Wisata Telaga Sarangan Sepi Saat Lebaran? Pelaku Usaha Soroti Minim Atraksi dan Promosi
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 32
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan — Kunjungan wisatawan ke kawasan Telaga Sarangan selama libur Lebaran 2026 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Meski sempat membludak pada puncak liburan, tren keseluruhan menunjukkan jumlah wisatawan dan lama tinggal (length of stay) yang menurun.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Magetan, Nunung Widyastuti, menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti kawasan wisata sepi, melainkan terjadi penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Bukan sepi, tetapi memang ada penurunan jumlah wisatawan dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, lama wisatawan menginap di hotel juga lebih rendah,” ujarnya.
Menurutnya, lonjakan pengunjung hanya terjadi pada hari-hari tertentu, seperti hari ketiga Lebaran. Namun secara akumulatif, jumlah kunjungan tetap lebih rendah.
Nunung menilai, salah satu penyebab utama penurunan adalah kurangnya atraksi wisata yang mampu membuat pengunjung bertahan lebih lama.
“Wisatawan itu perlu alasan untuk tinggal lebih lama. Harus ada atraksi atau daya tarik tambahan yang disuguhkan, terutama saat high season seperti Lebaran,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti kurangnya promosi yang terintegrasi, terutama dalam merespons berbagai isu negatif yang sempat beredar sebelum libur Lebaran.
“Banyak pemberitaan soal cuaca ekstrem, longsor, hingga isu harga mahal. Padahal sebagian sudah ditangani. Tapi responsnya tidak terintegrasi dan tidak cepat, sehingga menimbulkan persepsi negatif,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya kecepatan dan integrasi informasi di era digital. Menurutnya, informasi yang tidak segera diklarifikasi akan mudah berkembang liar di media sosial.
“Kalau tidak segera direspons, informasi bisa ‘digoreng’ ke mana-mana dan berdampak buruk pada minat wisatawan,” ujarnya.

Nunung bahkan menyebut, dari banyaknya informasi yang beredar, hanya sebagian kecil yang benar. Kondisi ini diperparah dengan minimnya publikasi mengenai fasilitas pendukung, seperti kantong parkir dan layanan shuttle yang sebenarnya tersedia. Selain promosi, aspek teknis seperti rekayasa lalu lintas juga dinilai perlu perbaikan. Ia mencontohkan adanya informasi kawasan penuh di pintu masuk, padahal kapasitas parkir di dalam masih tersedia.
“Di beberapa waktu tertulis Sarangan penuh, padahal kantong parkir masih luas. Ini tentu memengaruhi keputusan wisatawan untuk masuk,” katanya.
Di sisi lain, pelaku usaha di kawasan Sarangan mengaku telah melakukan berbagai upaya secara mandiri, termasuk promosi melalui media sosial masing-masing serta koordinasi antar pelaku usaha.
“Kami sudah menyampaikan kondisi sebenarnya melalui media sosial dan saling berbagi informasi. Tapi ini sifatnya masih parsial, belum terintegrasi secara sistematis,” jelas Nunung.
Ia menambahkan, persoalan ini merupakan masalah berulang yang terjadi hampir setiap tahun, namun belum mendapat solusi menyeluruh. Berdasarkan data sementara, penurunan terjadi pada periode 18–23 Lebaran 2026 dibandingkan hari yang sama pada tahun sebelumnya. Data tersebut dihimpun dari jumlah tiket masuk wisatawan ke kawasan Sarangan, baik yang menginap maupun tidak.
“Kalau dibandingkan hari yang sama, memang ada penurunan. Data pastinya harus dilihat lebih rinci, tapi tren penurunannya sudah terlihat,” pungkasnya. (Nan)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Arrachmando







