Berita Terkini
Trending Tags

Rocky Gerung Bedah Marhaenisme di Magetan, Ajak Generasi Muda Bangun Tradisi Berpikir Kritis

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • visibility 144
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Rocky Gerung bedah Marhaenisme di hadapan peserta diskusi. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Gagasan Marhaenisme dinilai tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa di tengah perubahan zaman. Namun, pemikiran yang diwariskan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tidak cukup dipahami sebagai sejarah perjuangan semata, melainkan harus menjadi metode berpikir dalam membaca persoalan sosial, ekonomi, politik, hingga lingkungan yang dihadapi generasi muda saat ini.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Soekarno Talk In yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno. Kegiatan yang dihadiri kader partai, mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum itu menghadirkan filsuf Rocky Gerung, akademisi Universitas Airlangga Erlangga Pribadi Kusman, serta aktivis Kamisan Madiun Haidar Villa sebagai narasumber.

Forum diskusi tersebut sekaligus menjadi ajang bedah buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z”, karya Rocky Gerung bersama Erlangga Pribadi Kusman. Buku itu mencoba menerjemahkan kembali pemikiran Bung Karno agar lebih mudah dipahami dan relevan dengan tantangan yang dihadapi Generasi Z.

Moderator diskusi, Saka Dio Prohansah, mengatakan Soekarno Talk In tidak dimaksudkan untuk membangkitkan romantisme sejarah terhadap Bung Karno. Sebaliknya, forum itu diharapkan menjadi ruang menguji apakah Marhaenisme masih mampu menjadi pijakan dalam menjawab persoalan masyarakat Indonesia saat ini.

“Kita tidak sedang bernostalgia terhadap ajaran Bung Karno. Yang ingin kita lakukan adalah menguji apakah Marhaenisme masih relevan menjadi cara membaca realitas sosial yang terus berubah,” ujarnya.

Akademisi Universitas Airlangga, Erlangga Pribadi Kusman, menjelaskan bahwa lahirnya Marhaenisme tidak terlepas dari kemampuan Bung Karno membaca persoalan konkret yang dihadapi rakyat Indonesia pada masa penjajahan.

Menurutnya, Bung Karno tidak membangun teori berdasarkan konsep-konsep abstrak semata. Ia menyusun gagasan Marhaenisme dari pengalaman nyata masyarakat yang hidup dalam kemiskinan meski memiliki alat produksi sendiri.

“Ketika Bung Karno berbicara tentang Marhaen, beliau sedang berbicara tentang problem yang benar-benar dialami rakyat Indonesia. Karena itu pemikirannya diterima masyarakat,” kata Erlangga.

Ia menambahkan, konteks tersebut harus terus diperbarui sesuai perkembangan zaman. Jika dahulu Marhaen identik dengan petani kecil yang memiliki lahan tetapi tetap miskin, kini sosok tersebut dapat ditemukan pada pekerja sektor digital. Mereka memiliki telepon genggam, sepeda motor, atau perangkat kerja lainnya sebagai alat produksi, tetapi tetap menghadapi ketidakpastian pendapatan dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Selain itu, persoalan lain seperti mahalnya biaya pendidikan, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, ketimpangan sosial, hingga perubahan iklim juga menjadi tantangan baru yang harus dijawab melalui pembaruan cara pandang Marhaenisme.

Sementara itu, Rocky Gerung menilai anggapan bahwa Indonesia sedang mengalami desukarnoisasi kurang tepat. Menurutnya, justru muncul gejala baru berupa meningkatnya minat generasi muda untuk kembali mempelajari pemikiran Bung Karno. Ia mengaku sering menjumpai mahasiswa yang mulai membaca karya-karya pemikir dunia, termasuk tulisan Soekarno, untuk memahami persoalan bangsa.

Karena itu, buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z disusun bukan untuk melawan desukarnoisasi, melainkan sebagai jawaban atas meningkatnya kebutuhan generasi muda terhadap bacaan yang mampu menghubungkan pemikiran Bung Karno dengan situasi kekinian.

“Buku ini bukan dibuat untuk menjawab desukarnoisasi. Justru karena ada gairah baru mempelajari Bung Karno, maka kami mencoba menghadirkan narasi yang relevan dengan kondisi hari ini,” ujar Rocky.

Ia menilai selama ini banyak orang mengenal Bung Karno sebatas sebagai orator ulung. Padahal kekuatan utama Presiden pertama RI itu justru terletak pada kemampuan membangun logika berpikir yang sistematis. Menurut Rocky, setiap pidato Bung Karno lahir dari proses membaca realitas sosial secara mendalam, kemudian diterjemahkan menjadi gagasan politik yang mudah dipahami rakyat.

“Belajar Bung Karno bukan hanya belajar retorika. Yang jauh lebih penting adalah belajar logikanya, cara beliau membangun argumentasi,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Rocky juga mengingatkan pentingnya membangun budaya berpikir kritis di kalangan mahasiswa. Ia menilai gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada aksi demonstrasi atau kritik spontan terhadap pemerintah. Sebaliknya, setiap kritik harus dibangun melalui argumentasi yang kuat agar mampu menawarkan solusi atas persoalan bangsa.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis merupakan warisan utama yang ditinggalkan Bung Karno kepada generasi penerus bangsa.

“Kalau ingin mengkritik pemerintah, bangun dulu argumentasinya. Jangan hanya marah. Marahlah secara akademis,” tegasnya.

Rocky juga mengingatkan bahwa demonstrasi tanpa dasar pemikiran yang kuat berpotensi kehilangan arah dan mudah dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan politik. Karena itu, mahasiswa perlu memperkuat tradisi membaca, berdiskusi, serta mengembangkan analisis terhadap berbagai persoalan publik.

Pandangan serupa disampaikan aktivis Kamisan Madiun, Haidar Villa. Menurutnya, berbagai bentuk eksploitasi masih terjadi hingga sekarang meski wujudnya berbeda dibanding masa kolonial.

Ia mencontohkan persoalan ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, hingga berbagai kebijakan publik yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil. Karena itu, ia menilai Marhaenisme tetap relevan sebagai alat membaca berbagai bentuk ketidakadilan sosial yang dialami masyarakat saat ini.

Haidar juga menyoroti menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa. Kondisi tersebut, menurutnya, harus dijawab melalui gerakan yang konsisten, berbasis data, dan benar-benar memperjuangkan kepentingan publik.

“Kita tidak bisa memaksa masyarakat percaya. Tetapi kita bisa membangun kepercayaan itu melalui kerja nyata dan gerakan yang berpihak kepada rakyat,” ujarnya.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta memanfaatkan sesi tanya jawab untuk mengangkat isu komunikasi pemerintah, demokrasi, hingga masa depan gerakan mahasiswa.

Menutup kegiatan, para narasumber sepakat bahwa ruang-ruang diskusi intelektual seperti Soekarno Talk In perlu terus diperbanyak, terutama di kalangan generasi muda. Forum tersebut dinilai penting untuk membangun tradisi berpikir kritis sekaligus menjaga agar pemikiran Bung Karno tidak berhenti sebagai dokumen sejarah, melainkan terus berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Rocky pun mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang tidak sekadar mampu menghafal slogan perjuangan, tetapi juga memiliki kemampuan membaca realitas secara kritis.

“Gunakan buku ini sebagai tuntunan berpikir. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menghubungkan ide dengan kenyataan, bukan hanya pandai berteriak,” pungkasnya. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3 Unit Rumah di Perkara Penyalahgunaan PSU Segel Kejaksaan

    3 Unit Rumah di Perkara Penyalahgunaan PSU Segel Kejaksaan

    • calendar_month Rabu, 22 Jan 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Madiun mengambil langkah tegas dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi (Tipikor) prasarana, sarana, utilitas umum (PSU) perumahan puri asri lestari. Rabu (22/1/2025) Korps Adyaksa melakukan penyegelan 3 unit rumah di perumahan yang berada di Jalan Pilang Amd Kelurahan Kanigoro Kecamatan Kartoharjo Kota Madiun. Penyitaan objek itu […]

    Bagikan
  • Cerita Al Arsy, Murid Tunggal Kelas 1 SDN Jalen Ponorogo yang Tak Gentar Sekolah Sendirian

    Cerita Al Arsy, Murid Tunggal Kelas 1 SDN Jalen Ponorogo yang Tak Gentar Sekolah Sendirian

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Al Arsy Al Farizi menjadi satu-satunya siswa baru di SDN Jalen, Kecamatan Balong, Ponorogo. Saat ditemui di hari kedua masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Selasa (15/07/2025), Arsy tampak antusias mengikuti kegiatan bersama kakak kelasnya dalam satu ruang kelas. Tak tampak sedikit pun rasa takut, canggung, atau minder di wajah bocah berusia […]

    Bagikan
  • THR PPPK Paruh Waktu di Magetan Belum Pasti, Ini Penjelasan BPKPD

    THR PPPK Paruh Waktu di Magetan Belum Pasti, Ini Penjelasan BPKPD

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 317
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Ketidakpastian masih menyelimuti nasib Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kabupaten Magetan. Selain sebagian besar menerima gaji di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK), juga belum mendapatkan kejelasan mengenai Tunjangan Hari Raya (THR). Berbeda dengan sejumlah daerah lain yang memastikan PPPK paruh waktu tidak memperoleh THR, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) […]

    Bagikan
  • SDN 01 Balerejo Butuh Sentuhan Dermawan Untuk Perbaiki Gedung Rusak

    SDN 01 Balerejo Butuh Sentuhan Dermawan Untuk Perbaiki Gedung Rusak

    • calendar_month Jumat, 2 Mei 2025
    • account_circle Sinergia Mediatama
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Kado kurang sedap mewarnai peringatan Hari Pendidikan Nasional di bumi kampung pesilat. Potret buram terjadi ketika pelajar dan guru di  SDN 01 Balerejo, Kec Balerejo mengalami cemas. Gedung sekolah rusak parah pada plafon dan atap mulai lapuk. Tentu saja butuh uluran dermawan ketika dinas terkait tidak hadir. “Setiap kali hujan […]

    Bagikan
  • Kesigapan Polres Ponorogo Bantu Kendaraan Pemudik yang Mogok

    Kesigapan Polres Ponorogo Bantu Kendaraan Pemudik yang Mogok

    • calendar_month Jumat, 4 Apr 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Jumlah kendaraan arus balik di wilayah Kabupaten Ponorogo mulai mengalami peningkatan. Personil Polres Ponorogo telah disiagakan di sejumlah titik rawan untuk mengantisipasi kemacetan hingga gangguan lalu lintas. Seperti kesigapan Polres Ponorogo membantu salah satu pemudik yang mengalami mogok kendaraan di jalur protokol Ponorogo–Madiun pada Jumat (04/04/2025). Ismianto, warga Blora Jawa Tengah, […]

    Bagikan
  • Dianggap Rusak Pemandangan, Puluhan Lapak PKL Liar di Ponorogo Dibongkar 

    Dianggap Rusak Pemandangan, Puluhan Lapak PKL Liar di Ponorogo Dibongkar 

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo — Puluhan lapak pedagang kaki lima (PKL) liar di sejumlah ruas jalan protokol dan kawasan kota Ponorogo, Jawa Timur, dibongkar paksa oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Penertiban dilakukan karena lapak-lapak tersebut dinilai melanggar ketertiban umum serta merusak keindahan tata kota. Pembongkaran dilakukan oleh petugas gabungan dari Satpol PP bersama […]

    Bagikan
expand_less