Warga Binaan Rutan Ponorogo Diberdayakan Lewat Peternakan Terintegrasi
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 20 menit yang lalu
- visibility 26
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Ponorogo terus mendorong program pembinaan yang berorientasi pada kemandirian warga binaan. Salah satunya melalui pengembangan peternakan terintegrasi yang didukung Yayasan Titian Harapan.
Program tersebut diwujudkan melalui pembangunan kandang ayam berkapasitas hingga 800 ekor. Menariknya, sistem peternakan dirancang terintegrasi dengan kolam ikan lele yang berada di bawah kandang ayam.
Dalam konsep tersebut, sisa pakan dan kotoran ayam dapat dimanfaatkan untuk mendukung budidaya ikan lele. Sementara air bekas kolam lele selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk sekaligus untuk pengairan tanaman sayuran.
Pengelolaan peternakan nantinya melibatkan langsung warga binaan. Mereka tidak hanya diberi kesempatan untuk mengisi kegiatan selama menjalani masa pembinaan, tetapi juga mendapatkan keterampilan yang diharapkan menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Anggota Yayasan Titian Harapan, Retnaning Tyas, mengatakan pihaknya berharap program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. Pendampingan dan pemberdayaan warga binaan dinilai penting agar mereka memiliki kesempatan untuk hidup lebih mandiri dan bermartabat setelah bebas.
“Kami berharap kegiatan atau pendampingan atau bantuan ini berkelanjutan terus-menerus diberikan kepada siapapun, khususnya di rutan, sampai nanti mereka akan keluar. Sehingga tidak lagi malu, tidak lagi susah, dan mendapatkan hidup yang lebih bermartabat dan lebih bermakna,” ujarnya.
Selain menjadi sarana pembinaan, hasil peternakan tersebut juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat. Ketua Himpunan Mitra Dapur SPPG Ponorogo, Sugeng Hariyanto, menyebut ayam hasil budidaya warga binaan berpeluang masuk dalam rantai pasok kebutuhan dapur SPPG di Kabupaten Ponorogo.
Menurutnya, pihaknya akan membangun kepastian pasar dengan menghubungkan dapur-dapur SPPG yang menjadi anggota himpunan dengan para produsen.
“Kita nanti akan membangun rantai pasok kepastian pasar. Kami akan identifikasi anggota dapur, bagaimana dapur nanti di bawah anggota kita belanja langsung ke produsen-produsen yang kita koordinasikan lebih lanjut,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Ponorogo, M Agung Nugroho, menegaskan pengelolaan kandang ayam maupun program budidaya lainnya akan melibatkan warga binaan.
Warga binaan yang dinilai mendekati masa bebas akan diberi kesempatan lebih banyak untuk terlibat dalam pengelolaan. Harapannya, keterampilan yang diperoleh selama berada di rutan dapat diterapkan setelah mereka kembali ke lingkungan masing-masing.
“Yang merawat memang warga binaan. Terutama warga binaan yang sekiranya nanti mendekati bebas, karena tujuan kami kalau nanti sudah dikaryakan bisa diterapkan di rumah masing-masing,” katanya.
Selain peternakan ayam dan ikan lele, Rutan Ponorogo juga menjalankan sejumlah program pemberdayaan lainnya. Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan agar warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga memiliki keterampilan dan kemampuan untuk hidup mandiri setelah kembali ke masyarakat. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





