Berita Terkini
Trending Tags

Menilik Petirtaan Dewi Sri Simbatan, Jejak Peradaban Mataram Kuno yang Masih Lestari

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 241
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Petirtaan Dewi Sri jadi pusat tradisi masyarakat. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Di tengah hamparan persawahan Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, berdiri sebuah situs kuno yang hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Petirtaan Dewi Sri bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga pusat tradisi budaya yang terus diwariskan lintas generasi melalui ritual Bersih Desa dan Tari Ikan Kutuk.

Situs yang kerap disebut Candi Simbatan oleh masyarakat setempat ini diyakini berasal dari masa akhir Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-10 Masehi. Keberadaannya menjadi salah satu bukti pengaruh peradaban Hindu di wilayah lereng timur Gunung Lawu yang kini masuk Kabupaten Magetan.

Petirtaan Dewi Sri dibangun di atas sumber mata air alami yang hingga saat ini masih aktif mengalir. Kompleks petirtaan memiliki kolam utama yang dilengkapi sejumlah pancuran atau jaladwara yang dahulu digunakan sebagai tempat pemandian suci. Berdasarkan data pelestarian situs, di kawasan ini terdapat sedikitnya 12 jaladwara yang menjadi saluran keluarnya air dari mata air utama.

Selain mata air, kawasan petirtaan juga menyimpan sejumlah peninggalan arkeologis berupa arca Dewi Sri yang menjadi ikon situs, arca Kala, fragmen arca kuno, struktur bata kuno, yoni, hingga sumur kuno yang diperkirakan menjadi bagian dari kompleks bangunan pada masa lalu.

Arca Dewi Sri menjadi temuan paling penting karena menunjukkan hubungan situs ini dengan pemujaan terhadap Dewi Sri atau Dewi Laksmi, yang dalam tradisi Hindu-Jawa dikenal sebagai dewi kesuburan, kemakmuran, dan pelindung hasil pertanian. Keberadaan simbol tersebut dinilai sejalan dengan karakter masyarakat Simbatan yang sejak dahulu menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Juru pelihara Petirtaan Dewi Sri, Sumiran, mengatakan mata air yang berada di dalam kompleks situs hingga kini tidak pernah berhenti mengalir meski musim kemarau panjang melanda.

“Air di sini murni dari mata air alami. Saat kemarau panjang pun tetap keluar. Bahkan masyarakat sekitar sering menjadikan kondisi air di petirtaan sebagai patokan untuk mengetahui keadaan sumber air di wilayah desa,” ujarnya.

Menurut Sumiran, keberadaan petirtaan tidak dapat dipisahkan dari tradisi Bersih Desa yang rutin digelar setiap Jumat Pahing bulan Suro. Ritual tersebut menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas keberkahan sumber air yang selama berabad-abad menghidupi warga Simbatan.

Image Not Found
Sumber mata air abadi di situs Petirtaan Dewi Sri. Foto : Kus-Sinergia

Dalam rangkaian ritual itu, masyarakat menguras kolam petirtaan dan menangkap ikan kutuk atau ikan gabus yang hidup di dalamnya. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tayub yang menampilkan Tari Ikan Kutuk, sebuah tradisi yang hanya dapat dijumpai di Simbatan.

“Ikan kutuk ini sudah menjadi bagian dari tradisi sejak zaman nenek moyang. Setiap Bersih Desa ada penarian ikan kutuk yang diiringi gamelan dan waranggana,” kata Sumiran.

Bagi masyarakat Simbatan, ikan kutuk bukan sekadar penghuni kolam petirtaan. Ikan tersebut dipercaya memiliki nilai sakral sehingga tidak boleh diambil sembarangan. Selama bertahun-tahun, warga menjaga keberadaan ikan itu sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dihormati.

Kepercayaan tersebut lahir dari berbagai cerita yang berkembang secara turun-temurun. Salah satunya mengenai warga yang memohon doa dan keberuntungan di kawasan petirtaan sebelum beraktivitas, yang kemudian diyakini memperoleh berkah dalam kehidupannya.

Meski tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, cerita-cerita tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang memperkuat ikatan masyarakat dengan situs bersejarah tersebut. Karena itu, penghormatan terhadap ikan kutuk lebih dimaknai sebagai penghargaan terhadap alam, sumber kehidupan, dan warisan leluhur yang telah dijaga selama ratusan tahun.

Selain memiliki nilai spiritual, Tari Ikan Kutuk juga mengandung pesan sosial dan ekologis. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga sumber mata air, melestarikan lingkungan, serta mempertahankan kebersamaan masyarakat dalam merawat peninggalan sejarah.

Hingga kini, Petirtaan Dewi Sri tetap menjadi salah satu situs bersejarah paling terawat di Magetan. Di tengah derasnya modernisasi, situs ini menjadi pengingat bahwa warisan Mataram Kuno tidak hanya tersimpan dalam bentuk arca dan bangunan kuno, tetapi juga hidup melalui tradisi yang terus dijaga oleh masyarakatnya.

Melalui Petirtaan Dewi Sri dan Tari Ikan Kutuk, warga Simbatan tidak hanya merawat peninggalan masa lalu, tetapi juga menjaga identitas budaya yang menjadi kebanggaan Kabupaten Magetan hingga saat ini. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Desil Warga Kota Madiun Tiba-Tiba Berubah, Ini Penyebab dan Cara Mengajukan Perubahan Data

    Desil Warga Kota Madiun Tiba-Tiba Berubah, Ini Penyebab dan Cara Mengajukan Perubahan Data

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Sinergia  | Kota Madiun — Perubahan desil masyarakat di Kota Madiun memicu kebingungan dan keluhan warga, terutama mereka yang merasa posisi desil tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebenarnya. Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun kini menindaklanjuti persoalan tersebut melalui pemutakhiran dan verifikasi data. Hal itu ditegaskan Plt Wali Kota Madiun […]

    Bagikan
  • Belum Ada Kantor Haji di Ponorogo, Pelayanan Tetap di Bawah Kemenag

    Belum Ada Kantor Haji di Ponorogo, Pelayanan Tetap di Bawah Kemenag

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Meski Presiden Prabowo Subianto telah melantik Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan sebagai Menteri Haji dan Umrah pada Senin (08/09/2025) lalu, urusan penyelenggaraan haji di Ponorogo hingga kini masih sepenuhnya ditangani oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag). Kepala Kantor Kemenag Ponorogo, Nurul Huda, menegaskan pelayanan haji tahun 2026 tetap berjalan normal di […]

    Bagikan
  • Polres Madiun Kota Gelar Apel Pasukan Operasi Zebra Semeru 2025

    Polres Madiun Kota Gelar Apel Pasukan Operasi Zebra Semeru 2025

    • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Polres Madiun Kota menggelar Apel Pasukan dalam rangka Operasi Zebra Semeru 2025 di halaman Mapolres Madiun Kota, Senin (17/11/2025). Apel dipimpin langsung Kapolres Madiun Kota, AKBP Wiwin Junianto Supriyadi, dan diikuti jajaran PJU Polres, Kapolsek se-Kota Madiun, personel TNI–Polri, Satpol PP, serta Dinas Perhubungan Kota Madiun. Dengan mengusung tema “Terwujudnya […]

    Bagikan
  • BRIN Teliti Penyakit Murine Typhus di Kota Madiun, Deteksi Dini Lewat Sampel Tikus

    BRIN Teliti Penyakit Murine Typhus di Kota Madiun, Deteksi Dini Lewat Sampel Tikus

    • calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian lapangan di wilayah permukiman Kota Madiun/ seperti di Jalan Pucang Wangi, Kelurahan Manisrejo. Penelitian tersebut berfokus pada deteksi dini keberadaan kuman atau bakteri Rickettsia typhi yang dapat menyebabkan penyakit Murine typhus atau demam kucing pada manusia. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel […]

    Bagikan
  • Ular Berbisa Masuk Rumah Warga Pulung, Damkar Evakuasi Dini Hari

    Ular Berbisa Masuk Rumah Warga Pulung, Damkar Evakuasi Dini Hari

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Ponorogo mengevakuasi seekor ular berbisa yang masuk ke rumah warga di Desa Wotan, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, Kamis (22/1/2025) dini hari. Laporan diterima sekitar pukul 02.20 WIB. Ular yang masuk ke rumah tersebut diketahui merupakan jenis banjang taring (Boiga Cynodon), dengan panjang sekitar dua meter. […]

    Bagikan
  • Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Terminal Purboyo Madiun Dipadati Ribuan Penumpang photo_camera 2

    Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Terminal Purboyo Madiun Dipadati Ribuan Penumpang

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Terminal Tipe A Purboyo Madiun sudah dipadati penumpang arus balik sejak H+1 atau pada 22 Maret 2026. Terpantau pada H+4 lebaran atau Kamis (25/3/2026) ini, kepadatan penumpang terlihat di area peron bus maupun ruang tunggu terminal. Bahkan, kedatangan bus pun langsung diserbu para penumpang untuk mendapatkan tempat. Kepala Satuan Pelaksana […]

    Bagikan
expand_less