga kini terus dilakukan kajian dan pembahasan lebih lanjut.
“Pemkot sudah melakukan perencanaan untuk wilayah Proliman, Rimba Darma sampai nanti di belakang GOR. Insyaallah segera kita eksekusi,” ujarnya.
Menurut Bagus, Proliman menjadi titik yang sangat penting karena merupakan salah satu kawasan dengan lalu lintas dan mobilitas masyarakat paling tinggi di Kota Madiun. Karena itu, kawasan tersebut akan dirancang sebagai etalase yang memperkuat identitas daerah.
“Proliman ini menjadi tempat perlintasan paling ramai di Kota Madiun. Nanti akan muncul identitas Kota Madiun di sini,” katanya.
Tidak hanya itu, keberadaan Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) di sekitar kawasan tersebut juga akan diintegrasikan dengan konsep penataan baru agar menjadi satu kesatuan kawasan yang lebih menarik dan representatif.
Dalam konsep yang disiapkan, desain kawasan akan mengangkat cerita dan filosofi khas Kota Madiun. Termasuk sebagai Kota Pendekar dan Kota Pecel yang akan menjadi tema utama yang diwujudkan dalam berbagai elemen visual dan tata ruang.
“Kita ingin bercerita tentang Madiun. Madiun terkenal sebagai Kota Pendekar, Kota Pecel, juga kota perkeretaapian. Untuk kawasan ini nanti yang diangkat adalah Kota Pendekar dan Kota Pecel, baik dari sisi desain maupun filosofinya,” jelas Bagus.
Selain fokus pada penataan kawasan, Pemkot Madiun juga menyoroti persoalan sampah yang kembali ditemukan di aliran sungai kawasan belakang GOR setelah sebelumnya dilakukan pembersihan. Ironisnya, masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan, apalagi di aliran saluran air.

Bagus mengaku telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk meningkatkan pengawasan dan mencegah masyarakat membuang sampah sembarangan. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah penambahan penerangan dan kamera pengawas atau CCTV di titik-titik rawan.
“Setelah kawasan belakang GOR dibersihkan sebenarnya sampah sudah tidak ada. Tetapi sekarang muncul lagi. Karena itu nanti akan kita tambahi lampu dan CCTV untuk memantau,” ungkapnya.
Pemkot juga akan memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, sistem pemilahan sampah di tingkat lingkungan akan mulai didorong agar pengelolaan sampah menjadi lebih tertata.
“Saya berharap masyarakat sama-sama menjaga lingkungan. Ke depan kita mulai pemilahan sampah dan di lingkungan masing-masing disediakan tempat sampah sesuai peruntukannya,” tandasnya.
Melalui penataan kawasan dan penguatan pengelolaan sampah tersebut, Pemkot Madiun berharap wajah kota semakin tertata sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan mencerminkan identitas khas Kota Pendekar. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





