Berita Terkini
Trending Tags

Menilik Petirtaan Dewi Sri Simbatan, Jejak Peradaban Mataram Kuno yang Masih Lestari

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 242
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Petirtaan Dewi Sri jadi pusat tradisi masyarakat. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Di tengah hamparan persawahan Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, berdiri sebuah situs kuno yang hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Petirtaan Dewi Sri bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga pusat tradisi budaya yang terus diwariskan lintas generasi melalui ritual Bersih Desa dan Tari Ikan Kutuk.

Situs yang kerap disebut Candi Simbatan oleh masyarakat setempat ini diyakini berasal dari masa akhir Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-10 Masehi. Keberadaannya menjadi salah satu bukti pengaruh peradaban Hindu di wilayah lereng timur Gunung Lawu yang kini masuk Kabupaten Magetan.

Petirtaan Dewi Sri dibangun di atas sumber mata air alami yang hingga saat ini masih aktif mengalir. Kompleks petirtaan memiliki kolam utama yang dilengkapi sejumlah pancuran atau jaladwara yang dahulu digunakan sebagai tempat pemandian suci. Berdasarkan data pelestarian situs, di kawasan ini terdapat sedikitnya 12 jaladwara yang menjadi saluran keluarnya air dari mata air utama.

Selain mata air, kawasan petirtaan juga menyimpan sejumlah peninggalan arkeologis berupa arca Dewi Sri yang menjadi ikon situs, arca Kala, fragmen arca kuno, struktur bata kuno, yoni, hingga sumur kuno yang diperkirakan menjadi bagian dari kompleks bangunan pada masa lalu.

Arca Dewi Sri menjadi temuan paling penting karena menunjukkan hubungan situs ini dengan pemujaan terhadap Dewi Sri atau Dewi Laksmi, yang dalam tradisi Hindu-Jawa dikenal sebagai dewi kesuburan, kemakmuran, dan pelindung hasil pertanian. Keberadaan simbol tersebut dinilai sejalan dengan karakter masyarakat Simbatan yang sejak dahulu menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Juru pelihara Petirtaan Dewi Sri, Sumiran, mengatakan mata air yang berada di dalam kompleks situs hingga kini tidak pernah berhenti mengalir meski musim kemarau panjang melanda.

“Air di sini murni dari mata air alami. Saat kemarau panjang pun tetap keluar. Bahkan masyarakat sekitar sering menjadikan kondisi air di petirtaan sebagai patokan untuk mengetahui keadaan sumber air di wilayah desa,” ujarnya.

Menurut Sumiran, keberadaan petirtaan tidak dapat dipisahkan dari tradisi Bersih Desa yang rutin digelar setiap Jumat Pahing bulan Suro. Ritual tersebut menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas keberkahan sumber air yang selama berabad-abad menghidupi warga Simbatan.

Image Not Found
Sumber mata air abadi di situs Petirtaan Dewi Sri. Foto : Kus-Sinergia

Dalam rangkaian ritual itu, masyarakat menguras kolam petirtaan dan menangkap ikan kutuk atau ikan gabus yang hidup di dalamnya. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tayub yang menampilkan Tari Ikan Kutuk, sebuah tradisi yang hanya dapat dijumpai di Simbatan.

“Ikan kutuk ini sudah menjadi bagian dari tradisi sejak zaman nenek moyang. Setiap Bersih Desa ada penarian ikan kutuk yang diiringi gamelan dan waranggana,” kata Sumiran.

Bagi masyarakat Simbatan, ikan kutuk bukan sekadar penghuni kolam petirtaan. Ikan tersebut dipercaya memiliki nilai sakral sehingga tidak boleh diambil sembarangan. Selama bertahun-tahun, warga menjaga keberadaan ikan itu sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dihormati.

Kepercayaan tersebut lahir dari berbagai cerita yang berkembang secara turun-temurun. Salah satunya mengenai warga yang memohon doa dan keberuntungan di kawasan petirtaan sebelum beraktivitas, yang kemudian diyakini memperoleh berkah dalam kehidupannya.

Meski tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, cerita-cerita tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang memperkuat ikatan masyarakat dengan situs bersejarah tersebut. Karena itu, penghormatan terhadap ikan kutuk lebih dimaknai sebagai penghargaan terhadap alam, sumber kehidupan, dan warisan leluhur yang telah dijaga selama ratusan tahun.

Selain memiliki nilai spiritual, Tari Ikan Kutuk juga mengandung pesan sosial dan ekologis. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga sumber mata air, melestarikan lingkungan, serta mempertahankan kebersamaan masyarakat dalam merawat peninggalan sejarah.

Hingga kini, Petirtaan Dewi Sri tetap menjadi salah satu situs bersejarah paling terawat di Magetan. Di tengah derasnya modernisasi, situs ini menjadi pengingat bahwa warisan Mataram Kuno tidak hanya tersimpan dalam bentuk arca dan bangunan kuno, tetapi juga hidup melalui tradisi yang terus dijaga oleh masyarakatnya.

Melalui Petirtaan Dewi Sri dan Tari Ikan Kutuk, warga Simbatan tidak hanya merawat peninggalan masa lalu, tetapi juga menjaga identitas budaya yang menjadi kebanggaan Kabupaten Magetan hingga saat ini. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kompak Gasak Kotak Amal di Ponorogo, Aksi Dua Pelaku Terekam CCTV

    Kompak Gasak Kotak Amal di Ponorogo, Aksi Dua Pelaku Terekam CCTV

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Aksi pencurian kotak amal masjid kembali terjadi di Kabupaten Ponorogo dan viral di media sosial. Dua orang pelaku terekam kamera CCTV saat menguras isi kotak amal Masjid Al Barokah di Desa Ketro, Kecamatan Sawoo. Pelaku diduga merupakan orang yang sama dengan pencuri kotak amal di sejumlah masjid wilayah Kecamatan Jambon. Rekaman […]

    Bagikan
  • Talut Rp. 190 Juta Ambrol, Proyek Belum Selesai dan Petani Terancam Krisis Air

    Talut Rp. 190 Juta Ambrol, Proyek Belum Selesai dan Petani Terancam Krisis Air

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Sebuah talut senilai Rp. 190 juta di Desa Nitikan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, ambrol setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada akhir pekan lalu. Bangunan yang masih dalam tahap pengerjaan itu runtuh sebelum sempat melalui pemeriksaan P-1. Hal itu menimbulkan kekhawatiran terutama bagi petani yang bergantung pada aliran irigasi di kawasan […]

    Bagikan
  • Aksi Pencurian Modus Pecah Kaca Mobil di Pasar Logam Srijaya, Uang Rp. 200 Juta Raib

    Aksi Pencurian Modus Pecah Kaca Mobil di Pasar Logam Srijaya, Uang Rp. 200 Juta Raib

    • calendar_month Jumat, 4 Jul 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Aksi pencurian dengan modus pecah kaca mobil terjadi di Kota Madiun. Kali ini, peristiwa tersebut terjadi di Jalan Imam Bonjol, tepatnya di depan Pasar Logam Srijaya, pada Jumat siang (04/07/2025). Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, kejadian berlangsung sekitar pukul 11.00 WIB. Korban yang diketahui berasal dari Ngawi tengah berada di […]

    Bagikan
  • Kurir Cantik Perkara Narkotika 1 Kg Hadapi Tuntutan 17 Tahun Penjara

    Kurir Cantik Perkara Narkotika 1 Kg Hadapi Tuntutan 17 Tahun Penjara

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun — Seorang perempuan berinisial IIR (41), warga Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun, harus menghadapi tuntutan berat atas keterlibatan dalam jaringan peredaran narkotika lintas daerah. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kabupaten Madiun menuntut terdakwa dengan hukuman penjara selama 17 tahun atas perannya sebagai kurir narkoba. Tuntutan tersebut dibacakan dalam sidang di […]

    Bagikan
  • Revitalisasi Alun-Alun dan Pasar Kawak Jadi Fokus Pemkot Madiun, Drainase hingga Penataan PKL Dibenahi

    Revitalisasi Alun-Alun dan Pasar Kawak Jadi Fokus Pemkot Madiun, Drainase hingga Penataan PKL Dibenahi

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Alun-Alun Kota Madiun bakal mendapatkan sentuhan revitalisasi dari Pemerintah Kota Madiun. Hal itu ditegaskan Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun usai melakukan pengecekan langsung pada Jumat (29/5/2026) bersama Sekda dan OPD terkait. Tidak hanya alun-alun, Pasar Kawak di Jalan Kutai juga direncanakan untuk dibenahi. Bagus menegaskan pembenahan kawasan Alun-Alun […]

    Bagikan
  • Pemkot Madiun Dukung Geliat UMKM dan Ekraf, Support Sektor Pariwisata

    Pemkot Madiun Dukung Geliat UMKM dan Ekraf, Support Sektor Pariwisata

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Pemerintah Kota Madiun terus memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor ekonomi kreatif (Ekraf) sebagai penopang pengembangan pariwisata daerah. Plt Wali Kota Madiun, F Bagus Panuntun, bersama jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) meninjau sejumlah pelaku UMKM dan ekonomi kreatif (ekraf) di Kota Madiun, Kamis (9/7/2026). Kunjungan tersebut […]

    Bagikan
expand_less