Perhutani KPH Lawu Ds Bersama TNI, Polri, BPBD dan Warga Bangun Ilaran 4,5 Kilometer Cegah Karhutla di Gunung Lawu
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 41
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Mengantisipasi meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu Ds menggandeng TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, dan warga melakukan aksi mitigasi di kawasan hutan Gunung Lawu masuk wilayah BKPH (Bagian Kesatuan Pemangku Hutan) Lawu Selatan, jalur pendakian Cemoro Sewu, Kabupaten Magetan.
Sebanyak sekitar 125 personel diterjunkan dalam kegiatan tersebut untuk membuat ilaran atau sekat bakar sepanjang kurang lebih 4,5 kilometer. Ilaran berfungsi sebagai jalur pemutus api guna menghambat penyebaran kebakaran apabila sewaktu-waktu terjadi karhutla di kawasan hutan pegunungan.
Wakil Administratur KPH Lawu Ds, Hermawan, mengatakan langkah ini merupakan bentuk mitigasi dini menyusul prediksi musim kemarau yang lebih panjang berdasarkan informasi dari BMKG. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko kebakaran hutan, terutama di kawasan Gunung Lawu yang didominasi vegetasi mudah terbakar.
“Kegiatan hari ini merupakan mitigasi awal untuk mengantisipasi kebakaran hutan. Bersama Masyarakat Peduli Api, Polres, Kodim, BPBD, dan masyarakat kami membuat ilaran sebagai pemutus api apabila terjadi kebakaran,” ujarnya.
Hermawan menjelaskan, pengalaman kebakaran hebat pada tahun 2023 menjadi pelajaran penting. Saat itu, api tidak hanya menghanguskan kawasan hutan, tetapi juga merusak jaringan pipa yang mengalirkan air dari sumber mata air pegunungan kepada masyarakat.
Karena itu, seluruh elemen yang terlibat kini bergotong royong mengamankan kawasan mulai dari sumber mata air hingga jalur distribusi air agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Pembuatan ilaran dibagi menjadi tiga kelompok kerja. Masing-masing kelompok mengerjakan jalur sepanjang sekitar 1,3 kilometer, sementara salah satu sektor terpanjang membentang dari titik penampungan air menuju Pos 2 Cemoro Sewu.

Selain melakukan mitigasi fisik, Perhutani juga memperketat edukasi kepada para pendaki Gunung Lawu. Meski aktivitas pendakian melalui jalur Cemoro Sewu saat ini tidak terlalu ramai, petugas tetap mengingatkan seluruh pendaki agar tidak menyalakan api untuk menghangatkan tubuh selama berada di kawasan hutan.
Imbauan tersebut dinilai penting karena vegetasi di kawasan Gunung Lawu didominasi ilalang, tanaman kerinyu, dan hutan cemara. Dari ketiga jenis vegetasi tersebut, pohon cemara menjadi yang paling berisiko karena apabila terbakar membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.
“Saat ini kondisi kerinyu masih hijau. Harapannya vegetasi tetap bertahan hingga musim hujan datang sehingga risiko kebakaran dapat ditekan,” kata Hermawan.
Sebagai langkah lanjutan, Perhutani memastikan patroli gabungan akan dilakukan secara rutin selama musim kemarau. Patroli melibatkan jajaran Perhutani, Polres Magetan, Kodim 0804 Magetan, BPBD, Masyarakat Peduli Api, relawan Cemoro Sewu, serta masyarakat sekitar kawasan hutan.
Melalui patroli berkala dan penguatan mitigasi sejak dini, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan di Gunung Lawu dapat dicegah sehingga kelestarian ekosistem, sumber mata air, serta keselamatan masyarakat dan pendaki tetap terjaga sepanjang musim kemarau 2026. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez




