Waduk Dawuhan Surut Lebih dari 50 Persen, Ribuan Hektare Sawah di Madiun Terancam Kekurangan Air
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 34 menit yang lalu
- visibility 15
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Ancaman kekeringan mulai membayangi ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Madiun. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat volume air Waduk Dawuhan di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri, menyusut lebih dari 50 persen. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu pasokan irigasi bagi sawah di tiga kecamatan, yakni Wonoasri, Madiun, dan Balerejo.
Petugas Operasi Waduk Dawuhan, Agung Wirasat, mengatakan penyusutan volume air terjadi sejak akhir April 2026. Dari kapasitas normal sekitar 3,9 juta meter kubik, kini air yang tersisa hanya sekitar 1,3 juta meter kubik.
“Dari volume normal 3,9 juta meter kubik, sekarang sisa 1,3 juta meter kubik. Penyusutan berlangsung mulai akhir April kemarin,” ujar Agung saat ditemui di Waduk Dawuhan, Selasa (28/7/2026).
Menurut Agung, cadangan air yang masih tersedia diperkirakan hanya cukup memenuhi kebutuhan irigasi pada musim tanam (MT) padi kedua dan sebagian awal MT ketiga. Namun, kondisi itu bergantung pada jenis tanaman yang dipilih petani.
Ia menjelaskan, berdasarkan Rencana Tata Tanam Global, petani seharusnya menanam palawija pada MT ketiga. Jika pola tanam tersebut dipatuhi, pasokan air dari waduk diperkirakan masih mampu mencukupi hingga masa panen.
Sebaliknya, apabila petani tetap memaksakan menanam padi yang membutuhkan air lebih banyak, cadangan air Waduk Dawuhan dipastikan tidak akan mencukupi.
“Kalau MT ketiga sesuai rencana tanam menggunakan palawija, waduk masih bisa mengairi sampai panen. Tetapi kalau dipaksakan tanam padi, volume air tidak akan sanggup,” katanya.
Agung mengungkapkan, pihaknya telah berulang kali menyosialisasikan perubahan pola tanam kepada petani di 10 desa yang menerima pasokan irigasi dari Waduk Dawuhan. Meski demikian, sebagian besar petani masih memilih menanam padi.
Dari total sekitar 1.273 hektare lahan yang bergantung pada irigasi waduk, mayoritas masih ditanami padi. Kondisi itu membuat petani diperkirakan harus mencari sumber air alternatif ketika debit waduk terus menurun.
“Kebanyakan lahan yang mendapat irigasi dari waduk masih ditanami padi. Kalau nanti kekurangan air, biasanya petani menggunakan sumur bor atau sibel untuk memenuhi kebutuhan air,” ujarnya.
Di sisi lain, pengelola waduk juga tidak bisa menguras seluruh cadangan air. Sesuai ketentuan operasional, minimal 15 persen dari kapasitas normal atau sekitar 300 ribu meter kubik harus tetap dipertahankan sebagai cadangan untuk menjaga kondisi dasar waduk.
“Kalau volume sudah mencapai batas 15 persen, pintu air akan kami tutup supaya masih ada air yang tersisa. Tujuannya menjaga kondisi waduk agar tidak benar-benar kering dan tidak mengalami kerusakan,” pungkas Agung. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Arrachmando




