Tradisi Methik Pari Desa Glinggang, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Jelang Panen
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 37
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Masyarakat adat Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, menggelar tradisi methik padi menjelang panen raya, Kamis (30/4/2026). Tradisi turun-temurun ini menjadi bentuk rasa syukur atas hasil bumi sekaligus upaya melestarikan budaya leluhur.
Prosesi methik digelar di area persawahan desa setempat. Sejumlah sesepuh dan perangkat desa memimpin ritual, yang juga diiringi penampilan penari sebagai simbol Dewi Sri, lambang kesuburan dan kemakmuran dalam tradisi agraris Jawa.
Warga turut membawa tumpeng ke sawah sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Setelah ritual selesai, masyarakat bersama-sama memanjatkan doa dan menyantap tumpeng di tengah hamparan padi yang siap dipanen.
Salah satu warga, Suwarti, mengatakan tradisi methik rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang diberikan.
“Ini sudah menjadi tradisi setiap tahun. Kami melaksanakan methik sebagai wujud rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diberikan,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh desa, Riyanto, menjelaskan bahwa tradisi methik tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat.
“Tradisi ini mengandung nilai kebersamaan, rasa hormat kepada alam, serta pengingat agar manusia selalu bersyukur atas apa yang diperoleh,” jelasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, yang turut hadir, berharap tradisi seperti ini dapat terus dilestarikan, sekaligus mendorong generasi muda untuk ikut berperan dalam sektor pertanian.
“Kami berharap generasi muda bisa ikut andil dalam pertanian, tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjaga ketahanan pangan di daerah,” ungkapnya.
Dengan tetap lestarinya tradisi methik, masyarakat Ponorogo menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masih menjadi bagian penting dalam kehidupan, sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





