Rabu, 14 Okt 2026
Trending Tags

Rocky Gerung Bedah Marhaenisme di Magetan, Ajak Generasi Muda Bangun Tradisi Berpikir Kritis

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • visibility 226
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Rocky Gerung bedah Marhaenisme di hadapan peserta diskusi. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Gagasan Marhaenisme dinilai tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa di tengah perubahan zaman. Namun, pemikiran yang diwariskan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tidak cukup dipahami sebagai sejarah perjuangan semata, melainkan harus menjadi metode berpikir dalam membaca persoalan sosial, ekonomi, politik, hingga lingkungan yang dihadapi generasi muda saat ini.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Soekarno Talk In yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno. Kegiatan yang dihadiri kader partai, mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum itu menghadirkan filsuf Rocky Gerung, akademisi Universitas Airlangga Erlangga Pribadi Kusman, serta aktivis Kamisan Madiun Haidar Villa sebagai narasumber.

Forum diskusi tersebut sekaligus menjadi ajang bedah buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z”, karya Rocky Gerung bersama Erlangga Pribadi Kusman. Buku itu mencoba menerjemahkan kembali pemikiran Bung Karno agar lebih mudah dipahami dan relevan dengan tantangan yang dihadapi Generasi Z.

Moderator diskusi, Saka Dio Prohansah, mengatakan Soekarno Talk In tidak dimaksudkan untuk membangkitkan romantisme sejarah terhadap Bung Karno. Sebaliknya, forum itu diharapkan menjadi ruang menguji apakah Marhaenisme masih mampu menjadi pijakan dalam menjawab persoalan masyarakat Indonesia saat ini.

“Kita tidak sedang bernostalgia terhadap ajaran Bung Karno. Yang ingin kita lakukan adalah menguji apakah Marhaenisme masih relevan menjadi cara membaca realitas sosial yang terus berubah,” ujarnya.

Akademisi Universitas Airlangga, Erlangga Pribadi Kusman, menjelaskan bahwa lahirnya Marhaenisme tidak terlepas dari kemampuan Bung Karno membaca persoalan konkret yang dihadapi rakyat Indonesia pada masa penjajahan.

Menurutnya, Bung Karno tidak membangun teori berdasarkan konsep-konsep abstrak semata. Ia menyusun gagasan Marhaenisme dari pengalaman nyata masyarakat yang hidup dalam kemiskinan meski memiliki alat produksi sendiri.

“Ketika Bung Karno berbicara tentang Marhaen, beliau sedang berbicara tentang problem yang benar-benar dialami rakyat Indonesia. Karena itu pemikirannya diterima masyarakat,” kata Erlangga.

Ia menambahkan, konteks tersebut harus terus diperbarui sesuai perkembangan zaman. Jika dahulu Marhaen identik dengan petani kecil yang memiliki lahan tetapi tetap miskin, kini sosok tersebut dapat ditemukan pada pekerja sektor digital. Mereka memiliki telepon genggam, sepeda motor, atau perangkat kerja lainnya sebagai alat produksi, tetapi tetap menghadapi ketidakpastian pendapatan dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Selain itu, persoalan lain seperti mahalnya biaya pendidikan, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, ketimpangan sosial, hingga perubahan iklim juga menjadi tantangan baru yang harus dijawab melalui pembaruan cara pandang Marhaenisme.

Sementara itu, Rocky Gerung menilai anggapan bahwa Indonesia sedang mengalami desukarnoisasi kurang tepat. Menurutnya, justru muncul gejala baru berupa meningkatnya minat generasi muda untuk kembali mempelajari pemikiran Bung Karno. Ia mengaku sering menjumpai mahasiswa yang mulai membaca karya-karya pemikir dunia, termasuk tulisan Soekarno, untuk memahami persoalan bangsa.

Karena itu, buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z disusun bukan untuk melawan desukarnoisasi, melainkan sebagai jawaban atas meningkatnya kebutuhan generasi muda terhadap bacaan yang mampu menghubungkan pemikiran Bung Karno dengan situasi kekinian.

“Buku ini bukan dibuat untuk menjawab desukarnoisasi. Justru karena ada gairah baru mempelajari Bung Karno, maka kami mencoba menghadirkan narasi yang relevan dengan kondisi hari ini,” ujar Rocky.

Ia menilai selama ini banyak orang mengenal Bung Karno sebatas sebagai orator ulung. Padahal kekuatan utama Presiden pertama RI itu justru terletak pada kemampuan membangun logika berpikir yang sistematis. Menurut Rocky, setiap pidato Bung Karno lahir dari proses membaca realitas sosial secara mendalam, kemudian diterjemahkan menjadi gagasan politik yang mudah dipahami rakyat.

“Belajar Bung Karno bukan hanya belajar retorika. Yang jauh lebih penting adalah belajar logikanya, cara beliau membangun argumentasi,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Rocky juga mengingatkan pentingnya membangun budaya berpikir kritis di kalangan mahasiswa. Ia menilai gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada aksi demonstrasi atau kritik spontan terhadap pemerintah. Sebaliknya, setiap kritik harus dibangun melalui argumentasi yang kuat agar mampu menawarkan solusi atas persoalan bangsa.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis merupakan warisan utama yang ditinggalkan Bung Karno kepada generasi penerus bangsa.

“Kalau ingin mengkritik pemerintah, bangun dulu argumentasinya. Jangan hanya marah. Marahlah secara akademis,” tegasnya.

Rocky juga mengingatkan bahwa demonstrasi tanpa dasar pemikiran yang kuat berpotensi kehilangan arah dan mudah dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan politik. Karena itu, mahasiswa perlu memperkuat tradisi membaca, berdiskusi, serta mengembangkan analisis terhadap berbagai persoalan publik.

Pandangan serupa disampaikan aktivis Kamisan Madiun, Haidar Villa. Menurutnya, berbagai bentuk eksploitasi masih terjadi hingga sekarang meski wujudnya berbeda dibanding masa kolonial.

Ia mencontohkan persoalan ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, hingga berbagai kebijakan publik yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil. Karena itu, ia menilai Marhaenisme tetap relevan sebagai alat membaca berbagai bentuk ketidakadilan sosial yang dialami masyarakat saat ini.

Haidar juga menyoroti menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa. Kondisi tersebut, menurutnya, harus dijawab melalui gerakan yang konsisten, berbasis data, dan benar-benar memperjuangkan kepentingan publik.

“Kita tidak bisa memaksa masyarakat percaya. Tetapi kita bisa membangun kepercayaan itu melalui kerja nyata dan gerakan yang berpihak kepada rakyat,” ujarnya.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta memanfaatkan sesi tanya jawab untuk mengangkat isu komunikasi pemerintah, demokrasi, hingga masa depan gerakan mahasiswa.

Menutup kegiatan, para narasumber sepakat bahwa ruang-ruang diskusi intelektual seperti Soekarno Talk In perlu terus diperbanyak, terutama di kalangan generasi muda. Forum tersebut dinilai penting untuk membangun tradisi berpikir kritis sekaligus menjaga agar pemikiran Bung Karno tidak berhenti sebagai dokumen sejarah, melainkan terus berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Rocky pun mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang tidak sekadar mampu menghafal slogan perjuangan, tetapi juga memiliki kemampuan membaca realitas secara kritis.

“Gunakan buku ini sebagai tuntunan berpikir. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menghubungkan ide dengan kenyataan, bukan hanya pandai berteriak,” pungkasnya. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dukung Ketahanan Pangan, Pemkab Madiun Gencarkan Program “Satu Rumah Satu Pohon”

    Dukung Ketahanan Pangan, Pemkab Madiun Gencarkan Program “Satu Rumah Satu Pohon”

    • calendar_month Kamis, 12 Jun 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Pemerintah Kabupaten Madiun terus mendorong pelaksanaan program nasional “Satu Rumah Satu Pohon” sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. Program ini merupakan inisiatif dari Presiden Republik Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan pangan melalui pemanfaatan lahan pekarangan masyarakat. Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menjelaskan bahwa penanaman pohon produktif seperti […]

    Bagikan
  • 58 Pejabat Pemkot Madiun Dirombak, Kasatpol PP jadi Sekretaris Inspektorat

    58 Pejabat Pemkot Madiun Dirombak, Kasatpol PP jadi Sekretaris Inspektorat

    • calendar_month Rabu, 3 Sep 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 388
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Pelantikan 58 pejabat fungsional dan administrator di lingkungan Pemerintah Kota Madiun pada Selasa (03/09/2025) menghadirkan kejutan. Salah satunya, Sunardi Nurcahyono yang sebelumnya menjabat Kasatpol PP dan Damkar kini resmi mengemban amanah sebagai Sekretaris Inspektorat. Terkait hal itu, Wali Kota Madiun, Maidi, menegaskan mutasi tersebut bukanlah bentuk penurunan jabatan. “Pak Nardi […]

    Bagikan
  • Dramatis, BPBD Magetan Evakuasi Kambing Jatuh ke Sumur Tua

    Dramatis, BPBD Magetan Evakuasi Kambing Jatuh ke Sumur Tua

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Magetan – Suasana kepanikan mewarnai Dusun Kedungrejo, Desa Krowe, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, pada Sabtu (27/06/2025) petang. Seekor kambing milik warga tercebur ke dalam sumur tua sedalam 20 meter. Peristiwa itu sontak mengundang perhatian warga dan memaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan turun tangan melakukan evakuasi. Insiden bermula saat Suwarno (43), […]

    Bagikan
  • Penemuan Granat Aktif di Magetan, Diduga Sisa Perang Dunia II

    Penemuan Granat Aktif di Magetan, Diduga Sisa Perang Dunia II

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Warga Desa Pandeyan, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, dikejutkan dengan penemuan sebuah granat fragmentasi yang diduga masih aktif di lokasi proyek pembangunan fasilitas olahraga desa, Rabu (5/8/2026). Benda berbahaya tersebut ditemukan seorang pekerja saat meratakan tanah uruk yang berasal dari bongkaran sebuah rumah lama. Setelah menerima laporan warga, aparat Polsek Maospati bersama […]

    Bagikan
  • Atlet Muda Berlatih Ski Air di Sarangan, Wisatawan Dapat Tontonan Baru

    Atlet Muda Berlatih Ski Air di Sarangan, Wisatawan Dapat Tontonan Baru

    • calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kini memiliki daya tarik baru. Tak hanya menawarkan wisata perahu dan panorama alam pegunungan, telaga andalan Magetan ini mulai diramaikan aktivitas olahraga ski air yang menjadi bagian dari persiapan atlet menuju Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2026 di Ngawi. Di tengah udara sejuk dan hamparan […]

    Bagikan
  • Dana Desa 2026 Turun Drastis, Pembangunan Desa di Magetan Terancam Tertunda

    Dana Desa 2026 Turun Drastis, Pembangunan Desa di Magetan Terancam Tertunda

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 324
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Pengalihan fokus penggunaan Dana Desa tahun 2026 untuk mendukung program prioritas nasional berdampak signifikan bagi pemerintah desa di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Para kepala desa mengaku prihatin lantaran besaran anggaran yang diterima menurun tajam, sehingga berpotensi menghambat pembangunan, khususnya infrastruktur. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Magetan, total pagu […]

    Bagikan
expand_less