Harga Daging Ayam Naik hingga Rp40 Ribu per Kg, Pedagang Magetan Kehilangan Separuh Penjualan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 68
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Kenaikan harga daging ayam di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir mulai menekan aktivitas perdagangan di Pasar Sayur Magetan. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp33.000 per kilogram kini mencapai Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
Lonjakan harga tersebut berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Pedagang mengaku jumlah ayam yang terjual menurun hingga sekitar separuh dibandingkan kondisi sebelum harga mengalami kenaikan.
Salah satu pedagang daging ayam di Pasar Sayur Magetan, Warsi, mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap hampir setiap hari. Dalam sepekan terakhir, harga dari pemasok disebut naik sekitar Rp1.000 per hari.
“Engga tahu apa penyebabnya, dari bosnya sudah naik terus, kira-kira naiknya per hari itu Rp1.000,” ujar Warsi, Jumat (21/8/2026).
Menurut dia, kenaikan harga tersebut tidak diikuti perubahan signifikan pada pasokan daging ayam di tingkat pedagang. Namun, harga jual yang semakin tinggi membuat konsumen mulai mengurangi jumlah pembelian.
Sebelum harga meningkat, Warsi mengaku dapat menjual sekitar 100 ekor ayam per hari. Kini, penjualan di lapaknya tidak lebih dari 50 ekor ayam dalam sehari.
Kondisi serupa terlihat dari pola belanja pelanggan. Konsumen yang sebelumnya membeli daging ayam dalam jumlah kilogram kini cenderung mengurangi pembelian untuk menyesuaikan pengeluaran rumah tangga maupun kebutuhan usaha.
Bagian dada dan paha masih menjadi pilihan utama konsumen di lapak Warsi. Meski demikian, volume pembelian mengalami penurunan. Pelanggan yang sebelumnya membeli hingga dua kilogram kini hanya membeli satu kilogram atau bahkan setengah kilogram.
“Yang sering dibeli itu dada sama paha, kalau naik kaya gini pembeli itu tetep sering milih bagian itu, tapi ya misal semula beli dua kilo, sekarang cuma sekilo atau setengah kilogram aja,” jelasnya.

Penurunan daya beli tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga pelaku usaha kecil yang menggunakan daging ayam sebagai bahan baku. Salah satunya Rantinah, pembeli yang memanfaatkan daging ayam sebagai isian cilok yang dijualnya.
Rantinah mengatakan biasanya membeli sekitar satu kilogram daging ayam untuk kebutuhan produksi. Namun, kenaikan harga membuat jumlah pembelian harus ditekan menjadi hanya sekitar seperempat kilogram.
“Saya buat cilok isian ayam, biasanya beli sekilo, kaget juga tiap hari kok naiknya Rp1.000, akhirnya ya terpaksa beli seperempat saja, sisanya paling saya isi telur nanti,” kata Rantinah.
Pengurangan penggunaan daging ayam dilakukan agar biaya produksi tidak meningkat terlalu besar. Selain daging, Rantinah masih harus mengalokasikan modal untuk membeli tepung, minyak goreng, dan bahan pendukung lainnya.
“Biar bisa beli bahan-bahan lain seperti tepung, minyak goreng, dan lain-lain,” katanya.
Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang makanan berbasis ayam. Di satu sisi, mereka harus menjaga biaya produksi agar tetap terkendali. Di sisi lain, menaikkan harga jual berisiko menurunkan jumlah pelanggan.
Bagi pedagang daging ayam di pasar, kondisi tersebut turut menekan omzet harian. Sementara bagi konsumen dan pelaku usaha kecil, kenaikan harga memaksa mereka mengurangi volume pembelian atau mencari alternatif bahan untuk mempertahankan pengeluaran tetap sesuai kemampuan.
Jika tren kenaikan berlanjut, tekanan terhadap daya beli masyarakat dan pelaku usaha kuliner berpotensi semakin terasa, terutama bagi usaha kecil yang memiliki margin keuntungan terbatas. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez



