2 Anak dari Buruh Serabutan Asal Kradinan Madiun Kini Dua-duanya Masuk Sekolah Rakyat
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 5 menit yang lalu
- visibility 20
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Program Sekolah Rakyat mulai memberikan dampak nyata bagi keluarga prasejahtera di Kabupaten Madiun. Salah satunya dirasakan keluarga Darus Salam (52), buruh serabutan asal Dusun Gunting, Desa Kradinan, Kecamatan Dolopo, yang kini kedua anaknya diterima sebagai peserta didik Sekolah Rakyat.
Sebelumnya, hanya putra bungsunya, Ali Farzan Nur Faeyza (8), yang terdaftar sebagai siswa Sekolah Rakyat jenjang SD. Kini, anak sulungnya, Siti Eka Nur Khotijah (17), juga dipastikan bergabung dalam program pendidikan berkonsep asrama tersebut pada jenjang SMP.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Madiun, Anton Susilo, membenarkan penambahan peserta didik dari keluarga Darus Salam. Menurutnya, Siti Eka telah resmi masuk dalam daftar calon siswa dan mengikuti pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Jumat (31/7/2026).
“Anaknya Pak Darus Salam sudah masuk Sekolah Rakyat. Hari ini juga mengikuti pembukaan MPLS,” kata Anton.
Meski demikian, para siswa belum langsung tinggal di asrama. Pemkab Madiun masih menunggu kesiapan sarana dan prasarana sekolah sebelum seluruh peserta menempati asrama.
“Karena infrastruktur gedung masih disiapkan, kemungkinan anak-anak baru akan masuk asrama sekitar 10 hari lagi. Yang jelas, anak Pak Darus Salam sudah resmi menjadi peserta Sekolah Rakyat,” ujarnya.
Anton menjelaskan, jumlah calon siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Madiun saat ini mencapai 261 orang. Rinciannya terdiri dari 58 siswa SD, 113 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.
Jumlah tersebut mengalami perubahan komposisi rombongan belajar dibanding rencana awal. Kuota SD dikurangi dari tiga menjadi dua rombongan belajar karena keterbatasan jumlah calon siswa, sedangkan jenjang SMP justru bertambah dari tiga menjadi empat rombongan belajar.
“Mayoritas peserta memang berasal dari jenjang SMP. Kami bersama pendamping PKH, pendamping rehabilitasi sosial, dan TKSK terus melakukan pendataan agar target dari Kementerian Sosial bisa terpenuhi. Saat ini sudah maksimal di angka 261 calon siswa,” jelasnya.
Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif pemerintah untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin melalui sistem pendidikan berasrama. Program ini diharapkan mampu memutus rantai kemiskinan antargenerasi sekaligus memperluas kesempatan anak-anak prasejahtera memperoleh pendidikan yang layak.
Salah satu keluarga yang merasakan manfaat program tersebut adalah Darus Salam. Sebelumnya, pria yang sehari-hari bekerja serabutan itu hidup bersama dua anaknya di rumah sederhana berlantai tanah di Desa Kradinan.
Sejak istrinya meninggal dunia saat pandemi COVID-19, Darus harus membesarkan kedua anaknya seorang diri dengan penghasilan yang tidak menentu. Ia mengerjakan berbagai pekerjaan, mulai dari membajak sawah, mencangkul hingga menjadi buruh panen jagung demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Program pendidikan gratis berasrama itu diharapkan dapat membuka peluang bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik dan keluar dari lingkaran kemiskinan.(Tov).
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krz/Byg




