Mengintip Keseruan Para Remaja Bermain Layangan Aduan di Ponorogo
- account_circle Ega Patria
- calendar_month Senin, 30 Jun 2025
- visibility 33
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kab. Ponorogo – Libur sekolah menjadi momen yang dimanfaatkan anak-anak dan remaja di Ponorogo untuk bermain layangan aduan. Setiap sore, Lapangan Panahan Suromenggolo dipenuhi belasan warga yang memainkan permainan tradisional ini. Meski terkesan jadul, layangan aduan rupanya masih menjadi primadona, terutama di kalangan kawula muda.
Permainan layangan aduan atau yang dikenal dengan istilah “layangan sukoi”, dimainkan dengan cara menerbangkan layangan lalu saling mengadu benang hingga salah satu putus di udara. Ketangkasan dan kejelian membaca arah angin menjadi kunci kemenangan. Layangan yang bertahan di langit dan berhasil memutuskan benang lawan, dinyatakan sebagai juara.
Ardi Laksono, salah satu pemain layangan, mengungkapkan permainan ini menjadi agenda tahunan saat musim kemarau tiba.
“Anak-anak dan remaja biasanya sudah tahu, kalau liburan datang waktunya bermain layangan. Ini bukan sekadar permainan, tapi juga tradisi,” ujarnya.
Dalam sehari, seorang pemain bisa menghabiskan enam hingga lima belas layangan.
“Kadang nggak terasa, mulai dari jam empat sore sampai magrib, bisa habis lebih dari 10 layangan karena lawannya banyak. Apalagi kalau sudah kalah, jadi penasaran pengen balas,” tambah Ardi.
Tak hanya para pemain, anak-anak lain juga turut meramaikan suasana dengan berburu layangan putus. Rafael Pratama, seorang pemburu layangan, mengaku telah mengumpulkan sekitar 15 buah layangan hanya dalam satu sore.
“Ini buat diadu lagi, bukan dijual. Seru aja kejar-kejaran layangan yang jatuh,” katanya antusias.
Permainan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menuntut biaya. Harga benang layangan khusus aduan bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Bahan benang dan teknik pembuatan yang khusus bertujuan agar tidak mudah putus saat bertarung di udara.
Sony Dwi Prastyo, warga lainnya, mengajak anak-anaknya bermain layangan sebagai alternatif hiburan selama libur sekolah.
“Daripada main gadget terus, mending ke sini sore-sore. Bisa olahraga, ketemu teman-teman, dan tetap menjaga tradisi,” ujarnya.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa di tengah gempuran permainan digital, layangan aduan tetap punya tempat di hati masyarakat. Tradisi yang sederhana namun sarat makna, mengajarkan sportivitas, kesabaran, dan semangat kebersamaan di antara generasi muda Ponorogo.
Ega Patria – Sinergia
- Penulis: Ega Patria


