Minggu, 8 Nov 2026
Trending Tags

Menilik Petirtaan Dewi Sri Simbatan, Jejak Peradaban Mataram Kuno yang Masih Lestari

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 365
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Petirtaan Dewi Sri jadi pusat tradisi masyarakat. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Di tengah hamparan persawahan Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, berdiri sebuah situs kuno yang hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Petirtaan Dewi Sri bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga pusat tradisi budaya yang terus diwariskan lintas generasi melalui ritual Bersih Desa dan Tari Ikan Kutuk.

Situs yang kerap disebut Candi Simbatan oleh masyarakat setempat ini diyakini berasal dari masa akhir Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-10 Masehi. Keberadaannya menjadi salah satu bukti pengaruh peradaban Hindu di wilayah lereng timur Gunung Lawu yang kini masuk Kabupaten Magetan.

Petirtaan Dewi Sri dibangun di atas sumber mata air alami yang hingga saat ini masih aktif mengalir. Kompleks petirtaan memiliki kolam utama yang dilengkapi sejumlah pancuran atau jaladwara yang dahulu digunakan sebagai tempat pemandian suci. Berdasarkan data pelestarian situs, di kawasan ini terdapat sedikitnya 12 jaladwara yang menjadi saluran keluarnya air dari mata air utama.

Selain mata air, kawasan petirtaan juga menyimpan sejumlah peninggalan arkeologis berupa arca Dewi Sri yang menjadi ikon situs, arca Kala, fragmen arca kuno, struktur bata kuno, yoni, hingga sumur kuno yang diperkirakan menjadi bagian dari kompleks bangunan pada masa lalu.

Arca Dewi Sri menjadi temuan paling penting karena menunjukkan hubungan situs ini dengan pemujaan terhadap Dewi Sri atau Dewi Laksmi, yang dalam tradisi Hindu-Jawa dikenal sebagai dewi kesuburan, kemakmuran, dan pelindung hasil pertanian. Keberadaan simbol tersebut dinilai sejalan dengan karakter masyarakat Simbatan yang sejak dahulu menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Juru pelihara Petirtaan Dewi Sri, Sumiran, mengatakan mata air yang berada di dalam kompleks situs hingga kini tidak pernah berhenti mengalir meski musim kemarau panjang melanda.

“Air di sini murni dari mata air alami. Saat kemarau panjang pun tetap keluar. Bahkan masyarakat sekitar sering menjadikan kondisi air di petirtaan sebagai patokan untuk mengetahui keadaan sumber air di wilayah desa,” ujarnya.

Menurut Sumiran, keberadaan petirtaan tidak dapat dipisahkan dari tradisi Bersih Desa yang rutin digelar setiap Jumat Pahing bulan Suro. Ritual tersebut menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas keberkahan sumber air yang selama berabad-abad menghidupi warga Simbatan.

Image Not Found
Sumber mata air abadi di situs Petirtaan Dewi Sri. Foto : Kus-Sinergia

Dalam rangkaian ritual itu, masyarakat menguras kolam petirtaan dan menangkap ikan kutuk atau ikan gabus yang hidup di dalamnya. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tayub yang menampilkan Tari Ikan Kutuk, sebuah tradisi yang hanya dapat dijumpai di Simbatan.

“Ikan kutuk ini sudah menjadi bagian dari tradisi sejak zaman nenek moyang. Setiap Bersih Desa ada penarian ikan kutuk yang diiringi gamelan dan waranggana,” kata Sumiran.

Bagi masyarakat Simbatan, ikan kutuk bukan sekadar penghuni kolam petirtaan. Ikan tersebut dipercaya memiliki nilai sakral sehingga tidak boleh diambil sembarangan. Selama bertahun-tahun, warga menjaga keberadaan ikan itu sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dihormati.

Kepercayaan tersebut lahir dari berbagai cerita yang berkembang secara turun-temurun. Salah satunya mengenai warga yang memohon doa dan keberuntungan di kawasan petirtaan sebelum beraktivitas, yang kemudian diyakini memperoleh berkah dalam kehidupannya.

Meski tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, cerita-cerita tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang memperkuat ikatan masyarakat dengan situs bersejarah tersebut. Karena itu, penghormatan terhadap ikan kutuk lebih dimaknai sebagai penghargaan terhadap alam, sumber kehidupan, dan warisan leluhur yang telah dijaga selama ratusan tahun.

Selain memiliki nilai spiritual, Tari Ikan Kutuk juga mengandung pesan sosial dan ekologis. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga sumber mata air, melestarikan lingkungan, serta mempertahankan kebersamaan masyarakat dalam merawat peninggalan sejarah.

Hingga kini, Petirtaan Dewi Sri tetap menjadi salah satu situs bersejarah paling terawat di Magetan. Di tengah derasnya modernisasi, situs ini menjadi pengingat bahwa warisan Mataram Kuno tidak hanya tersimpan dalam bentuk arca dan bangunan kuno, tetapi juga hidup melalui tradisi yang terus dijaga oleh masyarakatnya.

Melalui Petirtaan Dewi Sri dan Tari Ikan Kutuk, warga Simbatan tidak hanya merawat peninggalan masa lalu, tetapi juga menjaga identitas budaya yang menjadi kebanggaan Kabupaten Magetan hingga saat ini. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suara Knalpot Brong di Jalur Sarangan–Cemorosewu Dikeluhkan Wisatawan

    Suara Knalpot Brong di Jalur Sarangan–Cemorosewu Dikeluhkan Wisatawan

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Magetan – Suasana jalur tembus Sarangan–Cemorosewu, Jawa Timur, berubah drastis pada akhir pekan ini. Biasanya tenang, rute menuju kawasan wisata alam tersebut dipenuhi deru ratusan hingga ribuan motor dua-tak (2-stroke) yang mengikuti Kopdar Camp 78. Alih-alih membawa kesan meriah, kebisingan suara knalpot justru memicu keresahan. Wisatawan asal Solo, Hariyadi, yang sedang menuju […]

    Bagikan
  • Emil Dardak : Iuran Komite Sekolah Jangan Jadi Beban Wali Murid

    Emil Dardak : Iuran Komite Sekolah Jangan Jadi Beban Wali Murid

    • calendar_month Selasa, 26 Agt 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, menegaskan bahwa iuran komite sekolah tidak boleh berubah menjadi pungutan wajib yang justru membebani keluarga siswa. Pernyataan itu disampaikan Emil saat menghadiri kegiatan di Magetan, Senin (25/08/2025). Emil menilai, persoalan utama bukan pada keberadaan iuran komite, melainkan perasaan sebagian orang tua yang merasa tersisih […]

    Bagikan
  • Monumen Lokomotif Segera Dipasang, Penataan Kawasan Stasiun Magetan Hampir Rampung

    Monumen Lokomotif Segera Dipasang, Penataan Kawasan Stasiun Magetan Hampir Rampung

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 388
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Pemerintah Kabupaten Magetan terus menyempurnakan penataan kawasan depan Stasiun Magetan dengan menghadirkan monumen lokomotif sebagai ikon baru daerah. Proyek yang dikerjakan secara bertahap itu kini memasuki tahap lanjutan setelah sebelumnya akses jalan, trotoar, hingga area depan stasiun selesai dibangun dan mulai difungsikan. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan, […]

    Bagikan
  • Banyak yang Ingin Adopsi, Bayi yang Dibuang di Sawah Bakal Dirawat Pihak Keluarga

    Banyak yang Ingin Adopsi, Bayi yang Dibuang di Sawah Bakal Dirawat Pihak Keluarga

    • calendar_month Sabtu, 19 Apr 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Harapan puluhan calon orang tua angkat untuk mengadopsi seorang bayi laki-laki yang sempat ditemukan di areal persawahan Desa Sumbergandu, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, akhirnya kandas. Bayi tersebut telah resmi dipulangkan kepada pihak keluarga kandung ibunya di Cilacap, Jawa Tengah. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu sempat menjalani perawatan intensif […]

    Bagikan
  • Sumur Dalam Bertambah, 15 Kelompok Tani di Ponorogo Terima Manfaat IATD

    Sumur Dalam Bertambah, 15 Kelompok Tani di Ponorogo Terima Manfaat IATD

    • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Program Irigasi Air Tanah Dalam (IATD) kembali digulirkan di Kabupaten Ponorogo tahun ini. Sebanyak 15 kelompok tani (poktan) ditetapkan sebagai penerima manfaat, dengan alokasi anggaran bervariasi sesuai kondisi lapangan. Poktan Margo Utomo di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, menjadi salah satu penerima. Lokasi yang berada di medan sulit membuat anggaran yang dikucurkan […]

    Bagikan
  • Ribuan Warga PSHT Pusat Madiun Bakal Berkumpul di Padepokan Agung, Ini Agenda dan Skema Pengamanannya

    Ribuan Warga PSHT Pusat Madiun Bakal Berkumpul di Padepokan Agung, Ini Agenda dan Skema Pengamanannya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 829
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Ribuan warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun diperkirakan akan memadati Padepokan Agung di Jalan Merak Kota Madiun dalam waktu dekat ini. Kegiatan tersebut dikemas dalam apel siaga sekaligus deklarasi dukungan loyalis terhadap kepengurusan R. Moerjoko sebagai Ketua Umum PSHT Pusat Madiun. Rencana kegiatan ini mengemuka dalam rapat koordinasi […]

    Bagikan
expand_less