Berita Terkini
Trending Tags

Sepi Pembeli, Penjualan Gerabah Tradisional di Magetan Merosot Saat Bulan Suro

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
  • visibility 142
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Pedagang gerabah Magetan keluhkan sepinya pembeli. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Bulan Suro yang selama ini identik dengan berbagai tradisi adat dan ritual masyarakat Jawa ternyata belum mampu mendongkrak penjualan gerabah tradisional di Kabupaten Magetan. Para pedagang gerabah di kawasan Pasar Sayur Magetan mengaku mengalami penurunan omzet yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pantauan di sejumlah lapak gerabah menunjukkan berbagai produk tradisional seperti ngaron, kendi, hingga kwali kecil masih tersusun rapi. Namun, kondisi pasar tampak jauh lebih sepi. Aktivitas transaksi yang biasanya meningkat menjelang dan selama Bulan Suro kini tidak lagi seramai beberapa tahun lalu.

Salah seorang pedagang gerabah, Jono, mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir penjualan gerabah yang biasanya digunakan untuk kebutuhan tradisi Bulan Suro terus mengalami penurunan. Padahal, momen pergantian tahun Jawa selama ini dikenal sebagai musim ramai bagi para pedagang gerabah.

“Kalau dulu saat Bulan Suro bisa terjual sampai 400 sampai 500 biji. Sekarang paling banyak sekitar 20 biji saja. Jauh sekali bedanya,” ujar Jono.

Menurutnya, menurunnya jumlah pembeli membuat stok gerabah masih banyak tersimpan di lapak. Kondisi tersebut memaksa pedagang mengurangi pasokan dari para pengrajin karena khawatir barang tidak laku terjual.

Meski permintaan menurun, harga gerabah tradisional relatif stabil. Ngaron ukuran besar dijual sekitar Rp20 ribu per buah, sedangkan ukuran kecil dibanderol Rp10 ribu. Untuk kendi, harganya berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per buah, sementara kwali kecil dijual seharga Rp15 ribu.

Jono menilai perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu penyebab utama lesunya penjualan gerabah. Selain semakin banyak warga yang berbelanja secara daring, produk berbahan plastik juga dinilai lebih praktis dan mudah ditemukan di pasaran.

“Sekarang orang banyak yang beli barang lewat online. Selain itu, banyak juga yang beralih ke wadah plastik karena lebih mudah dicari dan dianggap lebih praktis,” katanya.

Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga berpotensi memengaruhi keberlangsungan kerajinan gerabah tradisional yang selama ini menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat. Padahal sejumlah jenis gerabah masih digunakan dalam berbagai ritual adat dan tradisi yang berkaitan dengan Bulan Suro.

Menurunnya minat masyarakat terhadap gerabah tradisional dinilai menjadi tantangan tersendiri di tengah perubahan gaya hidup yang semakin mengutamakan kepraktisan. Jika kondisi ini terus berlangsung, keberadaan produk gerabah dikhawatirkan semakin terpinggirkan oleh produk pabrikan modern.

Para pedagang berharap ada upaya pelestarian dan promosi terhadap produk gerabah lokal agar tetap diminati masyarakat. Selain memiliki nilai fungsi, gerabah juga menyimpan nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

“Harapannya masyarakat masih mau menggunakan gerabah, terutama untuk kebutuhan tradisi. Kalau tidak ada yang membeli, lama-lama kerajinan seperti ini bisa semakin berkurang,” tutur Jono.

Meski menghadapi berbagai tantangan, para pedagang tetap optimistis gerabah tradisional memiliki pasar tersendiri. Mereka berharap momentum Bulan Suro dan berbagai kegiatan budaya di Magetan dapat kembali mengangkat minat masyarakat terhadap produk kerajinan lokal sehingga tradisi dan kearifan budaya yang melekat pada gerabah tetap lestari. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Tomat dan Cabai di Kare Pulih Jelang Nataru, Petani Siap Pasok Pasar

    Harga Tomat dan Cabai di Kare Pulih Jelang Nataru, Petani Siap Pasok Pasar

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab.Madiun – Harga sejumlah komoditas hortikultura di Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, kembali merangkak naik setelah sempat jatuh dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan ini membuat petani lebih optimistis memasok kebutuhan pasar menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Salah satu titik produksi berada di lahan seluas sekitar setengah hektare milik BUMDes Desa Kare. Komoditas utama […]

    Bagikan
  • Terpaut 28 Tahun, Kisah Cinta Sisri dan Ahmad Viral di Ponorogo Play Button

    Terpaut 28 Tahun, Kisah Cinta Sisri dan Ahmad Viral di Ponorogo

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 804
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo — Kisah cinta pasangan suami istri asal Kabupaten Ponorogo, Sisri (58) dan Ahmad Suryatna (30), menjadi perbincangan warganet. Pernikahan keduanya viral di media sosial lantaran perbedaan usia yang terpaut hingga 28 tahun. Video prosesi ijab kabul pasangan ini beredar luas setelah Sisri dan Ahmad meresmikan pernikahan secara negara di Kantor Urusan Agama […]

    Bagikan
  • Penjual Sapi Keluhkan Harga Anjlok Dampak PMK

    Penjual Sapi Keluhkan Harga Anjlok Dampak PMK

    • calendar_month Kamis, 2 Jan 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 133
    • 0Komentar

    KAB. MADIUN –  Wabah virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merebak di wilayah Kabupaten Madiun, berdampak pada harga jual sapi di wilayah setempat turun drastis. Pantauan di pasar hewan Desa Muneng kecamatan Pilangkenceng pada Kamis (02/01/2025) aktifitas jual tampak sepi.  Salah seorang pedagang sapi Hari Purwatno (43) dari Desa Pulerejo mengatakan, sepinya aktivitas penjualan sapi […]

    Bagikan
  • Potret Pendidikan di Magetan, Siswa SDN Sumbersawit 3 Magetan Belajar di Teras

    Potret Pendidikan di Magetan, Siswa SDN Sumbersawit 3 Magetan Belajar di Teras

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Keterbatasan sarana prasarana masih menjadi persoalan serius di dunia pendidikan daerah. Hal ini terlihat di SD Negeri Sumbersawit 3, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, di mana puluhan siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di teras sekolah hingga mushola akibat minimnya ruang kelas yang layak. Kondisi tersebut semakin terasa saat pelaksanaan […]

    Bagikan
  • Jembatan Nambak–Bekare Ambrol, Dua Warga Ponorogo Luka photo_camera 3

    Jembatan Nambak–Bekare Ambrol, Dua Warga Ponorogo Luka

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 309
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo — Jembatan penghubung di Desa Nambak, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, ambrol pada Kamis (5/2) dini hari. Ambrolnya jembatan darurat yang telah berusia lebih dari lima tahun itu mengakibatkan dua warga Desa Bekare terjatuh saat melintas dan mengalami luka, salah satunya patah tulang. Peristiwa jembatan roboh terjadi sekitar pukul 01.00 WIB di Dukuh […]

    Bagikan
  • Warga Madiun Jadi Korban Penipuan Jual Beli Gabah, 10 Ton Raib

    Warga Madiun Jadi Korban Penipuan Jual Beli Gabah, 10 Ton Raib

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab.Madiun – Kasus dugaan penipuan pembelian gabah terjadi di Desa Purwosari, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Jumat malam (21/11/2025). Marjoko, anak dari korban bernama Katiyem, membeberkan kronologi lengkap kejadian yang membuat gabah milik ibunya raib dibawa truk tanpa pembayaran. Menurut Marjoko, ibunya dijanjikan transaksi pembelian gabah oleh seseorang yang mengaku bernama Heru. Keduanya sempat […]

    Bagikan
expand_less