Aksi May Day 2026 di Kota Madiun, Buruh Soroti Kesenjangan Upah hingga Tarif Ojol
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 42
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Puluhan buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Madiun Raya (SBMR) menggelar aksi peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada Jumat (1/5/2026) di Alun-alun Kota Madiun. Aksi berlangsung dengan pengawalan ketat dari personel Polres Madiun Kota dan TNI.
Momentum Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei memang menjadi ajang bagi pekerja untuk menyuarakan tuntutan terkait kesejahteraan dan hak ketenagakerjaan.
Koordinator SBMR, Aris Budiono, menyampaikan sejumlah tuntutan yang mencakup isu nasional, regional, hingga lokal. Pada level nasional, pihaknya menyoroti kesenjangan upah antarwilayah yang dinilai sangat timpang.
“Isu nasional kami sama, yakni ‘sama merek, sama kerja, sama upah’. Disparitas upah antara wilayah ring satu dengan Madiun sangat tinggi,” ujarnya.
Ia mencontohkan perbedaan upah minimum yang mencapai hampir dua kali lipat. “UMK di Madiun sekitar Rp2,5 juta, sementara di Surabaya bisa di atas Rp5 juta. Padahal kebutuhan pokok relatif sama, ini bentuk ketimpangan,” tegasnya.
Selain itu, pada isu regional, SBMR mendesak penerapan tarif angkutan sewa khusus (ojek online) sesuai keputusan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Saat ini, tarif yang diterima pengemudi dinilai masih jauh di bawah ketentuan.
“Pergub sudah menetapkan tarif Rp3.800 per kilometer, tapi di lapangan masih sekitar Rp2.000. Ini merugikan driver,” tambah Aris.
Sementara pada tingkat lokal, buruh juga menyoroti isu kebijakan relokasi pedagang kaki lima (PKL) serta belum diterbitkannya Tanda Daftar Usaha (TDU).
“Kami minta relokasi PKL dihentikan dan Disperindag segera menerbitkan TDU agar ada kepastian usaha,” katanya.
Dalam aksi tersebut, SBMR juga mengkritik perayaan May Day di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, yang dianggap tidak mencerminkan perjuangan buruh.
“Itu bukan perjuangan buruh, tapi justru pesta. Seharusnya fokus pada kesejahteraan buruh,” pungkasnya.
Aksi May Day di Kota Madiun berlangsung tertib tanpa insiden berarti. Aparat keamanan melakukan pengawalan untuk memastikan kegiatan berjalan kondusif. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





