Berebut Uang Koin di Grebeg Maulid, Tradisi Warga Kedondong Madiun yang Bertahan Lintas Generasi
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 63
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Ratusan warga memadati halaman rumah sesepuh Dusun Sukorejo, Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Selasa (25/8/2026). Mereka antusias mengikuti tradisi Grebeg Maulid dengan berebut uang koin yang disebar serta gunungan jajan.
Tradisi tahunan ini digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Warga dari berbagai kalangan bahkan rela datang dari desa-desa sekitar hingga wilayah Magetan demi menyaksikan dan mengikuti prosesi sebar udikan.
Sejak siang, warga Dusun Sukorejo membawa buceng atau tumpeng menuju rumah salah satu sesepuh desa. Rangkaian acara diawali dengan selamatan, doa bersama, pembacaan Kitab Barzanji, serta lantunan sholawat yang diiringi kesenian tradisional Gembrung.
Setelah sholawat dilantunkan, suasana berubah riuh. Warga mulai memadati area prosesi untuk menunggu uang koin disebarkan oleh keturunan leluhur desa. Bersamaan dengan itu, gunungan jajan juga dibagikan kepada masyarakat.
Bagi warga, uang koin yang diperebutkan bukan sekadar memiliki nilai nominal. Tradisi tersebut diyakini sebagai simbol sedekah dan harapan memperoleh keberkahan dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Salah seorang warga, Nafi’atul Mu’awanah, mengaku sudah empat kali mengikuti tradisi tersebut setelah diajak keluarganya.
“Sudah empat tahun ini saya diajak saudara ke sini. Ramai sekali. Tadi saya juga mengajak saudara. Filosofinya mereka berbagi keberkahan Maulid atau bersedekah. Kita berharap apa yang didapat di sini juga membawa berkah dari acara Maulid ini,” ujar Nafi’atul.
Tokoh masyarakat Desa Kedondong, Sudarmoko, mengatakan tradisi Grebeg Maulid telah berlangsung secara turun-temurun. Tradisi tersebut diyakini berasal dari Keraton Pakubuwono di Solo yang kemudian dibawa oleh leluhur Desa Kedondong, Eyang Ali Muntohar alias Jayang Sari.
Seiring waktu, tradisi tersebut terus dijaga masyarakat dan berkembang menjadi ritual tahunan yang dikenal sebagai Grebeg Maulid atau sebar udikan.
“Rangkaian acara diawali kesenian Gembrung dan pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kemudian dilanjutkan pembagian gunungan jajan dan sebar uang koin dari hasil sedekah keturunan Eyang Ali Muntohar. Setelah itu ditutup dengan selamatan dan doa bersama,” kata Sudarmoko.
Menurut pria berusia 66 tahun itu, uang koin yang disebar merupakan bentuk sedekah dari warga sekitar dan keluarga besar Eyang Ali Muntohar. Jumlah uang yang disebarkan dalam tradisi tersebut bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Sudarmoko menambahkan, tradisi Grebeg Maulid tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang diyakini membawa keberkahan bagi masyarakat.
Tujuan utama pelaksanaan tradisi tersebut, kata dia, adalah memohon keberkahan kepada Allah SWT sekaligus mengharap syafaat Nabi Muhammad SAW.
Bagi warga Desa Kedondong, Grebeg Maulid menjadi tradisi yang wajib digelar setiap tahun. Masyarakat setempat bahkan memiliki keyakinan tersendiri bahwa tradisi tersebut tidak boleh ditinggalkan karena telah menjadi bagian dari warisan leluhur.
Di tengah perkembangan zaman, antusiasme masyarakat terhadap tradisi sebar udikan justru tidak surut. Riuh warga yang berebut uang koin dan gunungan jajan menjadi bukti bahwa perpaduan antara peringatan Maulid Nabi dan tradisi lokal itu masih bertahan hingga kini. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez



