225 Jemaah Haji Kota Madiun Pulang dengan Tangis Haru, Satu Jemaah Masih Dirawat di Jeddah
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 77
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Tangis haru, pelukan hangat, dan senyum penuh syukur mewarnai kedatangan ratusan jemaah haji Kota Madiun di Asrama Haji Kota Madiun, Minggu (7/6/2026) dini hari. Sebanyak 225 jemaah yang tergabung dalam Kloter SUB-22 akhirnya kembali ke tanah air setelah menuntaskan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.
Lima armada bus yang membawa para jemaah dari Asrama Haji Sukolilo Surabaya tiba di Kota Madiun dan langsung disambut keluarga yang telah menanti sejak malam. Momen pertemuan kembali itu berlangsung penuh emosional setelah lebih dari sebulan berpisah. Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, bersama jajaran Forkopimda turut hadir menyambut kepulangan para tamu Allah tersebut. Suasana haru semakin terasa saat para jemaah melaksanakan sujud syukur dan doa bersama atas kelancaran ibadah haji.
Salah satu jemaah asal Kelurahan Manisrejo, Kecamatan Taman, Djatmiko, mengungkapkan bahwa ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang matang.
“Pada prinsipnya ibadah haji itu memang harus betul-betul dipersiapkan, baik fisik maupun mental. Terutama saat menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujarnya.
Menurutnya, para jemaah juga harus belajar beradaptasi dengan berbagai kondisi selama berada di Tanah Suci. Kebiasaan yang biasa dinikmati di rumah harus disesuaikan dengan situasi di lokasi ibadah yang dipadati jutaan umat Muslim dari berbagai negara.
Meski demikian, Djatmiko menilai pelayanan haji tahun ini berjalan sangat baik, khususnya dalam hal konsumsi. Ia mengaku tidak menemukan kendala terkait ketersediaan makanan selama menjalani ibadah.
“Alhamdulillah konsumsi sangat bagus. Tidak ada kekurangan makanan. Saat Armuzna pun sudah disiasati dengan makanan siap saji sehingga kebutuhan jemaah tetap terpenuhi,” katanya.
Cuaca ekstrem yang mencapai lebih dari 40 derajat Celsius juga menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jemaah lanjut usia. Karena itu, ia memilih memprioritaskan ibadah wajib dan mengurangi aktivitas sunah agar kondisi fisik tetap terjaga.
Sementara itu, Kepala Kementerian Haji Kota Madiun, Datik Ardiyah, menjelaskan proses kepulangan jemaah tahun ini berlangsung lebih cepat berkat sistem pemeriksaan Imigrasi yang telah terintegrasi secara digital.
“Sekarang sudah ada alat yang mendeteksi secara otomatis sehingga tidak perlu pemeriksaan paspor secara manual di Asrama Haji Sukolilo. Prosesnya jauh lebih cepat,” jelasnya.
Datik juga memastikan seluruh jemaah yang tiba di Kota Madiun dalam kondisi sehat. Meski demikian, para jemaah tetap diimbau memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala flu atau batuk dalam beberapa hari ke depan.

“Alhamdulillah semuanya sehat. Tidak ada yang sampai harus dirawat. Bahkan yang kondisinya sedikit lelah pun tetap memilih naik bus bersama rombongan,” ujarnya.
Dari total 227 jemaah yang berangkat ke Tanah Suci, sebanyak 225 orang telah kembali ke Kota Madiun. Satu jemaah atas nama DJurianto meninggal dunia di Makkah, sementara satu jemaah lainnya, Yetty, masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Amir Abbas, Jeddah.
Menurut Datik, kondisi yang bersangkutan kini terus menunjukkan perkembangan positif. Saat ini ia sudah mulai bisa diajak berkomunikasi meskipun masih menggunakan isyarat.
“Kami mohon doa masyarakat Kota Madiun agar Bu Yeti segera sembuh dan dapat dipulangkan bersama kloter berikutnya,” katanya.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun menghimbau kepada para jemaah untuk memperbanyak istirahat setelah perjalanan panjang dari Arab Saudi. Ia juga berharap nilai-nilai dan pengalaman spiritual yang diperoleh selama berhaji dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang terpenting sekarang istirahat yang cukup. Kemudian apa yang sudah didapat selama menjalankan ibadah haji bisa diterapkan di tengah masyarakat Kota Madiun,” ujarnya.
Kepulangan para jemaah haji tahun ini bukan hanya menjadi akhir dari sebuah perjalanan panjang menuju Baitullah, tetapi juga awal dari pengabdian baru sebagai haji dan hajah yang diharapkan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





